RADAR TULUNGAGUNG - Mimpi menjadi pesepak bola profesional memang belum dikecap oleh Medi Redondo akibat cedera menghantamnya di usia muda.
Namun momen itu justru jadi titik balik yang mengantar Medi Redondo menemukan jalan baru sebagai juru taktik yang patut diperhitungkan di kancah persepakbolaan Jawa Timur.
Sosok yang kini dipercaya mengarsiteki Perseta 1970 ini menuturkan bahwa keterikatannya pada sudah terjalin sejak ia lulus SMA pada 1996 dengan memperkuat skuad Perseta junior.
Baca Juga: Perseta 1970 Ogah Patok Target Muluk di Liga 4 Jatim, Dipicu Keterbatasan Waktu dan Anggaran Mepet
Tapi karirnya mendadak mandek saat memasuki jenjang senior akibat cedera ligamen yang dideritanya di kisaran usia 20 tahun.
Medi mengenang betapa sulitnya situasi saat itu karena proses pemulihan cedera ligamen membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan memiliki risiko kambuh yang cukup tinggi sehingga memaksanya untuk gantung sepatu lebih dini.
"Penyembuhannya tiga bulan (sampai) enam bulan, gampang kumat lagi. Prei ae (berhenti bermain saja)," ujar Medi menceritakan alasannya pensiun dini.
Tak ingin meninggalkan dunia si kulit bundar sepenuhnya, Medi lantas banting setir dengan mengambil lisensi kepelatihan pada usia 22 tahun.
Akhirnya dia memulai petualangan baru yang kelak mempertemukannya dengan talenta-talenta muda berbakat asal Tulungagung seperti Yongki Aribowo.
"Cara saya yang jadi pelatih terus saya sendiri setelah mencoba menjadi pelatih itu eranya Yongki Ari Wibowo dan Dede Hugo," ungkapnya.
Baca Juga: Jika Menang Pilkada Tulungagung, Santoso Optimis Kerek Perseta ke Liga 1 Kurang Dari Empat Tahun!
Perjalanan karier kepelatihannya pun tidak serta-merta instan, melainkan melalui proses panjang dari berbagai turnamen usia dini.
Mulai dari membawa tim asal Tuban menjuarai Piala Arsenal di Surabaya, hingga petualangannya bersama PSBK Blitar yang membawanya terbang ke kancah internasional.
Terkait pengalaman melatih di luar negeri tersebut, Medi menjelaskan bahwa dirinya pernah membawa skuad PSBK Blitar U-15 berkompetisi di Tiongkok sebanyak dua kali dengan torehan prestasi yang cukup membanggakan bagi tim daerah.
"Terus saya dua kali ke Cina juara 2 dan juara 1, U-15. Itu saya pegang Blitar, wakilnya dari PSBK Blitar," jelasnya.
Medi Redondo sendiri telah mengoleksi berbagai trofi mulai dari Piala Menpora, Piala Wali Kota Kediri, hingga Piala Wali Kota Blitar.
Baca Juga: Kubur Mimpi Berlaga di Babak Nasional, Perseta 1970 Kalah 0-2 Lawan NZR Sumbersari
Namun dia mengaku bahwa pencapaian tertingginya adalah saat berhasil membawa PSBK Blitar U-17 merajai kompetisi nasional pada tahun 2019 silam. "Setelah itu paling tertinggi lagi U-17 Soeratin Cup juara 1 nasional," kenangnya.
Kini, dengan segudang pengalaman melatih tim tetangga, Medi akhirnya memutuskan pulang kampung untuk menukangi Perseta 1970 yang akan berlaga di Liga 4 Jatim musim depan dengan membawa misi khusus untuk pembinaan pemain lokal.
Medi menegaskan bahwa motivasi utamanya menerima pinangan ini bukan sekadar mencari prestasi, melainkan panggilan hati sebagai putra daerah yang ingin memastikan mata rantai regenerasi pesepak bola asli Tulungagung tidak terputus.
Baca Juga: Napas Terakhir Perseta 1970 di Grup LL Liga 3 Jatim
"Kalimat motivasi saya karena saya orang asli Tulungagung gimana supaya anak muda Tulungagung itu selalu ada yang muncul terus regenerasinya," tuturnya.
Terlebih lagi, regulasi kompetisi tahun ini yang mewajibkan penggunaan pemain lokal menjadi tantangan sekaligus peluang yang ingin dimaksimalkan oleh Medi untuk mengorbitkan potensi-potensi tersembunyi dari Kota Marmer.
"Jadi ini kan konsepnya karena tahun ini kita itu ndak boleh mengambil dari luar kota, murni putra daerah," pungkasnya. ****
Editor : Dharaka R. Perdana