RADAR TULUNGAGUNG – Di sudut Pasar Burung Beji, Jalan Ki Mangun Sarkoro, Tulungagung bunyi halus pahatan kayu terdengar bersahutan dengan hiruk pikuk pasar.
Di sanalah Laudianto, pria berusia 45 tahun, duduk tekun dengan sepotong kayu di tangannya. Dari bilah kayu itu, perlahan-lahan muncul bentuk anggun warangka keris yang menjadi bagian tak terpisahkan dari pusaka leluhur Jawa.
Laudianto dikenal dengan sebutan Meranggi, sebutan bagi para pembuat warangka keris. Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar profesi, tapi panggilan jiwa.
“Saya penerus dari bapak saya, dari abah, dari leluhur. Enggak pernah sekolah khusus buat ini. Tapi dari kecil lihat, akhirnya bisa,” tuturnya sambil tersenyum.
Laudianto tumbuh di Desa Rejoagung, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung. Dari kecil ia kerap memperhatikan ayahnya membuat warangka tanpa pernah benar-benar diajari.
Hanya dengan melihat, tangannya hafal gerak pahat, matanya peka terhadap urat kayu, dan hatinya tahu kapan karya itu menjadi sempurna.
“Bapak saya dulu kaget. Saya tidak pernah belajar, tapi tiba-tiba bisa bikin tujuh warangka pertama saya,” kenangnya.
Kini, dari rumah produksinya di Pasar Burung Beji, Laudianto melanjutkan tradisi keluarga yang kian langka.
Dia menjelaskan, pengrajin seperti dirinya untuk saat ini tergolong sangat langka, bahkan hanya dua orang meranggi yang masih aktif berkarya. "Yang lain mungkin sudah berganti profesi," jelasnya sambil tersenyum.
Baca Juga: Pamor Keris ini Mirip Salah Satu Alat Musik Gamelan Jawa
Dia membuat warangka tidak hanya untuk keris saja, tapi juga warangka tombak dan pedang, dengan gaya Surakarta, Yogyakarta, hingga khas Jawa Timur.
Ia menggunakan berbagai jenis kayu seperti jati, timo, cendana dan jenis kayu lainya. Namun kini, bahan-bahan itu makin sulit ditemukan. “Kalau dulu cari kayu timo di Gunung Budeg masih banyak. Sekarang sudah langka,” keluhnya.
Dari satu potong kayu, ia bisa menyelesaikan warangka dalam dua hingga tiga hari. Namun untuk karya halus dari kayu utuh atau biasa disebut iras, bisa butuh waktu hingga seminggu.
“Harga warangka bermacam-macam tergantung kayu dan pesanan garapnya. Kalau kayunya jati tua sekitar Rp. 300 ribu, cendana bisa Rp. 400 sampai Rp. 450 ribu. Tapi kalau yang cendana wangi, bisa sampai jutaan,” ujarnya sambil menepuk lembut permukaan kayu yang baru diampelas.
Meskipun kini persaingan semakin ketat di era digital, Laudianto tetap mempertahankan cara tradisional. Ia belum menjual karyanya lewat toko online, namun pembeli tetap berdatangan, bahkan dari luar Jawa.
Baca Juga: Keris ini menggambarkan tentang Kerasnya Kehidupan Padang Pasir, Tetapi Tuahnya Ngrejekeni
“Pernah kirim ke Sumatera dan Kalimantan. Kadang mereka orang Tulungagung yang merantau, terus pesan dari sini,” katanya.
Bagi Laudianto, menjadi meranggi bukan sekadar membuat warangka, tapi melestarikan budaya bangsa. Ia tahu, zaman terus berubah.
Anak muda lebih tertarik pada gawai daripada gergaji dan pahat. Namun ia tetap bertekad menjaga warisan ini agar tak punah.
Baca Juga: Keris Ini Mengilhami Pembangunan Jembatan Suramadu, Kok Bisa?
“Sekarang banyak yang muda enggak tertarik. Padahal ini budaya Nusantara. Saya berharap ada yang mau belajar, biar enggak hilang,” ujarnya.
Sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya, Laudianto menatap sebilah warangka yang hampir selesai. Pahatan lembutnya seperti menyimpan doa.
Di setiap serat kayu, ia menanamkan cinta. Cinta pada pusaka, cinta pada leluhur, dan cinta pada budaya Tanah Jawa. ****
Editor : Dharaka R. Perdana