RADAR TULUNGAGUNG - Menulis biografi seorang tokoh besar dan berpengaruh bukanlah perkara mudah.
Selain membutuhkan keterampilan menulis, seorang penulis biografi juga harus melakukan riset mendalam, wawancara dengan banyak narasumber, hingga merangkai cerita yang kaya akan sisi human interest.
Hal inilah yang dialami Hanik Purwanto, pria asal Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten Tulungagung.
Baca Juga: Kisah Cinta Prabowo Subianto dengan Titiek Soeharto: Bercerai Sebab Politik?
Dia menjadi salah satu tim penulis buku biografi Mbak Tutut: Selangkah di Belakang. Buku tersebut mengisahkan sepak terjang wanita bernama lengkap Siti Hardijanti Hastuti Rukmana, putri sulung Presiden kedua RI, Soeharto.
Nama Mbak Tutut sangat lekat dengan lingkaran Keluarga Cendana, keluarga yang pernah menjadi pusat kekuasaan di Indonesia selama puluhan tahun.
Saat ditemui di sebuah warung kopi sederhana dekat SPBU Beji, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung suasana siang itu mendung.
Hanik terlihat santai, duduk sembari memainkan ponselnya menunggu pelanggan. Begitu mengetahui kedatangan Radar Tulungagung, ia segera mempersilakan duduk.
Setelah permisi sebentar menunaikan sholat Duhur, pria berkacamata itu kembali bergabung dengan obrolan penuh semangat.
Dengan ramah, Hanik membuka kisahnya tentang keterlibatannya dalam proyek penulisan biografi salah satu tokoh perempuan paling berpengaruh di Indonesia.
“Kalau dibilang untung, ya tidak juga. Tapi saya bersyukur bisa terlibat. Kebetulan saya diajak oleh Bu Donna Sita Indria yang memang sudah lama saya kenal,” ujarnya mengawali cerita.
Sejak muda, Hanik memang sudah berkecimpung di dunia jurnalistik. Ia menulis di sejumlah tabloid perempuan ternama seperti Nyata, Kartini, dan Wanita Indonesia.
Pengalamannya menulis feature, yang menekankan sisi human interest, menjadi bekal berharga dalam proyek penulisan biografi ini.
“Penulis yang dilibatkan memang mereka yang terbiasa menulis dengan gaya feature. Sebab biografi itu bukan sekadar data, tapi bagaimana menghadirkan sosok dalam narasi yang hidup,” jelasnya.
Penulisan buku biografi Mbak Tutut ternyata membutuhkan waktu hingga tujuh tahun. Bukan hanya karena kerumitan mengumpulkan data, tetapi juga sempat terjeda akibat pandemi Covid-19.
Hanik dan tim harus melakukan wawancara dengan sekitar 200 narasumber, dari dalam maupun luar negeri.
Beberapa narasumber bahkan berasal dari kalangan tokoh dunia. Dua di antaranya adalah mantan Presiden Filipina, Fidel Ramos, serta mantan Perdana Menteri Malaysia, Mahathir Mohamad.
“Menariknya, kami tidak pernah wawancara langsung dengan Mbak Tutut. Semua cerita kami dapat dari orang-orang yang pernah berinteraksi dengannya. Dari situ muncul berbagai perspektif,” kata Hanik.
Menurut dia, Ramos dan Mahathir memberi pandangan yang obyektif karena tidak memiliki tendensi apapun terhadap Mbak Tutut maupun Keluarga Cendana. “Mereka berdua lebih netral, tidak ada bias pribadi,” tambahnya.
Dari ratusan narasumber, tergambar sosok Mbak Tutut sebagai pribadi yang baik, sederhana, dan penuh kepedulian.
Namun, kebaikan itu tak jarang dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang ingin mengambil keuntungan pribadi. Meski demikian, Mbak Tutut selalu memilih untuk menerima dengan lapang dada dan tetap semelehnya.
Baca Juga: Medali Perak Porprov Jatim Belum Buat Charisya Rahmadianatali Puas, Ini Target yang Dicanangkannya
Sebagai anak sulung dari Soeharto dan Siti Hartinah (Tien Soeharto), ia mampu menempatkan diri dalam berbagai peran.
Di publik, ia dikenal sebagai figur politik dan tokoh nasional. Namun, di rumah, ia berperan sebagai ibu yang penuh perhatian bagi keluarganya.
“Banyak orang tidak tahu, keseharian Mbak Tutut sangat sederhana. Bahkan meski tinggal di Jakarta, ia sering menggunakan bahasa Jawa, terutama ketika berinteraksi dengan adik-adiknya,” tutur Hanik.
Bagi keluarga besar Cendana, Mbak Tutut bahkan dianggap sebagai pengganti almarhumah Tien Soeharto. Ia menjadi figur sentral yang dihormati, terutama dalam menjaga kebersamaan keluarga.
Bagi Hanik, pengalaman menulis biografi ini bukan sekadar profesi, melainkan perjalanan berharga yang penuh pelajaran hidup.
Dia mengaku banyak belajar mengenai keteguhan, kesabaran, dan kepemimpinan dari sosok Mbak Tutut.
“Banyak untold story yang tidak pernah diekspos media, tapi akhirnya bisa kami rangkum dalam buku ini. Dari situ saya melihat bahwa Mbak Tutut punya perhatian besar terhadap generasi muda, bahkan jauh sebelum isu itu ramai dibicarakan sekarang,” ucapnya.
Proyek ini sekaligus membuka kesempatan bagi Hanik untuk lebih dekat memahami salah satu keluarga paling berpengaruh dalam sejarah Indonesia, yaitu Keluarga Cendana.
Buku biografi yang dikerjakan Hanik dan tim diharapkan bisa memberi wawasan baru kepada masyarakat. Tidak hanya mengenai kehidupan pribadi Mbak Tutut, tetapi juga dinamika yang melingkupi Keluarga Cendana.
“Semoga buku ini bisa menjadi bahan pembelajaran dan refleksi. Sosok Mbak Tutut adalah potret seorang perempuan yang kuat, berani, sekaligus penuh kasih,” pungkas Hanik dengan nada mantap. ****