TULUNGAGUNG - Ketertarikan pada dunia rias wajah yang berawal dari sekadar hobi nyatanya mampu jadi ladang bisnis yang menjanjikan.
Setidaknya, hal ini yang dialami Desita Dwi Rahayu.
Mahasiswi asal Desa Gedangsewu, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, ini kini telah menjajaki bisnis make-up artist (MUA) selama kurang lebih tiga tahun sejak akhir 2022 lalu.
Perjalanan Desita dalam merintis bisnis MUA tidaklah instan.
Sebelum menjadikan make-up sebagai sumber pendapatan, aktivitas tersebut hanya dilakukannya untuk mengisi waktu luang dan mencari penyegaran.
“Sebelumnya saya hanya melakukan aktivitas ini (make-up) untuk refreshing dan mengisi waktu luang saja, karena memang hobi dari kecil suka make-up orang-orang,” ujarnya.
Titik baliknya dimulai ketika ia duduk di bangku madrasah aliyah negeri (MAN).
Beruntung saat itu ada pelatihan vokasi atau keterampilan kecantikan.
Meski awalnya ragu dan merasa tidak percaya diri, seorang sahabat mendaftarkannya karena mengetahui kecintaannya pada make-up.
Dari sana, bakat Desita mulai mendapat pengakuan.
Semangatnya kian terlecut ketika hasil karyanya mulai diunggah di Instagram dan mendapat respons positif dari kolega.
Bahkan, beberapa temannya mulai meminta bantuan Desita untuk merias mereka.
Dia mengaku, pada masa awal tersebut layanannya masih diberikan secara cuma-cuma.
“Masih gratis, no fee. Saya ikhlas walau tidak dibayar, karena hitung-hitung buat melatih tangan dan refreshing,” kenang Desita.
Berbekal keterampilan yang diperoleh secara otodidak, dukungan teman, dan permintaan pasar yang mulai meningkat, Desita memutuskan untuk melangkah lebih jauh.
Dia memberanikan diri untuk mengambil kursus MUA dan berhasil mendapatkan sertifikat di akhir 2022.
Proses validasi dari lingkungan terdekat dan dorongan tersebut yang akhirnya membangun rasa percaya dirinya.
“Awalnya karena hobi, terus mendapat validasi dan semangat dari teman-teman yang akhirnya membuat saya menjadi percaya diri dengan bakat saya. Lalu iseng membuka jasa MUA. Alhamdulillah, ada yang suka dan booking,” paparnya.
Dalam perjalanannya, ada berbagai kendala yang harus dia alami.
Desita mengungkapkan bahwa salah satu tantangan terbesarnya ada pada dinamika perubahan tren kecantikan.
Hal ini menuntutnya untuk selalu mengasah kemampuan agar tidak tertinggal.
“Yang membuat saya tertantang karena yang namanya tren make-up make up itu kan cepat sekali ya berubahnya,” ungkapnya.
Menyikapi hal ini, Desita memilih jalur mandiri untuk terus memperbarui tekniknya, yaitu melalui sewa model demi membuat portofolio dan mempelajari teknik-teknik baru.
Dia menyadari bahwa mengambil kursus tambahan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
“Jadi, saya merasa harus selalu update skill mengikuti perkembangan zaman ini supaya mendapatkan peluang baru melalui sewa model untuk bikin portofolio dan belajar teknik baru,” jelas perempuan 21 tahun ini.
Selain tantangan skill yang harus terus diasah, kendala lain muncul dari sisi modal dan pemasaran digital.
Sebagai pebisnis yang merintis dari nol, Desita harus memutar modal sambil menjalani statusnya sebagai mahasiswi.
Dia juga mengakui masih belum terlalu aktif dalam membuat konten digital yang sesuai dengan tren, padahal hal tersebut penting untuk memperluas peluang.
Meski demikian, Desita terus berupaya optimistis terhadap masa depan bisnisnya.
Dia berharap jasa MUA miliknya bisa semakin dikenal masyarakat luas, khususnya warga Tulungagung dan sekitarnya.
Tidak hanya itu, Desita pun memiliki ambisi besar untuk memiliki galeri MUA sendiri yang menyediakan beragam koleksi pakaian.
“Semoga semakin banyak dikenal masyarakat luas, khususnya masyarakat Tulungagung dan sekitar. Serta bisa memiliki galeri MUA sendiri dengan banyak pilihan koleksi attire,” harapnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri