RADAR TULUNGAGUNG - Menjaga warisan kuliner tentu bukan perkara mudah. Butuh ketelatenan dan kesabaran ekstra agar terus bertahan.
Hal inilah yang dilakukan anak cucu Mbok Yem di Desa Ngunggahan, Kecamatan Bandung, Tulungagung, untuk menjaga eksistensi sompil warisan orang tuanya.
Di Tulungagung, kisah kuliner kerap tak lahir dari bangunan megah atau papan nama mencolok.
Ia justru tumbuh pelan dari pawon sunyi di dalam rumah, dari kukusan yang mengepul sabar, serta dari tangan-tangan yang setia menjaga cara lama.
Begitulah cerita sompil legendaris milik Mbok Yem, kuliner khas Tulungagung yang bertahan lebih dari empat dekade, melewati zaman dan ujian hidup.
Usaha sompil ini dirintis Mbok Yem sejak 1983. Dari dapur sederhana di Dusun Kalirejo, Desa Ngunggahan, Kecamatan Bandung, Tulungagung, Mbok Yem menghidupi keluarganya dengan satu menu yang sama, hari demi hari.
Ia meninggal pada 2024. Namun, rasa yang ia rawat tak ikut terkubur. Pawon itu tetap menyala dan kini dijaga oleh anak-anaknya, Sukiran, Sukinah, Sujiah, Supirah, dan Solikah.
Menariknya, yang diwariskan bukan sekadar resep, melainkan juga ruangnya. Pawon tempat memasak sompil nyaris tak berubah sejak puluhan tahun lalu.
Tungku, dandang, hingga susunan peralatannya tetap seperti dulu. Letaknya tersembunyi di dalam rumah, tanpa etalase, tanpa spanduk penanda usaha.
“Dari dulu ya di sini saja. Pawonnya satu ini, nggak pernah dipindah atau diubah,” tutur Supirah, putri keempat Mbok Yem.
Bagi keluarga, pawon itu bukan sekadar dapur, melainkan saksi hidup perjalanan ekonomi dan kesabaran keluarga.
Proses memasak sompil pun jauh dari kata instan. Nasi dimasukkan ke dalam wadah, lalu dikukus sekitar 7 jam hingga menjadi sompil yang padat dan pulen.
Semua dikerjakan perlahan, mengikuti ritme api tungku.
“Kalau masaknya tergesa-gesa, rasanya bisa beda,” kata Supirah, sembari memastikan kukusan tetap stabil.
Lauk pendampingnya sederhana, berganti sesuai ketersediaan di pasar. Kadang kacang rebung, kadang tewel atau nangka muda.
Kesederhanaan itu justru menjadi ciri sekaligus alasan pembeli terus kembali.
Putra sulung Mbok Yem, Sukiran, mengenang satu kebiasaan ibunya yang kini tinggal cerita. Dulu, Mbok Yem kerap tetap melayani pembeli meski sudah larut malam.
Anak-anak muda yang kelaparan datang memanggil dan ia akan bangun dari tidur.
“Ibu itu orangnya nggak tega. Selama masih bisa, pasti dilayani,” kenang Sukiran.
Namun, keramahan itu pernah diuji. Suatu malam, sekelompok pemuda datang dalam kondisi mabuk dan menggeruduk rumah.
Tak ada kerugian fisik, tetapi peristiwa itu meninggalkan trauma.
“Sejak kejadian itu, pukul 22.00 benar-benar tutup. Sudah tidak melayani lagi meski ada yang memanggil,” ujar Sukiran pelan.
Tentang usia Mbok Yem, keluarga tak pernah benar-benar tahu. Menurut Sukiran, ibunya kemungkinan telah berusia lebih dari satu abad.
“Orang dulu nggak ingat tanggal lahir. Yang diingat ya kerjanya,” katanya, setengah tersenyum.
Kini, sompil Mbok Yem tetap hidup sebagai bagian dari pelestarian kuliner khas Tulungagung.
Ia tak bertahan karena promosi besar-besaran, tetapi karena rasa yang jujur, lahir dari satu pawon sederhana dan ketekunan keluarga menjaga warisan.
“Kami nggak pernah kepikiran macam-macam. Yang penting cukup buat makan sekeluarga,” pungkas Supirah. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri