Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Wabup Tulungagung Ahmad Baharudin Ternyata Akrab dengan Dunia Pesantren, Bahkan Pernah Menjadi Santri di Pare Kediri

Sandy Sri Yuwana • Kamis, 23 Oktober 2025 | 05:01 WIB

Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin bantah hubungannya dengan Bupati Gatut Sunu Wibowo merenggang. (ADITYA YUDA/RADAR TULUNGAGUNG)
Wakil Bupati Tulungagung Ahmad Baharudin bantah hubungannya dengan Bupati Gatut Sunu Wibowo merenggang. (ADITYA YUDA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah semangat peringatan Hari Santri Nasional 2025, dengan mengusung tema "Mengawal Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Dunia", terdapat kisah santri inspiratif dari Tulungagung.

Dialah Ahmad Baharudin. Pria berusia 54 tahun tersebut menjadi cerminan nyata bagaimana nilai-nilai pesantren melahirkan pribadi tangguh, mandiri, dan berjiwa pemimpin di Tulungagung.

Dari seorang santri di pondok sederhana, kini ia menapaki tangga kepemimpinan sebagai Wakil Bupati Tulungagung dan pengusaha sukses yang tetap berpegang pada prinsip keikhlasan dan kerja keras ala santri.

Baca Juga: Gelar Peringatan Hari Santri Nasional, Bupati Gatut Sunu Minta Santri Ikut Berkontribusi di Pembangunan Daerah

Di momentum Hari Santri Nasional 22 Oktober 2025 ini, perjalanan hidupnya mengingatkan bahwa pesantren bukan tempat yang membatasi, melainkan menumbuhkan potensi.

“Santri itu bukan hanya orang yang belajar ilmu agama Islam saja, tapi mereka yang pernah menimba ilmu di pondok pesantren dan mengamalkannya dalam kehidupan,” tutur Ahmad Baharudin saat ditemui di kediamannya (21/10).

Ahmad Baharudin mengenang masa ketika ia menimba ilmu di sebuah pondok pesantren di daerah Pare, Kediri. Pengalaman itu meninggalkan jejak yang mendalam bagi hidupnya.

Baca Juga: Peringati Hari Santri Nasional 2025, Camat Kalidawir Teguhkan Peran Santri sebagai Penjaga Moral dan Penggerak Pembangunan Daerah

Selain itu dia juga sempat menempuh pendidikan formal di Madrasah Aliyah Negeri di Tulungagung, dan selalu aktif mengaji di lingkungannya ketika malam hari.

“Di pondok pesantren, hidup itu sederhana. Tapi justru dari kesederhanaan itulah tumbuh kebersamaan, semangat tolong-menolong, dan kemandirian,” kenangnya.

Prinsip itu ia bawa hingga terjun ke dunia usaha. Setelah menamatkan pendidikan, Baharudin sempat menjadi sales alat rumah tangga sebelum mulai mendirikan usaha konveksi.

Baca Juga: Santri Punya Peran Strategis dalam Mengawal Kemerdekaan Indonesia, Begini Pernyataan Ketua PCNU Tulungagung

Dari usaha konveksi pakaian, ia belajar mengelola produksi, pemasaran, hingga manajemen bisnis.

“Awalnya saya hanya jual pakaian, lalu berpindah ke seragam sekolah karena modelnya tidak ribet. Kemudian tahun 1996 sempat bangkrut, tapi saya bangkit lagi. Prinsipnya, jangan menyerah, tetap berusaha dan berdoa,” tuturnya.

Menurut Baharudin, banyak masyarakat umum yang belum mengerti bahwa menjadi santri di era modern bukan berarti pribadi yang tertinggal.

Karena baginya pesantren saat kini telah bertransformasi, mengajarkan ilmu agama sekaligus keterampilan dan pengetahuan umum.

“Santri zaman sekarang harus mengikuti perkembangan zaman. Jangan dianggap kolot. Justru dari pesantren lahir banyak tokoh bangsa, pengusaha, guru, dan pemimpin,” tegasnya.

Ia menolak pandangan yang menyebut santri hanya cocok di dunia religius atau pedesaan. Baginya, ilmu agama harus menjadi dasar dalam setiap profesi. Termasuk dalam berdagang, memimpin, atau berpolitik.

Baca Juga: Peringatan Hari Santri Nasional, Wapres Gibran Dorong Pesantren Kuasai AI dan Teknologi

“Yang penting hidup sesuai aturan agama dan bermanfaat bagi orang lain. Tidak harus kaya, tapi berguna bagi masyarakat. Itulah santri sejati,” tuturnya.

Ketekunannya di berbagai organisasi juga berawal dari jiwa santri. Sejak muda, Baharudin aktif di Remaja Masjid (Remas), IPNU, dan kemudian bergabung dengan Banser NU.

Pengalaman berorganisasi itulag yang membentuk wawasan kebangsaan dan semangat kepemimpinan. “Tahun 1997 saya ikut diklat Banser, lalu aktif di GP Ansor. Dari situ saya belajar banyak hal,” ucapnya.

Pada tahun 2012, ia mulai memutuskan untuk terjun di dunia politik. Dia mulai bergabung dengan Partai Gerindra, karena terinspirasi sosok Prabowo Subianto.

“Saya melihat Gerindra bukan sekadar partai, tapi gerakan. Gerakan untuk memperbaiki bangsa,” kata Baharudin.

Baca Juga: Bantah Tudingan Perbudakan, Himpunan Alumni Santri Lirboyo Datangi Gedung DPR RI, Marwah Pesantren Sudah Di Luar Batas

Langkahnya tidak sia-sia. Ia terpilih menjadi anggota DPRD Tulungagung pada 2014, kembali terpilih di 2019, hingga akhirnya dipercaya menjadi Ketua DPC Partai Gerindra Tulungagung.

Berkat kerja kerasnya, partai Gerindra di Tulungagung berhasil mengantongi dukungan besar pada Pilpres 2024.

Dengan dasar pengalaman panjang dan dukungan partai, Ahmad Baharudin kemudian dipercaya mendampingi Bupati Gatut Sunu Wibowo dalam Pilkada Tulungagung 2024. Keduanya kini memimpin kabupaten dengan semangat sinergi dan pengabdian.

“Saya selalu berpegang pada nilai-nilai pesantren yaitu ikhlas, sabar, tawakal, dan kerja keras. Santri itu harus bisa menjadi teladan di mana pun berada,” ujarnya.

Bagi Baharudin, Hari Santri bukan hanya perayaan seremonial, tetapi momentum untuk meneguhkan kembali kontribusi santri bagi bangsa.

“Dulu santri berjuang melawan penjajah. Sekarang santri berjuang dengan karya, pendidikan, dan ekonomi. Santri harus jadi pelopor kemandirian,” tutupnya.

Kisah Ahmad Baharudin menjadi bukti bahwa nilai-nilai pesantren mampu menuntun generasi muda menuju kemandirian dan kepemimpinan.

Di Hari Santri ini, pesan yang ingin ia sampaikan sederhana namun dalam “Santri tidak hanya mengaji, tapi juga mengabdi.” pesannya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#kediri #Wabup Tulungagung #tulungagung #Ahmad Baharudin #Hari Santri Nasiona