RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah derasnya arus teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin merambah dunia penulisan, komunitas penerbit lokal Tulungagung masih menunjukkan eksistensi dan perannya dalam menjaga budaya literasi.
Salah satunya dirasakan Muhammad Zakaria, 40, warga Desa Boro, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung yang juga mengelola Penerbit Cakrawala Satria Mandiri.
Minat masyarakat untuk menerbitkan karya tulis masih cukup tinggi, baik dalam bentuk buku solo maupun antologi.
“Masih banyak kok yang ingin menulis dan mengabadikan karyanya dalam bentuk buku. Selain penerbit, ada juga komunitas literasi yang terus mendorong masyarakat untuk berani menulis,” ungkap Menurut Zakaria, Kamis (18/9/2025).
Meski AI dinilai mampu membantu dalam penyusunan karya ilmiah seperti tesis atau skripsi, Zakaria menegaskan bahwa orisinalitas karya sastra tetap tidak tergantikan.
“Kalau karya puisi, renungan, atau tulisan yang lahir dari pengalaman hidup, itu tidak bisa digantikan oleh AI. Di situlah nilai asli dari penulis,” jelasnya.
Selain menyediakan jasa penerbitan berbayar, dia juga membuka program bantuan bagi penulis dengan keterbatasan dana. Namun tetap ada seleksi karya yang dianggap layak untuk dicetak.
“Kami juga lengkap, selain penerbitan, kami distributor, bahkan kontraktor pengadaan perpustakaan. Jadi kalau ada yang ingin membuat taman literasi, kami bisa menyediakan mulai dari konsep hingga buku,” imbuhnya.
Baca Juga: Anak-Anak Malas Membaca? Ini Alasan Literasi di Indonesia Tertinggal
Zakaria mengakui, tantangan terbesar penerbit lokal adalah keterbatasan akses masyarakat terhadap penerbit maupun lembaga pendukung literasi.
Padahal, menurut dia, banyak warga yang memiliki keinginan kuat untuk kembali menghidupkan budaya baca. “Sekarang ini media sosial bisa jadi pintu akses. Dari sana bisa dibangun jaringan untuk membuat perpustakaan mini di lingkungan,” terangnya.
Dia berharap semangat literasi bisa terus ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak, kata dia, perlu dikenalkan dengan buku sejak kecil, misalnya lewat kegiatan mewarnai atau membaca gambar.
“Kalau kita sebagai orang tua konsisten, anak-anak akan tumbuh dengan kecintaan terhadap buku. Literasi juga bisa dipadukan dengan permainan tradisional dan pengenalan budaya lokal,” tambahnya.
Baca Juga: Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Meningkat, OJK dan BPS Umumkan Hasil SNLIK 2025
Terkait tren, Zakaria menyebut buku dengan tema teknologi digital kini banyak diminati pembaca. Meski demikian, menurutnya, genre sastra dan budaya tetap memiliki ruang tersendiri bagi masyarakat yang haus akan karya otentik.
“Buku itu jendela dunia. Selama masyarakat masih ingin membuka jendela itu, penerbit akan tetap dibutuhkan,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana