KEGEMARAN Nanda Reza Andika pada seni rupa membuatnya mantap membuka usaha jasa desain grafis dan ilustrasi di Tulungagung.
Dari aktivitasnya ini, Nanda Reza Andika mampu menembus pasar internasional, berangkat dari lokalan Tulungagung.
Meski begitu, Nanda Reza Andika menilai ada hal yang harus jadi perhatian agar industri kreatif di Tulungagung tak jalan di tempat.
ADITYA YUDA SETYA PUTRA, Kedungwaru, Radar Tulungagung
Jarum jam menunjukkan pukul 15.00 saat Nanda mengotak-atik desain ilustrasi di layar komputernya. Satu desain harus segera dirampungkan demi memenuhi kebutuhan konsumennya.
Pilihannya untuk menekuni dunia seni ilustrasi dan industri kreatif tidak muncul ujug-ujug. Mulanya, Nanda yang bekerja di Jakarta mulai memperdalam ilmu soal seni grafis dan ilustrasi.
“Hamir enam tahun. terus setelah itu pindah ke Tulungagung sekitar 2019. Baru bikin kantor ini,” kenangnya.
Dia juga menggandeng satu rekannya untuk membangun bisnis jasa desain grafis dan ilustrasi. Karena berlatar belakang sebagai seorang IT, selain mendesain ilustrasi, dia juga berperan sebagai operator web dan media sosial.
Perlahan, dia jajakan portofolio desainnhya ke berbagai platform media. Salah satunya ke layanan marketplace yang berasal dari luar negeri.
Tak disangka, karya-karya Nanda dan rekannya dilirik oleh pasar. “Terus banyak yang tembus, sebenarnya di samping pekerjaan IT capek. Pengin (ingin) desain, malah laku. Yowes (sudah) tak lanjutin juga,” terangnya.
Seluruh proses pemasaran dilakukan secara daring. Dilakukan melalui marketplace dari luar negeri, berbagai medsos, dan web.
Seiring berjalannya waktu, ada banyak klien yang meminta jasanya. Bahkan, tak jarang pula klien memilih untuk kembali memesan karya seni dari Nanda.
“Kalau yang sering akhir-akhir ini lagi banyak repeat order itu dari Inggris sama dari Amerika Serikat (AS). Iya, hampir semua (negara) pernah, sampai lupa dari mana saja,” kata laki-laki yang tinggal di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru ini lantas terkekeh.
Meski begitu, Nanda mengatakan, pekerjaan sebagai pelaku seni di industri kreatif tak selamanya mulus. Ada kalanya dia “panen” pesanan pelanggan, kadang pula tak ada pesanan yang masuk dalam satu waktu.
“Gak menentu. Kadang sepi, kadang ramai. Saya sekarang jual jasa per project. Konsepnya ada orang menggunakan jasaku, baru saya kerja. Itu terasa banget,” kata pria 34 tahun ini.
Itu sebabnya Nanda berencana menjual karya-karya di platform web jual-beli karya seni visual. Dia berharap hal ini bisa berdampak positif dari segi ekonomi.
“Kadang pas sepi rodok keroso (agak terasa dampaknya). Rencanaku mau jualan aset digita di Freepik. Jadi saat project sepi, ase masih ada passive income,” bebernya.
Di sisi lain, dia merasa kesejahteraan para pelaku seni di industri kreatif di Tulungagung masih perlu perhatian khusus. Itu sebabnya dia berpesan bagi para pelaku jasa desain grafis dan ilustrasi banyak belajar dan jeli membaca pasar.
Itu penting untuk memastikan usaha atau bisnis yang dijalankan tetap bisa berjalan baik dan bertahan. “Jangan muda menyerah, terus up to date,” tegasnya. (*/din)
Editor : Didin Cahya Firmansyah