Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengulik Kisah Inspiratif Sosok Haji Her, Sultan Tembakau Madura yang Sedang Viral dan Dikenal Dermawan

Mohammad Dzakwan Wahyu Nur Fauzan • Rabu, 10 September 2025 | 19:30 WIB

 

Photo
Photo

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah Pulau Madura yang kering dan bersahaja, nama Haji Her kini masyhur dikenal sebagai “Sultan Madura”.

Dia lahir dengan nama Khairul Umam pada tahun 1981, sosoknya bukan terlahir dari garis bangsawan, namun kisah hidupnya telah menjadi legenda, khususnya sebagai pengusaha tembakau sukses di Pulau Madura.

Dia merupakan CEO PT Bawang Mas Group,dan juga merupakan Ketua Paguyuban Pelopor Petani dan Pedagang Tembakau se-Madura (P4TM).

Bukan hanya sekedar titel, Haji Her dikenal karena kepedulian sosialnya yang mendalam, membuktikan bahwa kesuksesan sejati mampu mengangkat harkat hidup sesama.

Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Maksimal Hingga 6,7 Persen, Menkeu Purbaya: Defisit Fiskal Maksimal di Level 3 Persen,

Salah satu jejak rekam kedermawanan paling mencolok dari Haji Her adalah program pembangunan lebih dari seribu rumah gratis bagi warga miskin di Pamekasan. Sejak 2020, bantuan ini murni dari dana pribadinya, halal, dan tanpa pamrih.

Setiap rumah dibantu sekitar Rp 42 juta lebih, bukti nyata niat baik tanpa anggaran negara atau kontrak proyek.

Inisiatif ini dikoordinasi melalui Bawang Mas Centre (BMC) dan rencananya diperluas ke seluruh Madura, dengan Haji Her berharap tak ada lagi orang Madura hidup di rumah nyaris roboh.

Baca Juga: Hilang Sejak Pagi di Sungai Jagir Wonokromo Surabaya, Agus Susanto Ditemukan Mengambang Tidak Bernyawa

Tidak hanya pembangunan rumah, rekam jejak Haji Her juga meliputi perjuangan menyejahterakan jutaan petani tembakau di Indonesia.

Dia memahami bahwa sektor tembakau adalah hajat hidup sekitar 10 hingga 15 juta jiwa petani dan keluarga.

Melalui PT Bawang Mas Group, perusahaannya membeli tembakau langsung dari petani, memotong peran tengkulak, dan memberikan harga yang pantas.

Upaya ini, didukung sekitar 300 pondok pesantren di Madura, menjadi tonggak perjuangan Haji Her dalam mempertahankan martabat petani dan memberikan kepastian kesejahteraan yang berkelanjutan.

Biografi dan Perjalanan Karir

Khairul Umam, atau akrab disapa Haji Her, adalah sosok yang bangkit dari latar belakang sederhana di Madura. Meskipun tidak terlahir sebagai bangsawan, kini ia dikenal luas sebagai "Sultan Madura".

Rumah megahnya di Jalan Raya Trasak, Pamekasan, yang disebut bak istana, bukan hanya simbol kekayaan, melainkan juga cerminan kedermawanannya yang sering membuka pintu untuk orang lain.

Dia adalah seorang pengusaha tembakau yang sangat berpengaruh, menjabat sebagai CEO PT Bawang Mas Group, sebuah perusahaan yang menjadi pengumpul tembakau dari berbagai daerah di Indonesia.

Baca Juga: Keresahan Petani Tembakau di Tulungagung Akibat Kemarau Basah, Terancam Tak Panen Gegara Cuaca

Keahliannya di industri ini diakui bahkan di tingkat nasional, terbukti dari kehadirannya dalam forum Badan Legislasi DPR RI untuk membahas Rancangan Undang-Undang tentang Komoditas Strategis Perkebunan.

Dalam kesempatan itu, Haji Her bicara sebagai pelaku langsung dan orang lapangan, menegaskan pentingnya kepastian bagi petani tembakau.

Dia juga dikenal sebagai "penimbun" tembakau terbesar di Indonesia, menunjukkan skala bisnisnya yang luar biasa.

Diversifikasi Bisnis dan Pengakuan Nasional

Selain dominasinya yang kuat di sektor tembakau, Haji Her juga menjajaki sektor lain sebagai bentuk pengembangan bisnis.

Dia mendirikan Bento Group Indonesia, dan pada pertengahan 2023, meluncurkan Bento Kopi, sebuah usaha minuman cepat saji yang kini mulai merambah berbagai kota.

Langkah ini menunjukkan visinya untuk terus mengembangkan bisnis tanpa melupakan akarnya di Madura.

Pengakuan atas posisinya yang strategis dalam mata rantai industri tembakau nasional juga datang dari Victor Hartono, CEO Djarum Foundation.

Baca Juga: Hasil Merantau dari Taiwan Jadi Pondasi K-Cunk Motor Tulungagung, Keuntungan Awalnya Mengejutkan

Kunjungan putra mahkota bisnis Djarum, salah satu perusahaan rokok terbesar di Asia, langsung ke Madura untuk berdiskusi dengan Haji Her tentang bisnis tembakau, masa depan industri, dan kesejahteraan petani.

Hal ini menegaskan bahwa Haji Her bukan sekadar pemain daerah, melainkan pengendali besar dalam industri tembakau nasional.

Kiprah Sosial dan Kemanusiaan

Kiprah sosial Haji Her begitu monumental, dengan pembangunan lebih dari 1.000 rumah layak huni gratis bagi warga miskin di Pamekasan.

Program ini telah menjangkau seluruh kecamatan di Pamekasan dan rencananya akan diperluas ke seluruh Madura.

Bantuan diberikan tanpa diskriminasi dan tanpa syarat rumit; cukup ada laporan rumah tak layak huni, dicek oleh tim, lalu dibangun.

Ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial lain, termasuk memberikan sembako, menggalang bantuan, dan menyediakan lahan untuk kegiatan keagamaan, senantiasa menyatu dengan masyarakat.

Kemampuan finansialnya untuk menggelontorkan miliaran rupiah untuk sosial tanpa banyak bicara telah menjadi rahasia umum.

Aksi-aksi kedermawanannya bahkan sempat viral, termasuk menabur uang dari lantai dua rumahnya dan menyumbang ratusan juta untuk rakyat Palestina, semakin mengukuhkan citranya sebagai "crazy rich Madura" yang dermawan.

Baca Juga: Pengusaha Muda Sukses Asal Tulungagung ini Rela Tinggalkan Kerja di Alfamart, Modal Rp 1 Juta kini Transaksi Bisnis Online Capai Ratusan Tiap Hari

Sisi personalnya yang kental dengan nilai-nilai kemanusiaan terlihat saat ia membeli mobil bekas kepresidenan KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) seharga Rp 350 juta pada Juli 2023.

Mobil merek Kia Enterprise V6 itu dibeli bukan untuk gaya-gayaan, melainkan sebagai bentuk penghormatan dan karena ia mengidolakan sosok cucu pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari itu.

Bagi Haji Her, mobil tersebut memiliki nilai spiritual, mengingatkannya pada Gus Dur sebagai tokoh bangsa yang menjunjung toleransi dan kemanusiaan, nilai-nilai yang juga ia pegang teguh dalam hidupnya untuk menolong siapa pun tanpa melihat latar belakang.

Meski telah meraih banyak pencapaian, Haji Her tetap rendah hati dan membumi. Ia memilih untuk tetap pulang kampung, makan sederhana, dan menyapa siapa saja.

Baginya, kekayaan hanyalah alat; yang terpenting adalah untuk apa dan kepada siapa kekayaan itu digunakan.

Nama Haji Her kini bukan hanya simbol kemewahan, tetapi juga lambang kebaikan dan kedermawanan, bukti bahwa sukses tidak harus menjauh dari akar. Ia memilih untuk membangun titian jembatan antar sesama, bukan tembok tinggi.

Baca Juga: 7 Langkah Membangun Mindset Sukses Sejak Usia Remaja, Nomor 5 Paling Ditakuti

Haji Her digambarkan bukan pahlawan berjas dan berdasi yang naik panggung untuk menerima penghargaan, tetapi di balik rumah-rumah kecil yang dibangunnya, ada ratusan ribu doa yang terus menyala.

Doa-doa itulah yang lebih dari cukup untuk menjadikannya tokoh besar dari pulau kecil, membuktikan bahwa pada akhirnya, bukan seberapa besar rumah yang kita miliki, tetapi seberapa banyak penghuni dan rumah yang kita bantu berdiri.

Dia telah mencatatkan diri sebagai salah seorang yang menjawabnya bukan dengan kata, melainkan dengan aksi nyata. ****


Editor : Dharaka R. Perdana
#madura #tembakau #Haji Her