RADAR TULUNGAGUNG - Aktif berkegiatan sejak 2017 lalu, komunitas Asta Gayatri mencoba meningkatkan literasi masyarakat di sekitar Tulungagung, khususnya di disiplin ilmu baca-tulis aksara Jawa kuno atau biasa disebut Kawi.
Kini, komunitas Asta Gayatri makin aktif menggandeng masyarakat dari berbagai unsur untuk belajar bersama.
Salah seorang pengajar aksara Kawi di komunitas Asta Gayatri, Sugeng Riyadi menuturkan, aksara Kawi digunakan di era abad 8 hingga 16. Merasa tertarik dengan aksara kuno ini, dia mulai belajar pada 2017 lalu.
Seiring berjalannya waktu, Sugeng makin menguasai struktur dalam bahasa dan aksara Kawi. Itu membuatnya didapuk sebagai salah satu pengajar atau mentor pendidikan aksara Kawi.
"Setelah itu, kita 2018 sempat vakum. Tahun 2019 kita mulai lagi sinau aksara Kawi. Saya yang ngisi (sebagai pemateri)," terangnya.
Pria yang tinggal di Desa/Kecamatan Ngunut, Tulungagung ini menerangkan, aksara Kawi biasa ditemui di banyak prasasti sejarah.
Di sana, banyak dibahas soal awal mula berdirinya suatu pemerintah daerah. Selain itu, aksara ini juga bisa ditemui di sejumlah naskah-naskah kuno yang tersimpan.
"Aksara Kawi itu kan aksara yang masih bisa ditemukan penggunaannya di dalam prasasti-prasasti. Salah satunya prasasti yang dijadikan (penentu) Hari Jadi Tulungagung (Prasasti Lawadan)," jelasnya.
Kegiatan berbagi ilmu biasa digelar melalui workshop atau pelatihan. Para peserta yang sebagian besar terdiri dari mahasiswa dibekali ilmu membaca dan menulis aksara Kawi. Metode ini dinilai paling efektif.
"Di 2017, kita dua minggu sekali. Tahun 2019 sampai (masa pandemi) Korona, kita sebulan sekali, terus mulai Agustus kemarin kita seminggu dua kali," kata pria 40 tahun ini.
Menurut dia, komunitas ini memang dibentuk untuk berbagi literasi aksara dan bahasa kuno. Itu jadi sumbangsih yang bisa diberikan komunitas dalam upaya berbagi pengetahuan dan menjaga budaya asli daerah.
Dia menambahkan, ada rasa bangga yang dirasakan oleh anggota komunitas saat berbagai ilmu dengan masyarakat luas. Itu yang membuat komunitas tetap semangat tanpa berpikir nominal saat mengajar.
"Jadi, kita bisa mengenalkan aksara leluhur itu sesuatu yang membanggakan, walaupun tidak ada dana atau kita buat acara itu gratis," tegasnya.
Baca Juga: Prasasti dari Candi Mirigambar Tulungagung Ini Mengandung Kutukan Mengerikan, Berikut Ulasannya
Dengan masyarakat yang melek literasi sejarah, lanjut Sugeng, generasi muda akan lebih mencintai budayanya. Itu juga membuat generasi ke depan jadi lebih tangguh dalam menangkal sejarah yang tak sesuai fakta.
"Setidaknya kita bisa tahu atau mungkin bisa membuktikan tentang sejarah kuno. Sejarah leluhur kita. Dengan itu, kita tidak mudah dibodohi dengan sejarah yang dibuat-buat," ucapnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana