Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gadis Asal Tulungagung, Aliyah Nabila Kampanyekan Kepedulian Lingkungan Lewat Ecoprint, Riset Empat Tahun Sebelum dapat Temukan Racikan yang Pas

Aditya Yuda Setya Putra • Senin, 4 Agustus 2025 | 17:50 WIB

 

Warga Tulungagung, Aliyah Nabila, dalam proses produksi ecoprint dengan menggunakan teknik pounding di kediamannya, Minggu (3/8/2025).
Warga Tulungagung, Aliyah Nabila, dalam proses produksi ecoprint dengan menggunakan teknik pounding di kediamannya, Minggu (3/8/2025).

 

TULUNGAGUNG - Berawal dari kepekaannya untuk menjaga lingkungan, gadis asal Tulungagung ini Aliyah Nabila memutuskan untuk membangun usaha ecoprint.

Selain jadi media untuk meraup rupiah, ecoprint juga dia jadikan medium untuk mngekampanyekan kepedulian lingkungan kepada masyarakat Tulungagung, khususnya ke kaum muda.

Ruas Jalan Raya Pulosari, Ngunut, Tulungagung, tampak lengang pada Minggu (3/8/2025) pagi.

Di salah satu rumah di sudut jalan itu, Aliyah Nabila sedang fokus memukulkan palu kayu ke beberapa daun atas tas putih berbahan kanvas.

Itu adalah teknik punding, salah satu teknik dalam pembuatan ecoprint.

Aliyah dan ibunya mulai membuka usaha ini sejak 2021 lalu. Banyaknya anak muda yang kepincut gaya hidup tak ramah lingkungan.

Hal tersebut membuatnya berkeinginan untuk menyediakan jenama (merek) dengan konsep ramah lingkungan.

“Banyak juga anak-anak muda yang pakai fast fashion. Jadi ada diskon dikit dia langsung beli produk-produk itu. Karena kita tahu impact dari fast fashion itu sangat-sangat buruk buat lingkungan kita,” ucap perempuan 24 tahun ini.

Ada berbagai jenis daun dan tumbuhan yang bisa dimanfaatkan sebagai media. Mulai dari daun mangga, jambu, dan juga berbagai jenis bunga.

Untuk memastikan produknya siap, Aliyah dan ibunya harus melakukan riset selama kurang lebih empat tahun, sebelum mendapatkan teknik dan racikan yang pas.

Baca Juga: Pelaku UMKM Tulungagung dapat Manfaat Berlimpah Usai Ikuti Pelatihan Digital Marketing sangat Aplikatif dan Siap Terapkan Strategi Usaha  

“Kita nggak bisa memprediksi meskipun kita tahu awalnya daun jati itu bentuknya kayak gini tapi at the end off the process kadang nggak sesuai dengan ekspektasi kita," katanya.

"Tapi uniknya ecoprint kan ada di situ. Jadi dia produk one of kind. Cuman satu-satunya,” imbuh alumnus UIN Sunam Ampel Surabaya, jurusan Pendidikan Bahasa Inggris ini.

Dia menyebut baha hal ini juga bertujuan untuk melestarikan berbagai kekayaan alam. Sebab, dua juga melakukan budidaya beberapa jenis tumbuhan tertentu.

“Jadi kita nggak merusak alam sebenarnya. Tapi kita malah memaksimalkan potensi alam yang ada di sini tanpa merusaknya. Malah kita dapat ekonomi kreatif dari ecoprint ini,” tegasnya.

Ada berbagai jenis produk yang dibuat. Mulai dari kain, tas, sepatu, hingga mukena. Dalam waktu satu bulan, Aliyah bisa memproduksi hingga 50 lembar kain ecoprint. Proses pembuatan ecoprint memang butuh waktu lama.

Itu sebabnya harga produk ecoprint terbilang di atas rata-rata. Itu sebabnya mereka yang berbelanja adalah orang-orang yang berjiwa seni tinggi dan punya kepedulian terhadap lingkungan.

“Pasarnya segmented. Karena dia take a long time. Kendalanya kita ada di situ. kita belum menemukan kayak formula biar lebih cepat lagi. ini tradisional cara pembuatannya,” ucap Aliyah.

Tak ingin hanya disibukkan persoalan bisnis, perempuan berjilbab ini juga menjadikan usahanya sebagi media untuk mengkampanyekan kepedulian terhadap kelestarian lingkungan.

Itu sebabnya dia menjaring sebanyak mungkin anak muda dan mahasiswa untuk diikutsertakan dalam pelatihan di tempatnya. Tak hanya mahasiswa dalam negeri, Aliyah juga beberapa kali menjaring mahasiswa luar negeri.

“Kalau yang masalah internasional student ini aku memang memfokuskan diri untuk memperkenalkan daun-daunan yang ada di Indonesia ke mancanegara,” paparnya.

“Dan yang kedua memang aku melestarikan lingkungan memperkenalkan antara fast fashion dan slow fashion. Karena kalau slow fashion itu memang durability-nya tinggi titik dibandingkan fast fashion,” ujarnya.

Bungsu dari dua bersaudara ini mengaku lebih banyak berkomunikasi dengan pihak perguruan tinggi untuk menarik mahasiswa melalui program cultular exchange alias pertukaran budaya.

Disinggung sial misinya ke depan, Aliyah mengungkapkan keinginannya untuk membentuk suatu forum khusus yang bertujuan untuk memberdayakan kaum muda di bidang ekonomi segaligus menumbuhkan kecintaan terhadap lingkungan.

“Jadi aku pengennya ngajak ke temen-temen anak-anak muda untuk lebih mencintai lingkungan melalui kesadaran yang sederhana ini,” pungkasnya. (*/din)

Editor : Didin Cahya Firmansyah
#Aliyah Nabila #tulungagung #ecoprint #batik #riset