Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Mengenal Komunitas Asta Gayatri asal Tulungagung, Mereka Bertekad Terus Mengenalkan Ilmu Baca Tulis Aksara Jawa Kuno

Aditya Yuda Setya Putra • Kamis, 18 September 2025 | 21:00 WIB

 

Komunitas Asta Gayatri saat menyampaikan materi dalam workshop Literasi Aksara Kuno. (SUGENG RIYADI UNTUK RADAR TULUNGAGUNG)
Komunitas Asta Gayatri saat menyampaikan materi dalam workshop Literasi Aksara Kuno. (SUGENG RIYADI UNTUK RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Aktif berkegiatan sejak 2017 lalu, komunitas Asta Gayatri mencoba meningkatkan literasi masyarakat di sekitar Tulungagung, khususnya di disiplin ilmu baca-tulis aksara Jawa kuno atau biasa disebut Kawi.

Kini, komunitas Asta Gayatri makin aktif menggandeng masyarakat dari berbagai unsur untuk belajar bersama.

Baca Juga: Masyarakat Tulungagung Harus Terlibat Penyelamatan Naskah Kuno, Begini Harapan Bupati Gatut Sunu Wibowo

Salah seorang pengajar aksara Kawi di komunitas Asta Gayatri, Sugeng Riyadi menuturkan, aksara Kawi digunakan di era abad 8 hingga 16. Merasa tertarik dengan aksara kuno ini, dia mulai belajar pada 2017 lalu.

Seiring berjalannya waktu, Sugeng makin menguasai struktur dalam bahasa dan aksara Kawi. Itu membuatnya didapuk sebagai salah satu pengajar atau mentor pendidikan aksara Kawi.

Baca Juga: Durasi Gerhana Bulan Total di Prasasti Sucen I Capai 5 Jam 11 Menit, Jadi Tontonan Luar Biasa Masyarakat Jawa Kuno,

"Setelah itu, kita 2018 sempat vakum. Tahun 2019 kita mulai lagi sinau aksara Kawi. Saya yang ngisi (sebagai pemateri)," terangnya.

Pria yang tinggal di Desa/Kecamatan Ngunut, Tulungagung ini menerangkan, aksara Kawi biasa ditemui di banyak prasasti sejarah.

Di sana, banyak dibahas soal awal mula berdirinya suatu pemerintah daerah. Selain itu, aksara ini juga bisa ditemui di sejumlah naskah-naskah kuno yang tersimpan.

"Aksara Kawi itu kan aksara yang masih bisa ditemukan penggunaannya di dalam prasasti-prasasti. Salah satunya prasasti yang dijadikan (penentu) Hari Jadi Tulungagung (Prasasti Lawadan)," jelasnya.

Kegiatan berbagi ilmu biasa digelar melalui workshop atau pelatihan. Para peserta yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dibekali ilmu membaca dan menulis aksara Kawi. Metode ini dinilai paling efektif.

"Di 2017, kita dua minggu sekali. Tahun 2019 sampai (masa pandemi) Korona, kita sebulan sekali, terus mulai Agustus kemarin kita seminggu dua kali," kata pria 40 tahun ini.

Menurut dia, komunitas ini memang dibentuk untuk berbagi literasi aksara dan bahasa kuno. Itu jadi sumbangsih yang bisa diberikan komunitas dalam upaya berbagi pengetahuan dan menjaga budaya asli daerah.

Baca Juga: Prasasti Horren: Kontroversi Sejarah Sunda dan Jawa di Tulungagung, dari Era Majapahit atau Airlangga?

Dia menambahkan, ada rasa bangga yang dirasakan oleh anggota komunitas saat berbagai ilmu dengan masyarakat luas. Itu yang membuat komunitas tetap semangat tanpa berpikir nominal saat mengajar.

"Jadi, kita bisa mengenalkan aksara leluhur itu sesuatu yang membanggakan, walaupun tidak ada dana atau kita buat acara itu gratis," tegasnya.

Baca Juga: Prasasti dari Candi Mirigambar Tulungagung Ini Mengandung Kutukan Mengerikan, Berikut Ulasannya

Dengan masyarakat yang melek literasi sejarah, lanjut Sugeng, generasi muda akan lebih mencintai budayanya. Itu juga membuat generasi ke depan jadi lebih tangguh dalam menangkal sejarah yang tak sesuai fakta.

"Setidaknya kita bisa tahu atau mungkin bisa membuktikan tentang sejarah kuno. Sejarah leluhur kita. Dengan itu, kita tidak mudah dibodohi dengan sejarah yang dibuat-buat," ucapnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#kawi #tulungagung #aksara jawa kuno #asta gayatri