RADAR TULUNGAGUNG - Semangat tak bisa dipatahkan oleh nasib. Seperti kisah Masruri, warga Desa Sembon, Kecamatan Karangrejo, Tulungagung.
Pria 53 tahun ini tetap teguh berkarya meski mengalami kecelakaan pada 2021 lalu hingga membuatnya jadi disabilitas karena kehilangan tangan kanannya.
Kini, tangan kirinya menjadi alat utama untuk berkarya dalam bidang dekorasi kesenian, dan hasil karyanya bahkan telah menembus pasar luar pulau hingga Pulau Sumatra.
Sebelum kecelakaan itu, Masruri dikenal sebagai pekerja seni dekorasi dan ornamen jaranan. Dia sudah menekuni dunia ini sejak 1990 silam.
Baca Juga: Kerajinan Cobek Batu di Desa Sanggrahan Tulungagung, Warisan Budaya yang Terjaga
Namun, musibah empat tahun lalu membuatnya kehilangan kemampuan pada tangan kanan. Meski sempat kikuk dan kebingungan, tetapi semangatnya tak pernah luntur.
“Awalnya bingung, kikuk banget. Tapi saya coba belajar pakai tangan kiri. Lima hari latihan, langsung bisa menyesuaikan,” cerita Masruri dengan senyum.
Baca Juga: Referensi untuk Warga Tulungagung Ada 7 Ide Kerajinan Tangan dari Kain Flanel
Tak lama setelah itu, dia kembali menerima pesanan dekorasi jaranan. Pesanan itu adalah yang pertama setelah masa pemulihan.
Kini, setiap hari, Masruri menghabiskan waktu di bengkel kecil di rumahnya. Di sanalah, dia menggambar, memahat, dan mewarnai berbagai ornamen kesenian.
Baca Juga: Bikin Oleh-Olehmu Sendiri dari Tulungagung, Kreasi Unik dari Pasar Loak hingga Kerajinan Des
Mulai dari hiasan jaranan, dekorasi, hingga ornamen panggung yang sering dipesan komunitas seni lokal hingga luar Pulau Jawa. Apalagi jika berbicara wilayah Tulungagung dan sekitarnya tentu karyanya telah diakui.
“Kalau bahan susah, ya kadang saya akali sendiri. Pokoknya jangan berhenti. Orderan juga banyak yang datang dari Facebook, dari orang ke orang. Pokoknya getok tular,” ujarnya, sambil memperlihatkan beberapa karyanya yang tengah dikerjakan.
Beberapa karyanya bahkan sudah melanglang buana hingga luar Jawa. “Pernah kirim ke Sumatra. Dari situ, saya tambah semangat, berarti hasil perjuangan saya masih bisa diterima orang,” katanya dengan bangga.
Baca Juga: Mengenal Wahyudi Setiana, Pengusaha Kerajinan Kulit Tulungagung yang Tembus Pasar Internasional
Di sela kesibukannya, Masruri tetap rendah hati. Dia menyebut dirinya hanya seorang tukang dekor biasa, padahal hasil karyanya tak kalah indah dari seniman profesional.
Bagi Masruri, yang terpenting bukan soal pengakuan, melainkan bagaimana tetap bisa berguna dan berdaya meski dalam keterbatasan. “Saya tidak mau berhenti. Selama masih bisa gerak, masih bisa bikin, ya terus jalan,” tutupnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana