RADAR TULUNGAGUNG - Tiga puluh lima tahun Sukamto mendedikasikan dirinya sebagai seniman alat musik tradisional Jawa, yaitu slompret.
Tak hanya memainkan, dia menjadi bagian dari perkembangan dan pelestarian slompret di Tulungagung. Karyanya diminati bahkan hingga tembus pasar Eropa.
Di sebuah sudut Desa Bulusari, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, suara slompret kerap terdengar lirih namun tajam.
Bukan dari panggung jaranan atau arena pertunjukan, melainkan dari rumah sederhana milik Sukamto, 55.
Dari tempat itulah, selama lebih dari tiga dekade, dia merawat bukan hanya alat musik tradisi, melainkan juga “rasa” yang hidup di dalamnya.
Bagi Sukamto, slompret bukan sekadar benda bunyi. Namun lahir dari perjalanan batin, rasa penasaran, kegelisahan, bahkan sakit hati.
Semua itu bermula pada akhir 1980-an, ketika ia masih muda dan belum benar-benar memahami dunia slompret.
“Awalnya cuma coba-coba. Belum bisa main, belum paham betul. Tapi ada rasa pengin, ada rasa penasaran,” kenangnya.
Tahun 1988 menjadi titik penting. Saat itu, selepas lulus SMA, Sukamto mulai serius bereksperimen untuk memecah rasa penasarannya.
Bahan pertama karyanya bukan kayu mahal, melainkan pring bambu yang sederhana dan mudah didapat. Dia memulai dari yang sederhana, tanpa banyak ukiran, tanpa teknik rumit.
“Ndilalah kok payu (laku),” katanya sambil tersenyum. Dari kebetulan itulah, kepercayaan dirinya tumbuh.
Perjalanan berikutnya tidak selalu mulus. Berkali-kali gagal saat mencoba mengebor kayu, mencari teknik yang sejajar dengan serat agar karakter suara tetap hidup.
Dia belajar dari kegagalan, dari alat manual hingga mesin, dari bambu hingga kayu pilihan. Semua dilakukan pelan-pelan dengan satu prinsip, slompret harus punya karakter.
Memasuki era 1990-an, Sukamto mulai menemukan bentuk dan identitas. Dia tidak tergesa mengikuti tren ukiran atau bentuk yang ramai.
Baginya, fisik slompret adalah anatomi atau punya ciri khas sendiri. Hingga awal 2000-an, bentuk naga mulai mendominasi, lalu berkembang lagi dengan sentuhan ukiran Bali sejak 2015.
Namun, perubahan bentuk itu tidak pernah menghilangkan ciri khas suara dan bentuk karyanya.
Soal laras, Sukamto dikenal luwes. Dia mengikuti perkembangan zaman, dari laras jaranan, Semarangan, hingga menyesuaikan tren campursari. Slompretnya dirancang fleksibel, mampu mengikuti berbagai standar nada lewat teknik penjarian dan tekanan suara.
“Bukan saklek (paten). Tapi jiwa dan rasanya harus tetap ada,” tegasnya.
Fungsi slompret pun meluas. Dari pengiring jaranan khas Tulungagung, alat musik ini merambah salawatan, wayang, musik gandut, hingga campursari.
Perkembangan itu, menurut Sukamto, lahir dari “kenakalan seniman” atau kreativitas seniman yang terus mencari ruang baru.
Meski adaptif, ada hal yang tak pernah ia lepaskan yaitu soal rasa. Rasa pada bentuk fisik, rasa pada karakter suara, hingga rasa pada penutup slompret yang ia bakukan dengan teknik gebek.
Bahkan, ketika menerima pesanan khusus dikelir atau diplitur, identitas karyanya tetap terasa.
Harga slompret buatannya kini bervariasi. Paket paling ekonomis dibanderol sekitar Rp 500 ribu, sementara karya dengan kayu bernilai dan ukiran rumit bisa jauh lebih mahal.
Dia pernah menjual slompret hingga Rp 3,5 juta, bahkan ada karya yang baginya “tak ternilai”.
Pernah pula satu slompret dibarter dengan sepeda motor matik terbaru. Itu sebuah pencapaian yang dulu tak pernah ia bayangkan.
Soal pemasaran, nama Pak Kamto Bulusari telah dikenal luas di kalangan seniman. Pesanannya datang dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara yakni Malaysia, Brunei, Taiwan, Hongkong, Korea, bahkan Prancis.
Jaringan komunitas seni jaranan menjadi jalur utama yang menghubungkannya dengan dunia luar.
Kini, setelah sekitar 35 tahun bergelut sejak mulai produksi pada 1988, Sukamto tetap setia di jalurnya.
Dia tidak sekadar membuat slompret, tetapi menjaga warisan rasa, sesuatu yang tak bisa diukur dengan angka atau tren.
“Motivasi saya satu, yaitu mempertahankan rasa yang sesuai zaman,” ujarnya pelan.
Di tengah perubahan zaman dan selera musik, slompret buatan Sukamto tetap bernapas.
Dari Bulusari, dia membuktikan bahwa ketekunan, rasa, dan kejujuran pada proses mampu membuat alat musik tradisi terus hidup dan didengar hingga ke penjuru dunia. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri