RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah gempuran dunia modern, profesi pranatacara atau MC Jawa tetap eksis di berbagai daerah, termasuk Tulungagung.
Seperti yang ditekuni Didit Agung Prasetyo, seorang dhalang manten muda Tulungagung yang menjembatani generasinya dengan kearifan leluhur.
Berbekal pendidikan pedalangan dan kepekaan bahasa krama, dia memadukan pakem dengan sentuhan modern.
Didit bukan hanya memandu acara, melainkan menjaga ruh budaya Jawa tetap relevan di hati anak muda saat ini.
Baca Juga: Perjalanan Karier Dimas Azhari Menjadi MC Profesional
Pilihan itu tidak berawal dari panggung besar, tetapi dari undangan-undangan kecil tetangga yang memintanya untuk nyandra manten.
Kala itu, dia belum berani menerima. Perasaan belum pantas, belum menguasai, membuatnya menolak hal yang kini justru jadi jalan hidupnya. Namun suatu hari ia memberanikan diri tampil. Momen itu mengubah segalanya.
“Pertama kali nge-MC, saya merasa dihormati keluarga manten. Durasi pendek, tapi honor lumayan. Dari situ, saya merasa ini bisa jadi jalan hidup,” kenang pria asal Desa Majan, Kecamatan Kedungwaru, ini.
Didit bukan pemula dalam bahasa Jawa. Dia menempuh pendidikan seni pedalangan di SMKN 9 Surabaya (SMKI), lalu melanjutkan ke ISI Surakarta.
Modal itu membuatnya mengenal bahasa Jawa krama, teknik bertutur, hingga estetika tembang. Tahun 2021, dia mulai mendalami prosesi adat siklus kehidupan. Dari lamaran, siraman, midodareni, akad, panggih, hingga ngunduh mantu, dia pelajari bukan sekadar urutan, melainkan makna-maknanya.
“Budaya Jawa bukan sekadar tradisi. Itu adalah warisan nilai yang menjaga keseimbangan. Tata krama, kesabaran, harmoni, semua dibalut simbol-simbol yang penuh estetika," terangnya penuh keyakinan.
Di panggung adat, dia merasa terhubung dengan leluhur justru ketika mengenakan busana jangkep dan menjelaskan simbol-simbol prosesi. Salah satunya kembar mayang yang baginya adalah doa dalam bentuk rupa.
Tantangan terberatnya justru datang dari dunia modern tempat ia hidup. Banyak generasi muda tak lagi fasih berbahasa Jawa krama.
Namun, Didit tak melihat itu sebagai sebuah ancaman bagi profesinya. “Bahasa Jawa krama ada penikmatnya sendiri,” ujarnya tenang.
Sementara maraknya MC modern yang lebih “entertain” tak membuatnya gentar. Dunia adat, baginya, punya panggung dan penikmat sendiri.
“Adat Jawa itu sakral. Ada porsinya. Akad dengan bahasa agama, panggih dengan bahasa Jawa, resepsi dengan bahasa Indonesia. Semua ada tempatnya.” ujarnya
Menurutnya, adanya media sosial di era modern ini justru menjadi sahabat terbesarnya. Banyak klien menemukan jasanya lewat Instagram, TikTok, atau konten-konten edukasi bahasa Jawa yang ia unggah.
Sebelum tampil, Didit tak hanya menyiapkan rundown, busana, dan koordinasi dengan vendor. Namun, ada satu ritual kecil yang ia simpan rapat. “Saya selalu baca mantra Jawa, tapi tidak bisa saya spill, hahaha,” ujarnya sambil tertawa.
Dalam menjalankan profesinya, gaya bahasanya selalu ia sesuaikan dengan tamu. Yang tua diberi krama alus, yang muda diberi bahasa komunikatif yang tetap sopan.
Bahkan, dia dituntut terus beradaptasi. Rundown dibuat simpel, gaya penyampaian lebih segar, musik modern kadang disisipkan, bahkan jokes ringan tak ia hindari. Namun, satu hal tak berubah, ia harus tetap menjaga ruh adat.
Sebagai pranatacara, Didit merasa punya peran besar dalam pelestarian bahasa Jawa. Dia membuat konten berbahasa krama halus, aktif mengajar di sekolah MC, dan terlibat dalam berbagai kegiatan kebudayaan.
“Bahasa Jawa itu menyimpan unggah-ungguh yang harus tetap dijaga. Penting untuk generasi muda,” ucapnya.
Baca Juga: Membedah Perbedaan Wayang Pagelaran dan Wayang Ruwat: Hiburan atau Ritual Sakral?
Dia juga sering merasa profesi ini adalah jalan membantu orang lain. Banyak keluarga belum memahami prosesi adat Jawa dan ia bisa langsung memberi edukasi saat dibutuhkan.
Baginya, masa depan MC Jawa justru cerah. Di tengah modernitas, banyak orang kembali mencari akar, kembali kepada adat. “Profesi MC Jawa 10–15 tahun ke depan bukan punah, tapi justru bangkit,” katanya optimis.
Harapan terbesarnya terhadap budaya Jawa adalah satu, yaitu agar budaya tidak hanya ada, tetapi dipakai, dirayakan, dan dirasakan oleh generasi sekarang dan yang akan datang.
Dan untuk mimpinya sendiri, dia tersenyum sambil menatap jauh, “Cita-cita saya jadi dhalang wayang kulit memang sudah terkubur. Tapi setidaknya, saya masih bisa jadi dhalang manten.” pungkas Didit penuh makna. ****
Editor : Dharaka R. Perdana