RADAR TULUNGAGUNG - Di sudut Dusun Krajan, Desa Bangoan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung suara pukulan logam berpadu dengan denting nada.
Dari rumah sederhana di RT 5/RW 1 itu, Hadi Purwoko atau pria yang akrab disapa Ipung ini mengabdikan hidupnya pada gamelan Jawa.
Baca Juga: Bupati Tulungagung Sambangi Desa Ringinpitu, Janjikan Bantuan Seperangkat Gamelan
Sejak 2015, lelaki kelahiran Tulungagung 23 November 1992 ini menekuni usaha kerajinan gamelan. Bukan sekadar pekerjaan, tapi juga sebuah ikhtiar menjaga warisan budaya Jawa.
Perjalanan Ipung berawal dari mencoba membuat gamelan dengan nada diatonis (laras musik barat) yang akan dipakai oleh salah satu gereja di Desa Bangoan.
Baca Juga: Pamor Keris ini Mirip Salah Satu Alat Musik Gamelan Jawa
“Awalnya menerima pesanan untuk gereja di gereja Bangoan, supaya bisa mengiringi lagu-lagu rohani dengan gamelan. Dari situlah saya mulai belajar membuat gamelan berlaras diatonis,” kenangnya.
Namun kegigihan membawanya pada titik balik. Sedikit demi sedikit, dia belajar dari para senior. Dari sana, keterampilan makin terasah. Produknya pun mencuri perhatian pasar yan glebih luas. Buntunya, pesanan mulai datang silih berganti.
Bukan hanya Tulungagung yang bisa merasakan karya Ipung. Set gamelan buatannya dikirim hingga Kalimantan dan Sumatera.
“Pernah juga sampai luar Jawa. Waktu itu saya dapat proyek bikin 65 set gamelan. Itu rekor terbanyak selama saya jadi perajin,” ujarnya sambil tersenyum bangga.
Baca Juga: Penampilan Barongan Boleh Seram, Namun Beberapa Hal Berikut Bisa Dipelajari dari Kesenian Ini
Ipung menjelaskan, proses pembuatan satu set gamelan rata-rata memakan waktu 1–2 bulan. Bahan yang dipakai pun unik.
Yaitu pir bekas truk yang dilebur lalu diolah manual dengan alat sederhana seperti gerinda dan las. Setiap kenong, gong, hingga saron lahir dari kerja keras tangannya.
Soal harga, Ipung menyesuaikan dengan permintaan. Untuk satu set campursari bisa mulai Rp10–12 juta, gamelan jalanan antara Rp15–25 juta, sementara set karawitan bisa mencapai Rp 45–75 juta.
“Semua tergantung bahan dan permintaan. Kadang kalau bahan susah, pengerjaan juga jadi lebih lama,” jelasnya.
Baca Juga: Sejarah dan Keunikan Jaranan: Warisan Budaya Jawa yang Tak Lekang Waktu
Meski begitu, tantangan tidak membuatnya berhenti. Baginya, gamelan bukan sekadar barang dagangan.
“Ini jalan hidup. Dari gamelan saya bisa menghidupi keluarga, tapi yang lebih penting saya merasa ikut melestarikan budaya Tulungagung,” kata Ipung.
Baca Juga: Generasi Muda Tulungagung Bangkitkan Kesenian Tradisional: Tayub, Jaranan, dan Campursari
Kini, di bengkel kecilnya, denting gamelan terus terdengar. Setiap nada yang lahir dari besi tua itu menjadi saksi bagaimana seorang anak desa, dengan segala keterbatasannya, mampu menjaga warisan leluhur.
Dari Tulungagung, karya Ipung mengalun jauh, menghubungkan tradisi dengan zaman. “Selama ada yang percaya pada gamelan, saya akan terus membuatnya. Agar gamelan tetap lestari sebagai budaya asli Indonesia khususnya Tulungagung,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana