RADAR TULUNGAGUNG - Petani di Desa Ngrendeng, Kecamatan Gondang, Tulungagung, tetap menjaga eksistensi kearifan lokal.
Khususnya mensyukuri hasil panen yang melimpah dengan Labuh Masal di area persawahan desa setempat.
Pagi belum sepenuhnya beranjak siang ketika Desa Ngrendeng, Kecamatan Gondang, tampak berbeda dari hari-hari biasa.
Jalan desa yang biasanya lengang perlahan dipenuhi warga. Mereka keluar rumah membawa ambeng, perlengkapan adat, dan senyum yang mengembang.
Hari itu, warga bersiap mengikuti Labuh Masal, tradisi turun-temurun sebagai ungkapan rasa syukur atas hasil bumi.
Arak-arakan jaranan bergerak perlahan menuju lahan pertanian. Denting gamelan dan langkah kaki warga berpadu, menciptakan irama khas pedesaan.
Anak-anak, orang tua, hingga para tetua adat larut dalam suasana. Bagi warga Ngrendeng, Labuh Masal bukan semata ritual, melainkan momentum kebersamaan sekaligus pengingat tentang relasi manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Ketua Lembaga Adat Desa Ngrendeng, Umar Kusman, menuturkan bahwa tradisi Labuh telah ada sejak lama.
Pria berusia 85 tahun itu mengingat betul bagaimana dahulu Labuh dilakukan secara sederhana oleh masing-masing keluarga.
“Dulu Labuh masih sendiri-sendiri. Setiap keluarga membawa ambengnya sendiri. Baru setelah 1990-an dilaksanakan bersama-sama seperti sekarang,” kenang Umar.
Meski cara pelaksanaannya berubah, esensi tradisi tetap sama yaitu mensyukuri nikmat panen yang diberikan Yang Maha Kuasa.
Prosesi adat diawali dengan pengambilan padi di sawah. Padi yang diambil bukan sembarang padi.
Tetua adat menentukan jenis padi laki-laki dan perempuan sesuai dengan pakem yang diwariskan secara turun-temurun.
Padi tersebut kemudian diarak menuju gubuk sawah untuk menjalani prosesi simbolik “dinikahkan”.
Ritual tersebut melambangkan harapan akan kesuburan, keseimbangan, dan keberkahan panen di masa mendatang.
Dalam keyakinan warga, padi bukan sekadar tanaman pangan, melainkan sumber kehidupan yang harus dihormati dan dijaga.
Kepala Desa Ngrendeng, Nurjiman, menilai Labuh Masal menjadi cerminan kuat rasa syukur dan kebersamaan warga.
Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap alam, tradisi ini juga menjadi doa bersama agar tanaman terhindar dari hama dan hasil panen ke depan semakin melimpah.
“Ini wujud syukur warga Ngrendeng kepada Yang Maha Kuasa. Tradisi seperti ini harus terus dilestarikan, jangan sampai hilang, supaya bisa diwariskan ke anak cucu,” ujarnya.
Rangkaian Labuh Masal ditutup dengan makan bersama. Ambeng yang dibawa warga dibuka dan dinikmati bersama dengan menu utama murak lodho, hidangan khas yang sebelumnya telah dihajatkan.
Di bawah rindang pepohonan dan dekat hamparan sawah, warga duduk bersila, bercengkerama, tanpa sekat status atau usia.
Di tengah arus zaman modern yang kian cepat, warga Desa Ngrendeng tetap teguh menjaga Labuh Masal.
Tradisi ini menjadi bukti bahwa nilai rasa syukur, gotong royong, dan kearifan lokal masih hidup dan dirawat, mengalir dari generasi ke generasi, seiring denyut kehidupan desa. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri