Alfin Hisyam Terus Menjaga Eksistensi Jipang Tulungagung dan Brondong Jagung Tradisional, Berikut Kisahnya

Sandy Sri Yuwana • Dipublikasikan Kamis, 14 Agustus 2025 | 19:55 WIB

Jipang Tulungagung tetap bertahan di tengah arus modernisasi. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Jipang Tulungagung tetap bertahan di tengah arus modernisasi. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah derasnya arus modernisasi yang melahirkan berbagai makanan instan dan kekinian, jipang Tulungagung dan brondong jagung tradisional tetap bertahan sebagai jajanan yang tak lekang oleh waktu.

Salah satu pelaku yang konsisten menjaga cita rasa warisan jipang Tulungagung adalah Alfin Hisyam Al Hadi, 18 tahun, warga Kelurahan Jepun, Kecamatan Tulungagung.

Baca Juga: Kerupuk Rambak Khas Tulungagung, Jajanan Gurih Cocok untuk Lauk dan Ngemil

Berlokasi di sebuah rumah produksi sederhana, aroma wangi beras dan jagung yang baru diolah berpadu dengan bunyi denting alat-alat tradisional.

Inilah tempat lahirnya jipang Tulungagung dan brondong jagung merek “Semar” yang sudah dikenal sejak era 1980-an.

Baca Juga: Punya Banyak Daging Kambing, Berikut Olahan Daging Kambing Tanpa Bau Ala Warung Sate Pak Kuat Tulungagung

Alfin bukan sekadar pelaku usaha, ia adalah generasi ketiga dari keluarga pembuat jipang tradisional.

Bersama ayahnya, Toni Hadi Siswanto, 47, ibunya, dan empat karyawan, dia menjaga resep serta metode produksi yang diwariskan turun-temurun, tanpa meninggalkan nilai-nilai asli pembuatan jajanan tradisional.

Baca Juga: Mahasiswa Universitas Tulungagung Ciptakan Inovasi Pangan Lokal, Kerupat: Kerupuk Ikan Patin Bumi Ngrowo

Setiap hari, mulai pukul 08.00 hingga 16.00, mereka mengolah sekitar 1 kuintal beras dan jagung. Dari proses itu, lahirlah sekitar 250 bal jajanan, masing-masing berisi 50 potong jipang jagung atau brondong beras.

Keunggulan jipang Tulungagung produksi Alfin adalah penggunaan bahan alami, tanpa pemanis buatan atau pengawet kimia.

Baca Juga: Punten Pecel Tulungagung: Makanan Tradisional yang Cocok Dinikmati Pagi atau Sore Hari

“Kami ingin mempertahankan cita rasa asli seperti yang diwariskan sejak dulu,” ujar Alfin sambil memotong jipang beras yang baru matang.

Pada masa jayanya, jipang dan brondong “Semar” tak hanya dipasarkan di Tulungagung. Produk ini juga dikirim ke Kediri, Trenggalek, Ponorogo, Madura, Bali, bahkan sempat menembus pasar Malaysia. Tak jarang, jajanan tradisional ini menghiasi rak-rak supermarket.

Namun kini, persaingan dengan jajanan kekinian dan tren makanan praktis membuat pasar menyusut.

“Pasar sedang sepi. Generasi muda banyak yang lebih suka makanan modern,” kata Alfin. Kondisi ekonomi yang melambat juga menjadi tantangan tersendiri.

Meski menghadapi tantangan, Alfin tetap optimistis jipang Tulungagung dan brondong jagung tradisional bisa kembali diminati.  Harapannya, anak-anak generasi sekarang mulai mengenal dan mencintai jajanan warisan ini.

Baca Juga: Ada Kejutan saat Beli Nasi Pecel Tulungagung, Bikin Pelanggan Puas karena Dapat Bonus

“Kalau permintaan meningkat, saya ingin meningkatkan kesejahteraan karyawan dan semoga bisa memberangkatkan mereka naik haji,” ungkapnya penuh semangat.

Bagi Alfin, jipang tradisional bukan sekadar camilan. Ia adalah bagian dari sejarah keluarga, rasa syukur atas rezeki yang mengalir, dan bukti bahwa cita rasa warisan leluhur selalu layak dipertahankan di tengah gempuran perkembangan zaman. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
Sumber : Radar Tulungagung
tradisional brondong jagung jipang tulungagung