Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

46 Tahun Berkecimpung di Sastra Jawa, Narko Sodrun Diganjar Anugerah Sutasoma dari Balai Bahasa Jawa Timur, Begini Ceritanya

Sandy Sri Yuwana • Rabu, 29 Oktober 2025 | 18:17 WIB

Sunarko Budiman (tengah berkacamata) saat menerima Anugerah Sutasoma beberapa waktu lalu. (DOK PRIBADI)
Sunarko Budiman (tengah berkacamata) saat menerima Anugerah Sutasoma beberapa waktu lalu. (DOK PRIBADI)

RADAR TULUNGAGUNG - 46 tahun bukan waktu yang singkat untuk setia dan bertahan pada satu bidang.

Namun, bagi Sunarko Budiman, sastrawan Jawa asal Desa Balerejo, Kecamatan Kauman, Tulungagung perjalanan panjang itu justru menjadi bukti cinta yang tak lekang terhadap bahasa dan budaya Jawa.

Konsistensi pria kelahiran 1960 yang lebih suka dipanggil Narko Sodrun ini, menulis karya sastra Jawa sejak 1979 kini berbuah manis dengan penghargaan Anugerah Sutasoma 2025 dari Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur.

Baca Juga: Sunarko Sodrun Budiman dan Cerita Kedua Kalinya Sabet Hadiah Sastra Rancage

“Ini penghargaan kategori Sastrawan Jawa. Anugerah Sutasoma itu sebenarnya penghargaan bagi sastrawan yang dianggap berdedikasi menjaga dan mengembangkan sastra Jawa," jelasnya.

Bagi pria berkumis ini, penghargaan itu bukan sekadar simbol prestasi, tetapi penegasan bahwa sastra Jawa masih hidup dan harus terus dihidupkan.

Dia memulai kiprah profesionalnya pada tahun 1979, ketika cerpen pertamanya dimuat di majalah Jaya Baya.

Sejak itu, ia tak pernah berhenti menulis. Hingga kini, sudah ada 162 cerita cekak (cerpen Jawa) yang dimuat di berbagai majalah berbahasa Jawa seperti Jaya Baya, Panjebar Semangat, Titis Basa, Djaka Lodhang, Mekarsari, hingga Parikesit.

Selain cerpen, Sodrun juga menulis empat novel berbahasa Jawa dan delapan antologi cerita pendek. Tak hanya itu, ia juga menghasilkan banyak guritan (puisi Jawa) serta karya fiksi berbahasa Indonesia yang pernah meraih penghargaan nasional.

Tahun 1988, dia menjadi juara dua lomba mengarang fiksi nasional yang diadakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu. Dan dua tahun kemudian menyabet juara tiga kategori bacaan anak-anak.

Baca Juga: Sanggar Seni Candra Mustika Tulungagung Membingkai Warisan Budaya di Era Modern

Namun, di tengah keberhasilan itu, Sodrun mulai memilih fokus menulis dalam bahasa Jawa. “Kalau menulis bahasa Indonesia, saingannya banyak. Tapi sastra Jawa itu langka. Karena itu saya terpacu untuk melestarikan dan mengembangkannya,” ujarnya.

Kesetiaan itu membuahkan deretan penghargaan. Pada 2009, ia menerima Penghargaan Sastra Rancage, sebuah anugerah bergengsi dari yayasan besutan Ajip Rosidi untuk sastrawan daerah terbaik nasional.

Karyanya yang berjudul "Srengenge Tengange", bahkan dinobatkan sebagai novel sastrawan Jawa terbaik versi Balai Bahasa Jawa Timur tahun 2016, lalu juga berkesempatan diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Merenda Matahari (2020).

Tahun 2023, antologi cerpennya "Sura Agul-Agul" kembali meraih Sastra Rancagé Nasional.

Namanya juga sempat mencuat di panggung internasional ketika diundang dalam Ubud Writers and Readers Festival di Bali, berdiskusi bersama sastrawan dari Sunda, Lampung, dan Bali. Ia juga aktif dalam berbagai forum kebudayaan di tingkat nasional.

Baca Juga: Mengenal Candra Prasetyo, Perajin Wayang Kulit Asal Tulungagung yang Memiliki Niat Mulia untuk Budaya

Motivasi utamanya cukup sederhana, namun berarti sangat dalam. “Saya orang Jawa yang tidak ingin lupa Jawanya. Sastra dan bahasa Jawa tidak akan mati selama orang Jawa masih ada,” katanya tegas.

Meski begitu, ia tak menutup mata terhadap tantangan zaman. Anak-anak muda kini semakin jarang berbahasa Jawa, bahkan di rumah pun banyak orang tua yang lebih memilih berbahasa Indonesia dengan anaknya. “Saya tidak menyalahkan mereka, tapi lingkungannya memang tidak mendukung,” ujarnya lirih.

Karena itu, Sodrun berharap pemerintah melalui pemerintah daerah, dapat mengadakan workshop atau pelatihan etika dan tutur Jawa bagi para guru.

Baca Juga: Membedah Perbedaan Wayang Pagelaran dan Wayang Ruwat: Hiburan atau Ritual Sakral?

“Guru pun kadang sudah tidak memahami unggah-ungguh. Padahal, kalau tidak dari sekolah dan keluarga, siapa lagi yang bisa melestarikan?” katanya.

Kini, di usia yang kian matang, Sodrun tak ingin berhenti. Ia masih terus menulis, mengajar, dan membina murid di sanggarnya.

Setiap malam, tembang-tembang Jawa masih terdengar dari kediamannya di Desa Balerejo. Pertanda bahwa semangat untuk menjaga warisan leluhur belum padam. “Menulis bagi saya bukan sekadar hobi. Ini bentuk pengabdian kepada budaya,” pungkasnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#Anugerah Sutasoma #tulungagung #sunarko budiman #budaya jawa #narko sodrun