Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Suwantek, Perajin Panci dan Dandang Tradisional Tulungagung yang Bertahan sejak 2006

Sandy Sri Yuwana • Selasa, 27 Januari 2026 | 09:39 WIB

 

Suwantek saat memperlihatkan panci dan dandang hasil produksinya.(SANDY SRI YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Suwantek saat memperlihatkan panci dan dandang hasil produksinya.(SANDY SRI YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah gempuran peralatan dapur modern yang serbainstan dan mesin pabrikan, denting palu dari sebuah pelataran sederhana di Desa Ringinpitu, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, masih setia terdengar.

Dari tempat itulah Suwantek, 56, mempertahankan hidup dan tradisi melalui panci dan dandang buatan tangan.

Sudah hampir dua dekade, sejak 2006 silam, Suwantek menekuni profesi sebagai perajin panci dan dandang tradisional.

Tangannya yang terlatih membentuk lembaran aluminium dan stainless steel menjadi alat dapur yang tak sekadar fungsional, tetapi juga sarat nilai ketekunan.

“Semua masih manual,” ujarnya sambil tersenyum, sesekali menghentikan ayunan palu.

Tidak ada mesin canggih di bengkel itu. Hanya peralatan sederhana dan keterampilan tangan yang diasah bertahun-tahun. Di situlah tantangan sekaligus kebanggaan Suwantek.

Produk utama yang ia hasilkan adalah dandang bakso dan panci dengan berbagai ukuran. Dalam sehari, Suwantek mampu menyelesaikan dua dandang bakso berukuran besar.

Jika ukurannya lebih kecil, produksinya bisa mencapai empat hingga lima buah per hari.

Sebuah angka yang tidak kecil untuk pekerjaan yang sepenuhnya mengandalkan tenaga dan ketelitian manusia.

Harga yang ditawarkan pun bervariasi, mulai dari Rp 25 ribu hingga menembus Rp 1 juta, tergantung ukuran, bahan, dan tingkat kesulitan pengerjaan.

Bahkan, Suwantek kerap menerima pesanan khusus, seperti dandang dan panci berkapasitas besar hingga volume 50 kilogram.

Pesanan tersebut tak jarang datang dari lembaga pemasyarakatan di Tulungagung maupun instansi lain yang membutuhkan peralatan masak berukuran jumbo.

“Kalau pesanan besar, pengerjaannya lebih lama dan butuh tenaga ekstra,” tuturnya.

Dari seluruh proses, tahap paling sulit menurut Suwantek adalah menggunting bahan. Ketebalan aluminium dan stainless steel menuntut tenaga kuat sekaligus presisi tinggi.

Sedikit saja meleset, hasil akhirnya bisa kurang sempurna.

Sebelum fokus pada panci dan dandang, Suwantek sempat memproduksi kompor minyak tanah.

Produknya bahkan pernah dikirim hingga ke Bima dan Lombok. Namun, seiring berjalannya waktu dan beralihnya masyarakat ke kompor gas dan listrik, permintaan kompor minyak tanah kian meredup.

“Sekarang sudah jarang yang pakai kompor minyak tanah, jadi tidak laku,” katanya jujur.

Keputusan untuk meninggalkan produk lama dan beradaptasi dengan kebutuhan pasar menjadi langkah realistis agar usahanya tetap bertahan.

Meski harus bersaing dengan produk pabrikan yang tampil lebih modern, Suwantek tetap yakin dengan kualitas karyanya.

Dia menanamkan prinsip sederhana, berkarya dari hati sesuaikan permintaan pelanggan. Baginya, kualitas bukan sekadar slogan, melainkan tanggung jawab kepada pembeli.

Filosofi itu tercermin dari banyaknya pelanggan yang kembali memesan, bahkan merekomendasikan produknya dari mulut ke mulut.

“Kalau bikin harus niat, biar hasilnya kuat dan awet,” ucapnya.

Di usianya yang ke-56, Suwantek tidak banyak berharap muluk. Dia hanya ingin keahliannya tetap bermanfaat dan bila memungkinkan diwariskan.

Di bengkel kecil itu, dandang dan panci bukan hanya alat dapur, melainkan simbol perlawanan bahwa di balik kilau produk modern masih ada tangan-tangan terampil yang setia menempa logam dengan kesabaran.(*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#peralatan dapur #Perajin #produksi #desa ringinpitu