Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Komunitas Penerbit Lokal di Tulungagung Tetap Eksis Telurkan Buku di Era Kecerdasaan Buatan, Ternyata Hal Ini Menjadi Kuncinya

Sandy Sri Yuwana • Senin, 22 September 2025 | 02:39 WIB

Muhammad Zakaria menunjukkan sejumlah buku yang dicetak di percetakan lokal Tulungagung. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Muhammad Zakaria menunjukkan sejumlah buku yang dicetak di percetakan lokal Tulungagung. (SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah derasnya arus teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin merambah dunia penulisan, komunitas penerbit lokal Tulungagung masih menunjukkan eksistensi dan perannya dalam menjaga budaya literasi.

Salah satunya dirasakan Muhammad Zakaria, 40, warga Desa Boro, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung yang juga mengelola Penerbit Cakrawala Satria Mandiri.

Baca Juga: Ratusan Anak TK Ikuti Lomba Mewarna Poster Festival Literasi Daerah 2025 Tulungagung, Ini Pesan Bunda Literasi Endang Dwi Retnowati

Minat masyarakat untuk menerbitkan karya tulis masih cukup tinggi, baik dalam bentuk buku solo maupun antologi.

“Masih banyak kok yang ingin menulis dan mengabadikan karyanya dalam bentuk buku. Selain penerbit, ada juga komunitas literasi yang terus mendorong masyarakat untuk berani menulis,” ungkap Menurut Zakaria, Kamis (18/9/2025).

Baca Juga: Festival Literasi Daerah 2025 Jadi Momentum Meningkatkan Minat Baca di Tulungagung, Begini Pesan Bupati Gatut Sunu Wibowo

Meski AI dinilai mampu membantu dalam penyusunan karya ilmiah seperti tesis atau skripsi, Zakaria menegaskan bahwa orisinalitas karya sastra tetap tidak tergantikan.

“Kalau karya puisi, renungan, atau tulisan yang lahir dari pengalaman hidup, itu tidak bisa digantikan oleh AI. Di situlah nilai asli dari penulis,” jelasnya.

Baca Juga: Siswa MTsN 3 Tulungagung Semakin Melek dalam Literasi Media. Hal Ini yang Mereka Dapatkan di Diklat Jurnalistik

Selain menyediakan jasa penerbitan berbayar, dia juga membuka program bantuan bagi penulis dengan keterbatasan dana. Namun tetap ada seleksi karya yang dianggap layak untuk dicetak.

“Kami juga lengkap, selain penerbitan, kami distributor, bahkan kontraktor pengadaan perpustakaan. Jadi kalau ada yang ingin membuat taman literasi, kami bisa menyediakan mulai dari konsep hingga buku,” imbuhnya.

Baca Juga: Anak-Anak Malas Membaca? Ini Alasan Literasi di Indonesia Tertinggal

Zakaria mengakui, tantangan terbesar penerbit lokal adalah keterbatasan akses masyarakat terhadap penerbit maupun lembaga pendukung literasi.

Padahal, menurut dia, banyak warga yang memiliki keinginan kuat untuk kembali menghidupkan budaya baca. “Sekarang ini media sosial bisa jadi pintu akses. Dari sana bisa dibangun jaringan untuk membuat perpustakaan mini di lingkungan,” terangnya.

Dia berharap semangat literasi bisa terus ditanamkan sejak usia dini. Anak-anak, kata dia, perlu dikenalkan dengan buku sejak kecil, misalnya lewat kegiatan mewarnai atau membaca gambar.

“Kalau kita sebagai orang tua konsisten, anak-anak akan tumbuh dengan kecintaan terhadap buku. Literasi juga bisa dipadukan dengan permainan tradisional dan pengenalan budaya lokal,” tambahnya.

Baca Juga: Indeks Literasi dan Inklusi Keuangan Masyarakat Meningkat, OJK dan BPS Umumkan Hasil SNLIK 2025

Terkait tren, Zakaria menyebut buku dengan tema teknologi digital kini banyak diminati pembaca. Meski demikian, menurutnya, genre sastra dan budaya tetap memiliki ruang tersendiri bagi masyarakat yang haus akan karya otentik.

“Buku itu jendela dunia. Selama masyarakat masih ingin membuka jendela itu, penerbit akan tetap dibutuhkan,” pungkasnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #kecerdasan buatan #penerbit lokal #literasi