RADAR TULUNGAGUNG - Masih jelas dalam ingat Kapolres Tulungagung, AKBP Muhammad Taat Resdi, saat diajak mengikuti program Guru Tamu yang diinisiasi Radar Tulungagung.
Dia pun menilai kegiatan ini menjadi momentum penting bagi kepolisian untuk hadir lebih dekat dengan dunia pendidikan sekaligus melakukan pendekatan persuasif kepada generasi muda Tulungagung.
“Waktu itu ketika saya diajak menjadi guru tamu di berbagai sekolah, saya sangat menyambut baik ajakan Radar Tulungagung tersebut. Saya tidak berpikir lama untuk setuju, karena ini kesempatan baik untuk menjangkau anak-anak usia sekolah, khususnya SMA, yang saat ini menjadi perhatian dalam analisis gangguan kamtibmas,” jelas AKBP Muhammad Taat Resdi.
Dia menuturkan, berdasarkan hasil analisis kamtibmas di wilayah Tulungagung, berbagai gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) kerap melibatkan anak-anak usia sekolah menengah.
Di antaranya, perkelahian antarpelajar, konflik antarperguruan silat, hingga kasus kekerasan yang terjadi di beberapa daerah.
“Banyak pelaku maupun korban kekerasan seksual di Tulungagung yang masih usia sekolah. Termasuk kasus bullying. Meski jumlahnya tidak banyak, tetapi potensinya tinggi. Ini semua menjadi perhatian serius kami,” ujarnya.
Baca Juga: Tiga Bulan, Polres Tulungagung Ungkap 36 Kasus Narkoba dengan 40 Tersangka, Begini Modusnya
Karena itu, kapolres melihat program Guru Tamu sebagai langkah strategis untuk memberikan edukasi dan sosialisasi secara langsung kepada pelajar agar terhindar dari perilaku negatif.
Melalui program ini, dia juga berharap dapat membangun komunikasi dua arah antara aparat penegak hukum dan generasi muda.
Baca Juga: Fakta Terungkap, Kedungwaru Jadi Kecamatan Paling Rawan Narkoba di Tulungagung, Ini Buktinya
“Saya ingin anak-anak kita merasa dekat dengan polisi, bukan takut. Kita hadir untuk membimbing dan mengajak mereka menjauhi hal-hal yang berpotensi menjadi gangguan kamtibmas,” imbuhnya.
Lebih lanjut, AKBP Taat mengungkapkan bahwa antusiasme para pelajar terhadap program Guru Tamu melebihi ekspektasinya.
Dia mengaku kagum melihat semangat dan keterbukaan siswa dalam berdiskusi maupun menjawab kuis yang diberikan saat sesi interaktif.
“Saya tidak menyangka respons anak-anak kita begitu luar biasa. Ini menunjukkan mereka haus akan edukasi dan perhatian dari pihak luar, termasuk kepolisian,” tuturnya.
Sebagai tindak lanjut, Polres Tulungagung juga telah mengundang 77 ketua OSIS dan 77 guru pembina OSIS dari SMA sederajat untuk berdiskusi dan menyerap berbagai persoalan di sekolah.
Dari pertemuan itu, muncul sejumlah masukan, termasuk soal kekhawatiran guru dalam menegakkan disiplin karena takut diintimidasi pihak luar.
Menanggapi hal tersebut, kapolres bersama dinas terkait seperti dinas pendidikan, Kemenag, Cabdindik Jatim Wilayah Tulungagung, dan PGRI tengah merumuskan langkah konkret.
Salah satunya, penerapan perjanjian kontrak antara siswa dengan sekolah sebagai dasar hukum dalam pembinaan dan penegakan aturan.
“Nantinya, setiap siswa yang diterima di sekolah akan menandatangani kontrak di atas materai, berisi kesanggupan mematuhi aturan dan memberikan kewenangan kepada guru untuk melakukan pembinaan. Ini supaya guru tidak ragu lagi menegakkan disiplin,” jelasnya.
Kapolres berharap kolaborasi lintas sektor ini dapat menjadi model pembinaan karakter bagi pelajar serta memperkuat sinergi antara aparat keamanan, dunia pendidikan, dan media.
“Program Guru Tamu ini bukan sekadar berbagi ilmu, tapi membangun generasi muda yang berkarakter, berdisiplin, dan sadar hukum. Semoga bisa terus berlanjut di seluruh sekolah di Tulungagung,” pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana