Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Menginspirasi Anak Muda lewat Sanggar Laras Aji, Perjalanan Brilian Novitasari dalam Menjaga Seni Tari

M. Abdul Hamid • Jumat, 23 Januari 2026 | 15:06 WIB
Brilian Novitasari ingin kesenian tradisional tetap lestari di kalangan anak muda.
Brilian Novitasari ingin kesenian tradisional tetap lestari di kalangan anak muda.

RADAR TULUNGAGUNG - Brilian Novitasari mendirikan Sanggar Laras Aji. Dia ingin kesenian tradisional tetap lestari di kalangan anak muda.

Di sebuah sudut Desa Bulus, Kecamatan Bandung, Tulungagung, suara gamelan kerap mengiringi langkah-langkah kecil yang bergerak luwes.

Di sanalah, Brilian Novitasari menanamkan harapan bahwa seni tari tidak akan pernah benar-benar padam selama masih ada yang merawatnya dengan cinta.

Perempuan yang akrab disapa Brian itu bukan sekadar pengajar tari. Dia adalah penjaga api yang dengan kesabaran dan ketulusan menjaga nyala seni agar tetap hidup di tengah gempuran zaman.

“Lewat Sanggar Tari Laras Aji, saya ingin membuka ruang bagi anak-anak untuk mengenal, mencintai, dan tumbuh bersama seni,” terangnya.

Kecintaan Brian pada dunia tari bukanlah sesuatu yang hadir tiba-tiba. Sejak muda, dia sudah menapaki jalan seni secara serius.

Tahun 2013 menjadi awal perjalanan akademiknya saat menempuh S-1 Pendidikan Seni Tari dan Musik di Universitas Negeri Malang.

Hasrat belajarnya tak berhenti di situ. Pada 2024, dia kembali menyelami dunia akademik dengan melanjutkan studi S-2 Pendidikan Seni Budaya di Universitas Negeri Surabaya.

Di luar sanggar, Brian juga mengabdikan dirinya sebagai guru seni budaya di SMA Negeri 1 Pakel.

Sanggar Laras Aji sendiri bermula dari kesederhanaan. Tahun 2012, ketika Brian masih duduk di bangku SMA, anak-anak di sekitar rumahnya sering datang meminta diajari menari.

Tanpa nama, tanpa struktur, Brian hanya bermodal kemauan dan rasa sayang pada seni.

“Saya pun mengajar semampunya sembari terus belajar,” ungkapnya.

Nama Laras Aji baru resmi digunakan pada Juli 2014. Ada kisah tersendiri di baliknya. Saat semester tiga kuliah, Brian mengikuti mata kuliah nyantrik kepada maestro topeng, Mbah Barjo.

Dalam sebuah percakapan sederhana, Brian bercerita bahwa ia memiliki sanggar tari. “Dari sanalah nama Laras Aji lahir sebuah amanah sekaligus doa dari sang maestro,” tambahnya.

Kini, Sanggar Laras Aji telah berkembang pesat. Sekitar 320 anak tercatat sebagai murid aktif.

Mereka dibagi dalam empat kelas sesuai usia dan jenjang pendidikan. Mulai dari PAUD hingga SMP dan SMK.

Yang membuat sanggar ini istimewa, anak-anak yang sudah dianggap matang tidak hanya belajar, tetapi juga diminta kembali mengajar adik-adiknya.

“Selain saya, anak-anak di sanggar juga ikut mengajar. Jadi ada proses regenerasi di dalam sanggar,” tutur Brian.

Dalam proses pembelajaran, Brian lebih banyak mengembangkan tari kreasi agar anak-anak tertarik dan merasa dekat dengan dunia tari.

Namun, pada kelas lanjutan, dia mulai mengenalkan tari tradisi dari berbagai daerah.

Dia juga membuka kelas khusus jaranan, seni khas Tulungagung yang sekaligus menjadi fokus tesis S2-nya, yakni jaranan senterewe.

Ke depan, Brian bahkan berencana membuka kelas reog kendang Tulungagung sebagai upaya memperkuat pelestarian seni lokal.

Bagi Brian, menari bukan soal teknik semata. Ada nilai kebahagiaan yang harus dijaga, terutama untuk anak usia dini. Dia tak ingin anak-anak merasa tertekan.

“Menari itu harus bahagia. Kalau bahagia, anak-anak akan bertahan dan mencintai seni dengan sendirinya,” ujarnya.

Tak hanya berlatih di sanggar, Brian juga mengajak anak-anak nyantrik langsung ke para maestro seni.

Mereka diajak mengunjungi rumah Handoyo, maestro topeng, hingga ke Taman Sriwedari Solo.

Anak-anak diajak melihat secara langsung kehidupan seniman agar mereka memahami bahwa seni adalah laku hidup, bukan sekadar gerak di atas panggung.

Perjalanan Brian tentu tak selalu mudah. Dia mengakui, dukungan masyarakat sekitar belum sepenuhnya ia rasakan.

Namun, semua itu seolah terbayar ketika melihat anak-anak didiknya tumbuh dan berprestasi.

“Kebahagiaan saya bukan soal finansial atau sanggar jadi besar, tapi bagaimana saya bisa bermanfaat untuk anak-anak di bidang seni,” ucapnya lirih.

Dengan dukungan moril dari dinas kebudayaan dan pariwisata, Brian terus melangkah. Melalui Sanggar Laras Aji, dia menanamkan satu keyakinan sederhana bahwa cinta adalah kunci utama dalam menjaga seni tetap hidup.

“Kalau berangkat dari rasa cinta terhadap seni, pasti akan maju dan berkembang,” pungkasnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#Sanggar Laras Aji #Sanggar tari #seni budaya #seni tari