RADAR TULUNGAGUNG - Pernah mendengar atau tahu lagu tayub berjudul Joko Mlarat? Penciptanya tidak lain adalah seniman Tulungagung bernama Sumarji atau lebih akrab dipanggil Jithul.
Pasca karya monumentalnya itu, dia tidak henti-hentinya menciptakan lagu. Meskipun semua bernuansa Jawa, nyatanya mayoritas bisa diterima dan disukai masyarakat Tulungagung dan sekitarnya.
Pria asal Desa Tenggong, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung ini mengaku, seni budaya Jawa memang sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Apalagi sejak muda, dia sudah berkecimpung di dalamnya.
Hingga akhirnya dia bisa menelurkan sebuah karya lagu tayub yang melambungkan namanya dan mampu bertahan 17 tahun lamanya atau hingga kini. "Bisa dikatakan lagu Joko Mlarat merupakan awal eksistensi saya di dunia musik khususnya genre Jawa," katanya Rabu (3/9/2025).
Baca Juga: Penarikan Royalti Lagu Jadi Sorotan Produser Musik Tulungagung, Begini Pendapat Mereka
Menurut dia, inspirasi dalam menciptakan sebuah lagu memang bisa berasal dari mana saja. Entah itu pengalaman pribadi, orang lain, maupun berimajinasi setelah melihat sesuatu di lingkungan sekitar.
Semua pun dirangkainya menjadi sebuah lirik-lirik puitis. "Inspirasinya bisa dari mana saja, lalu saya tuangkan dalam bentuk lirik lagu," tambahnya.
Baca Juga: Eksistensi Tembang Jawa Cublak-cublak Suweng di Tengah Arus Teknologi Modern
Seperti lagu JLS Andum Roso yang beberapa waktu lalu sudah rilis di YouTube. Dia terinspirasi saat melihat sepasang anak muda sedang berpacaran di JLS Tulungagung. Seketika itu juga tebersit untuk mengabadikan dalam lirik-lirik lagu.
Pria ramah ini mengaku, sampai saat ini dia sudah menciptakan sekitar 89 lagu Jawa. Kendati demikian tidak semuanya bisa diterima pasar, karena 34 di antaranya gagal menarik minat para penikmati musik Jawa.
Baca Juga: Gambarkan Peristiwa Banjir Besar, Begini Lirik Lagu Oh Nasib Tulungagung, Isinya Bikin Merinding
Namun itu tidak membuatnya berpatah arang karena sudah menyadari risiko dalam setiap karyanya. "Tak diterima pasar itu sebuah kewajaran. Musisi besar lain pun pernah mengalami hal serupa," ujarnya lantas tertawa.
Jithul tak menampik pada era digital seperti saat ini membuat dirinya lebih tenang dalam menanti rezeki dari karya.
Apalagi semua bermuara di YouTube yang tentunya berbeda dengan zaman dulu yang mengandalkan VCD atau DVD. "Hasilnya langsung terasa dibanding saat zaman VCD dulu. Walaupun yang diterima juga bergantung bagi hasil adsense dengan label yang menaungi," jelasnya.
Di saat ramainya permasalahan royalti menggema di blantika musik nasional, Jithul mengaku hanya mengamati saja perkembangan di lapangan.
Bagi dia, saat sebuah karya dibeli sebuah label tentu bakal membawa hasil bagi penciptanya. "Setiap bulan pun saya mendapat. Karena ada dua perusahaan rekaman di Jakarta dan Banyuwangi yang memasarkan hasil karya saya," ungkapnya.
Disinggung untuk aktivitas lain, pria berkulit bersih ini masih eksis menerima tanggapan. Selain bernyanyi, dia juga sering diundang mengisi jaranan. Bahkan, dia juga merambah di dunia pelawak.
"Alhamdulillah, sampai saat ini masih ada tanggapan. Minimal sebulan tiga kali pentas, semoga rezeki terus mbanyu mili," tandasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana