TULUNGAGUNG - Di dunia yang semakin maju, kesenian tradisional makin ditinggalkan masyarakat.
Sebagai pegiat seni tradisional, Yayang Dewi Arin Maharani perlu terus melestarikan seni sinden.
Bukan hanya soal bertahan di pekerjaan, melainkan juga soal melestarikan budaya Jawa.
“Sejak kelas VI SD. Tahun berapa, saya lupa,” jawab Arin saat disinggung awal mula dia terjun di dunia sinden.
Orang tua Arin lantas mengikutkannya pada kursus sinden di beberapa wilayah berbeda. Dari sana, bakatnya makin terasah.
Perempuan yang tinggal di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, ini mengatakan ada perasaan senang yang dia rasakan begitu pentas di panggung sebagai seorang sinden.
Dia merasa terhibur dan nyaman karena bisa menyalurkan hobinya di bidang seni.
“(Karena ingin) melestarikan budaya Jawa, yang kedua hobi, yang ketiga hiburan, yang keempat gajinya lebih terasa,” kata Arin lantas terkekeh.
Dia mengungkapkan, satu kali mentas di wilayah Tulungagung, dia biasa dibayar sektiar Rp 300-350 ribu.
Jumlah bayaran bisa menyentuh hingga Rp 500-600 ribu saat pentas di luar wilayah Tulungagung.
Dalam sebulan, lanjut Arin, dia bisa pentas hingga 25 kali.
Tapi, itu cerita sebelum pandemi Covid-19 melanda tanah air.
Kini bisa dibilang pementasan seni budaya yang melibatkan sinden terbilang minim.
Bahkan, dia mengaku kini jumlah pentas dalam sebulan hanya mencapai 4-5 panggung saja.
“Mungkin peminat karawitan, uyon-uyon (sekarang) sangat minim,” ujar perempuan 24 tahun ini.
Minimnya kesadaran masyarakat untuk melestarikan seni budaya, ditambah kecenderungan masyarakat yang lebih tertarik pada kesenian modern, cukup dia sayangkan.
“Makanya gamelan dipelajari warga asing. Miris banget,” tegasnya.
Itu sebabnya, meski job manggung tak seramai 5 tahun lalu, Arin tetap aktif berkegiatan begitu menerima job atau undangan manggung.
Dia juga getol menularkan ilmunya melalui konten-konten di kanal media Instagram.
Tak melulu soal pekerjaan, dia berharap upaya ini bisa menumbuhkan rasa cinta budaya bangsa pada para generasi muda.
Itu sebabnya, dia mendorong agar siswa sekolah memanfaatkan berbagai media belajar budaya daerah melalui berbagai fasilitas yang ada.
“Semoga lebih bisa berkembang. Banyak diminati orang, terutama anak remaja. (Siswa di tingkat) SD itu kan bibit paling bagus buat nyinden,” kata ibu satu anak ini. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri