RADAR TULUNGAGUNG - Aroma segar buah-buahan langsung menyergap indra penciuman begitu memasuki kediaman Nimas Cik Yunita Astutik di Desa Waung, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung.
Tumpukan keranjang berisi buah impor hingga lokal tertata rapi, siap diantar kepada pelanggan di Tulungagung dan sekitarnya.
Di balik kesibukan transaksi yang mencapai puluhan juta rupiah per hari tersebut, perempuan yang akrab disapa Nimas ini menyimpan kisah getir perjuangan mempertahankan asap dapur saat badai pandemi Covid-19 nyaris merenggut seluruh aset yang dimilikinya.
Baca Juga: Tubuh Dehidrasi di Cuaca Panas, Berikut 6 Buah Kaya Air yang Dapat Membantu Menjaga Cairan Tubuh
Perjalanan bisnis Nimas tidak instan apalagi mulus. Titik baliknya bermula pada 2017 silam ketika vonis hipertiroid memaksanya menanggalkan seragam karyawan dan memutar otak untuk bertahan hidup tanpa gaji bulanan.
Dengan sisa keberanian dan keterbatasan ekonomi, Nimas memulai langkah pertamanya di dunia niaga hanya dengan bermodal uang Rp 25 ribu untuk memborong durian sortiran yang kemudian dia pasarkan melalui media sosial.
"Jadi waktu itu kan saya sakit hipertiroid. Akhirnya saya resign kerja. Saya memberanikan diri untuk usaha. Nah, usaha pertama itu modalnya Rp 25 ribu dari jualan durian," kenang Nimas, menceritakan awal mula dia terjun ke dunia usaha.
Baca Juga: Mengenal Buah Matoa, Si Manis dari Papua yang Langka dan Penuh Nutrisi
Kala itu, Nimas harus menelan gengsi dan bekerja ekstra keras karena tidak memiliki kendaraan pribadi. Kondisi ini membuatnya rela mengantar sendiri pesanan buah dengan promosi gratis ongkos kirim demi menarik minat pembeli di jagat maya.
Ketelatenannya membuahkan hasil. Dari keuntungan menjual durian sortiran seharga Rp 2.500 per biji, dia mampu mengumpulkan modal untuk menyewa lapak di wilayah Desa Sobontoro. Tepatnya di sisi selatan simpang empat Gledug selama satu bulan sebagai masa percobaan.
Namun, roda nasib berputar drastis ketika pandemi Covid-19 melanda pada awal 2020. Kebijakan pembatasan sosial membuat lapaknya sepi pembeli hingga menyebabkan stok buah-buahan membusuk tak terjual.
Baca Juga: Buah Kersen, Nostalgia Manis dari Pinggir Jalan dengan Sejuta Manfaat
Situasi makin pelik karena Nimas memiliki tanggungan pembayaran kepada pemasok di pasar dengan nominal puluhan juta rupiah, yang akhirnya memaksanya mengambil jalan pintas meminjam uang pada rentenir atau bank thithil.
Keputusan tersebut justru menjadi blunder fatal karena bunga pinjaman yang membengkak membuatnya terjebak dalam lingkaran utang yang nyaris tak berujung hingga kiosnya terpaksa gulung tikar.
"Akhirnya saya beranikan diri buat ambil utang di bank thithil. Pertama Rp 1 juta, terus buat kembalikan ternyata masih kurang. Akhirnya saya ambil dari beberapa bank thithil. Terus ternyata semakin mengikat," ungkapnya dengan nada serius.
Dalam kondisi terpuruk dan trauma berjualan buah, Nimas mencoba peruntungan lain dengan menjajakan es dawet hitam khas Purwokerto yang hasilnya ia sisihkan sedikit demi sedikit untuk mencicil tumpukan utang.
Proses pelunasan utang tersebut memakan waktu yang tidak sebentar. Bahkan, dia harus rela menjual berbagai aset berharga dan memanfaatkan bantuan Program Keluarga Harapan (PKH) agar bisa benar-benar bebas dari jeratan finansial pada 2021.
Setelah beban utang terangkat, Nimas kembali memberanikan diri menekuni bisnis buah-buahan dari nol dengan sistem online dari rumah.
Kali ini dia mulai dengan menjajakan alpukat dan duku sebelum akhirnya merambah ke komoditas buah impor.
"Baru saya beranikan diri buat jualan lagi. Saya bukanya di rumah. Tapi sebelumnya saya online-kan lagi. Merintis pertama itu saya jualan kalau ndak salah alpukat atau duku," jelasnya.
Kini, kerja kerasnya mulai menampakkan hasil yang signifikan dengan perputaran uang yang cukup deras setiap harinya.
Baca Juga: Penderita Asam Urat Harus Menghindari 6 Jenis Buah Berikut, Begini Kandungannya
Tapi, Nimas tetap saja masih harus berjibaku dengan tantangan manajemen sumber daya manusia (SDM) dalam melatih karyawan agar sesuai standar kerjanya.
Nimas menekankan bahwa angka penjualan yang tinggi saat ini bukanlah keuntungan bersih, melainkan masih harus dipotong berbagai biaya operasional dan risiko kerugian akibat buah yang rusak.
"Omzet dalam satu hari untuk saat ini sekitar Rp 20 sampai Rp 25 juta. Itu omzet kotor, belum dikurangi modal, buah yang rusak, dan lain-lain," ucapnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana