Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Tolak Stigma Klenik, Empu Keris Muda Asal Tulungagung Kenra Dwi Fajri Lestarikan Warisan Mbah Canggah lewat Metalurgi

Aditya Yuda Setya Putra • Kamis, 11 Desember 2025 | 17:54 WIB

Kenra Dwi Fajri menunjukkan salah satu koleksi keris hasil karyanya di salah satu sesi pemotretan. (DOK PRIBADI)
Kenra Dwi Fajri menunjukkan salah satu koleksi keris hasil karyanya di salah satu sesi pemotretan. (DOK PRIBADI)

​RADAR TULUNGAGUNG - Dunia keris atau tosan aji sering kali dipandang sebelah mata oleh generasi milenial sebagai sesuatu yang kuno dan klenik, tak terkecuali di Tulungagung.

Namun, hal ini ditepis oleh Kenra Dwi Fajri. Pemuda 30 tahun asal Desa Sambitan, Kecamatan Pakel, Tulungagung ini justru memilih jalan menjadi seniman pembuat keris dengan berbekal riset akademis dan tanggung jawab sejarah keluarga.

​Ketertarikannya pada dunia tosan aji tidak muncul secara tiba-tiba, tetapi tumbuh dari akar budaya yang kuat di lingkungan keluarganya serta rasa ingin tahu yang besar terhadap struktur logam masa lampau.

Baca Juga: Kisah Laudianto Pengrajin Warangka Keris di Tulungagung, Karyanya Tembus Pasar Sumatera dan Kalimantan

Ken mengenang bahwa benih cintanya pada budaya tradisi sudah tertanam sejak lama. Bermula dari ketertarikannya pada kesenian wayang dan karawitan sebelum akhirnya mengerucut pada benda pusaka karena profesi sang kakek.

“Awalnya aku suka di bidang budaya kayak wayang, karawitan, dan lain-lain. Terus kebetulan mbah saya tukang jamas keris di desa. Cuma nggak sampai proses warangan, cuma mutih aja,” ungkap pria yang karib disapa Ken ini.

Aktivitas sang kakek yang kerap membersihkan pusaka memantik rasa penasaran Ken pada aspek material keris, bukan sekadar sisi mistisnya.

Baca Juga: Bukan Jenis Pamor Tiban, Konon Keris dengan Pamor Kenanga Ginubah Ini Bisa Mendongkrak Prestasi Akademik, Benarkah Demikian?

Dia mulai mengagumi aspek metalurgi, bagaimana besi-besi tua ditempa dan dibentuk hingga menjadi pusaka yang bernilai tinggi, sebuah ketertarikan yang sempat timbul tenggelam sebelum akhirnya dia menemukan wadah akademis yang tepat.

​Keseriusannya dibuktikan dengan menempuh pendidikan formal di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 2017.

Dia mengambil langkah berani dengan masuk program studi D-4 Keris dan Senjata Tradisional Jurusan Kriya, sebuah keputusan yang mematangkan tekniknya dalam mengolah logam hingga lulus pada 2020.

Baca Juga: Satu-satunya Empu Keris di Tulungagung yang Mendunia, Langganan Menjadi Penjamas Keris Presiden Indonesia ke 7 Jokowi

Namun, jauh sebelum mengenyam bangku kuliah, tepatnya sejak 2016, Ken sudah memberanikan diri untuk mulai membuat keris karyanya sendiri.

Bagi Ken, membuat keris bukan semata-mata soal komoditas ekonomi atau mengejar keuntungan finansial. Melainkan sebuah proses penciptaan karya seni yang personal.

Dia menegaskan bahwa setiap bilah yang dia tempa awalnya ditujukan sebagai koleksi pribadi dan wujud ekspresi diri.

“Semua karyaku tujuan awal semua ya bikin karya pribadi. Cuma kalau ada yang mau memahari (membeli) itu tidak apa-apa. Berarti kan ada yang suka sama karyaku. Itu wujud salah satu dari apresiasi,” jelasnya.

​Apresiasi terhadap karya Ken tidak hanya datang dari penikmat lokal. Ketekunannya dalam menjaga detail dan pakem pembuatan keris sempat menarik perhatian penikmat seni dari mancanegara saat dia mengikuti pameran. ​

Baca Juga: Pamor Keris ini Mirip Salah Satu Alat Musik Gamelan Jawa

“Ada salah satu mahasiswa pertukaran pelajar dari Belgia itu memahami karyaku waktu pameran di ISI Jogja, (pada) 2018,” kenangnya.

Namun, di balik ketekunannya bergelut di dunia keris, ada alasan fundamental yang membuat Ken bertahan di jalur ini.

Bukan sekadar hobi, dia merasa memikul beban sejarah keluarga setelah mengetahui bahwa leluhurnya dulunya juga merupakan seorang pembuat keris yang jejak karyanya masih tersimpan hingga kini.

Baca Juga: Keris ini menggambarkan tentang Kerasnya Kehidupan Padang Pasir, Tetapi Tuahnya Ngrejekeni

Fakta sejarah keluarga inilah yang membulatkan tekadnya untuk tidak membiarkan rantai keahlian tersebut putus di generasinya.

“Setelah tahu itu, timbul rasa tanggung jawab untuk melestarikan supaya khazanah budaya perkerisan ini ndak putus ke generasi sebelumku,” ucap Ken dengan nada serius.

​Ken menyadari tantangan terbesar saat ini adalah persepsi generasi muda yang sering kali keliru dalam memandang keris.

Baca Juga: Keris Ini Mengilhami Pembangunan Jembatan Suramadu, Kok Bisa?

Banyak yang masih terjebak pada pandangan bahwa keris adalah benda magis yang menakutkan atau simbol konservatif yang ketinggalan zaman, padahal di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan dan estetika yang tinggi.

Dia merasa sayang jika warisan nenek moyang yang sarat makna ini harus tergerus dan digantikan oleh hegemoni budaya asing yang kian masif masuk ke lini kehidupan anak muda.

Oleh karena itu, dia berharap generasi seusianya mulai mau menoleh dan merawat identitas budayanya sendiri sebelum benar-benar hilang ditelan zaman.

“Jangan sampai lupa budaya sendiri. Karena kalau nggak kita yang melanjutkan, mau siapa lagi,” sebutnya. ****

Editor : Dharaka R. Perdana
#tulungagung #generasi milenial #keris #Tosan Aji