RADAR TULUNGAGUNG - Tidak semua mimpi hanya berakhir di kepala. Bagi Nita Dwi Andayani, guru ASN di sebuah SD Negeri di Tulungagung, mimpi “belajar hingga ke negeri China” benar-benar terwujud.
Perempuan asal Desa Wajak Lor, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung ini terpilih menjadi salah satu dari 20 mahasiswa Sekolah Pascasarjana (SPS) Universitas Negeri Malang (UM) yang mengikuti program China–ASEAN Education Cooperation Week “Bridge to See Guizhou”.
Baca Juga: Presiden Prabowo Beri Tiga Kado Istimewa untuk Guru Jelang HUT ke-80 RI
Program ini mempertemukan pendidik dan mahasiswa dari berbagai negara seperti Malaysia, Singapura, dan Indonesia dalam suasana kolaboratif lintas budaya.
“Kegiatan ini bukan hanya memberikan pengalaman internasional, tetapi juga memperkuat eksistensi Indonesia dalam jejaring pendidikan tinggi kawasan Asia,” ujar Nita kepada Radar Tulungagung, Sabtu (9/8).
Dia menceritakan, untuk bisa berangkat, Nita harus melewati seleksi ketat mulai dari tes akademik, wawancara berbahasa Inggris, hingga penilaian kesiapan diri.
“Waktu pengumuman lewat email, saya kaget sekaligus senang. Ini pertama kalinya saya ke luar negeri, jadi banyak persiapan dari paspor, visa, sampai mental,” kenangnya.
Perjalanan ke China membawa Nita ke Provinsi Guizhou, wilayah pegunungan dengan pemandangan alam asri nan memukau.
Selama sepekan (28 Juli–4 Agustus), dia mengikuti pembukaan acara yang dihadiri pejabat tinggi China dan ASEAN, mengenakan baju adat Jawa Timur di hari pertama, serta berbaur dalam 170 mahasiswa yang tergabung dalam kelompok lintas negara yang membahas lima tema pendidikan dan inovasi.
Acara tersebut turut dibuka oleh Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof Stella Christie.
Nita mengaku banyak terkesan pada kedisiplinan warga China. “Di kampus, meski gedungnya tinggi, tidak ada lift. Semua harus naik tangga, melatih fisik dan mental. Budaya antre juga luar biasa, tidak ada yang menyerobot. Bahkan di transportasi umum, ketika naik, semua langsung pakai sabuk pengaman,” tuturnya.
Selain itu, dia mengunjungi pusat riset pendidikan, pabrik mobil dan pesawat di lingkungan kampus, serta pusat produksi herbal yang mempertahankan kualitas alami tanpa bahan pengawet.
“Di sana, pembelajaran berbasis STEM sangat kuat. Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tapi langsung praktik,” jelasnya.
Bagi Nita, salah satu momen paling mengesankan adalah saat mendaki area wisata pegunungan di Guizhou yang diakses dengan kereta gantung dan tangga panjang.
“Orang tua di sana kuat sekali naik sampai puncak, sedangkan kita yang muda-muda malah ngos-ngosan,” ujarnya sambil tertawa.
Dia juga merasakan tantangan komunikasi karena mayoritas warga menggunakan bahasa Mandarin.
Baca Juga: Tanamkan Mimpi Sejak Dini, Mahasiswa UNAIR Ajak Siswa SD Jatijejer Mojokerto Merancang Masa Depan
“Kalau dengan dosen atau mahasiswa lain pakai bahasa Inggris, tapi kalau ke pedagang atau warga, saya pakai aplikasi penerjemah bahasa,” katanya.
Kemudian, sepulang dari China, Nita mengaku membawa pulang banyak pelajaran, terutama soal kedisiplinan, kerja keras, dan semangat belajar.
Dia berharap generasi muda Tulungagung berani bermimpi tinggi. “Kesempatan seperti ini jarang datang. Teruslah belajar. Jangan berhenti di satu jenjang saja. Ilmu itu bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk membangun daerah kita,” pesan Nita. ****
Editor : Dharaka R. Perdana