RADAR TULUNGAGUNG – Dunia dapur identik dengan ritme cepat, tekanan tinggi, dan karakter keras.
Namun dari ruang yang panas itulah lahir sebuah komunitas bernama Mbelide Kitchen, wadah persaudaraan para pekerja dapur yang menjunjung tinggi kerja sama dan kerendahan hati.
Didirikan pada 2014, Mbelide Kitchen kini telah berkembang menjadi komunitas dengan ratusan anggota yang berasal dari berbagai latar belakang profesi dapur. Mereka tergabung dari dapur Hotel, Resto bahkan UMKM.
Mulai dari steward, helper, cook, hingga chef profesional dari berbagai daerah tergabung di dalamnya.
Founder Mbelide Kitchen, Chef Hadi Saiun, yang akrab disapa Monster Chef, mengatakan komunitas ini lahir dari kegelisahan sederhana: ego yang kerap tumbuh di dunia dapur.
“Dulu Mbelide Kitchen berawal dari keinginan untuk menekan ego seorang chef. Sebuah hidangan yang tersaji di meja tamu itu tidak lahir dari satu orang, tapi hasil kerja panjang banyak tangan,” ujarnya.
Menurut Chef Saiun, dapur adalah ruang kolaborasi. Steward yang membersihkan peralatan, helper yang menyiapkan bahan, hingga chef yang memasak di depan kompor memiliki peran sama pentingnya.
Karena itu, ego tinggi justru bisa merusak harmoni kerja.
Filosofi Mbelide: Taat Aturan, Berpikir Out of The Box
Nama Mbelide sendiri memiliki makna filosofis. Chef Saiun menyebut Mbelide identik dengan orang-orang yang out of the box.
Mereka taat pada aturan, namun memiliki cara unik dan kreatif untuk mencapai tujuan yang sama.
“Mbelide itu bukan pemberontak, tapi pemikir. Kami patuh aturan dapur, tapi tidak mematikan kreativitas,” jelasnya.
Nilai tersebut menjadi identitas kuat komunitas Mbelide Kitchen hingga hari ini.
Para anggotanya diajak untuk saling menghormati, berdiskusi, dan tumbuh bersama tanpa merasa paling hebat.
Persaudaraan Tanpa Ikatan
Uniknya, Mbelide Kitchen tidak memiliki aturan keanggotaan yang kaku. Chef Saiun menegaskan, komunitas ini adalah persaudaraan tanpa ikatan.
“Kami saling menasihati, saling mengingatkan. Tapi tidak ada aturan yang mengikat satu sama lain. Semua berjalan atas dasar kesadaran,” katanya.
Model komunitas seperti ini justru membuat Mbelide Kitchen bertahan hingga 11 tahun. Rasa simpati dan empati tumbuh alami di antara para anggotanya.
Chef Saiun mengaku bangga melihat bagaimana para anggota Mbelide Kitchen saling menghormati, meski datang dari latar belakang dapur dan posisi yang berbeda.
Mimpi Besar: Resto Edukasi
Setelah lebih dari satu dekade berjalan, Mbelide Kitchen menyimpan mimpi besar.
Mereka ingin membangun sebuah restoran yang bukan sekadar tempat makan, tetapi juga ruang belajar dapur.
“Harapannya kami bisa membuat resto yang di dalamnya menjadi tempat pembelajaran bagi siapa pun yang ingin belajar tentang dunia dapur,” ungkap Chef Saiun.
Bagi Mbelide Kitchen, dapur bukan hanya soal rasa, tetapi juga soal karakter, kerja sama, dan kemanusiaan.
Dari dapur kecil hingga mimpi besar, komunitas ini terus memasak nilai persaudaraan tanpa sekat.(*)
Editor : Anggi Septian A.P.