RADAR TULUNGAGUNG – Hujan deras pada Selasa (19/8/2025) meninggalkan kepedihan bagi warga Desa Kradinan, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung.
Material tanah longsor menimbun sebagian bangunan SDN 2 Kradinan, merobohkan tiga ruang kelas dan perpustakaan, dan menyisakan puing bercampur lumpur.
Meski begitu, pagi ini (20/8/2025) halaman sekolah tidak menampakkan wajah murung, melainkan memperlihatkan denyut kehidupan, antara warga, guru, dan tim gabungan bahu-membahu membersihkan sisa reruntuhan.
Di antara suara cangkul yang menghantam tanah basah, terlihat sekelompok guru dan warga mengais tumpukan buku dan dokumen-dokumen yang masih bisa diselamatkan.
Di sisi lain, beberapa warga menurunkan genting dan plafon yang dikhawatirkan runtuh sewaktu-waktu. “Pokoknya apa yang bisa diamankan, ya kita selamatkan dulu,” ujar seorang warga sambil menurunkan balok kayu dari atap yang miring.
Namun hanya selangkah dari kesibukan itu, sebuah ruang kelas menyajikan pemandangan berbeda. Deru suara kerja bakti seolah tak mengusik semangat puluhan anak berseragam batik khas anak SD Tulungagung.
Baca Juga: Tanah Longsor Timbun Bangunan SDN 2 Kradinan di Tulungagung, Tiga Ruang Rusak Parah
Beberapa ada juga yang memakai seragam olahraga milik SD tersebut. Mereka duduk rapi, sebagian berdesakan di meja panjang, dengan wajah penuh antusias menyimak guru yang sedang menulis di papan.
“Ini kelas 3 dan kelas 4 digabung, total ada 38 anak. Kelasnya penuh, tapi mereka tetap semangat,” tutur Ardian Devi, seorang guru muda yang mengajar kelas 3.
Ia berdiri berusaha mengajar sambil sesekali menenangkan anak-anak yang terdistraksi melihat keluar jendela.
Baca Juga: Ikut Terdampak Tanah Longsor, Dua Bangunan SDN 2 Kradinan di Tulungagung Rusak Parah
“Ya wajar kalau kadang mereka nengok ke luar. Di luar ramai orang membersihkan longsor. Tapi begitu saya tanya pelajaran, mereka langsung jawab dengan antusias.” ceritanya.
Meski di ruang kelas seadanya, tawa kecil anak-anak kerap terdengar. Sesekali, satu dua siswa melontarkan candaan yang membuat suasana kelas terasa hangat.
Ardian mengakui, semangat mereka menjadi penyemangat tersendiri bagi para guru yang juga masih shock dengan musibah longsor.
“Bayangkan, sekolahnya rusak, tapi anak-anak masih ceria. Itu bukti bahwa semangat belajar mereka tidak mudah padam,” tambahnya.
Baca Juga: Tanah Longsor di Desa Kradinan, Putuskan Jalur Penghubung Tulungagung – Trenggalek
Tidak semua siswa bisa kembali ke sekolah. Untuk sementara, murid kelas 1 dan 2 dialihkan ke pembelajaran daring demi keamanan.
Meski begitu, mereka tetap berusaha mengikuti pelajaran dengan dukungan orang tua di rumah.
Di ruangan lain, buku-buku yang kotor berlumur lumpur ditata seadanya di lantai. Sebagian sobek, sebagian lagi masih bisa dibaca meski warnanya pudar.
Baca Juga: Hujan Semalaman yang Deras, Fenomena Alam yang Bawa Banyak Cerita
“Sedih rasanya lihat buku pelajaran anak-anak begini. Tapi yang penting anak-anaknya selamat dan tetap bisa belajar,” ungkap salah satu warga sambil mengibas-ngibas buku yang masih basah.
Bagi anak-anak SDN 2 Kradinan, bencana ini bukan alasan untuk berhenti menuntut ilmu. Di balik keriuhan evakuasi, mereka masih bisa menyalin tulisan, mengerjakan soal, bahkan bercanda dengan teman sebangku.
Wajah-wajah polos itu memancarkan pesan sederhana. Longsor bisa merobohkan bangunan sekolah, tetapi tidak akan merobohkan mimpi anak-anak di lereng Gunung Wilis ini untuk meraih cita-cita. ****
Editor : Dharaka R. Perdana