RADAR TULUNGAGUNG - Anak muda tidak melulu berkutat pada hal modern.
Hal ini yang dilakukan Bagus Mahardika Putro Prasetyo dengan membuat jamang barongan.
Nyatanya, karyanya bisa laku hingga mancanegara.
Di sebuah sudut Desa Beji, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, denyut kesenian tradisi terus hidup melalui tangan-tangan muda yang tekun.
Dari ruang kerja sederhana di rumahnya, Bagus Mahardika Putro Prasetyo perlahan merawat denyut itu lewat jamang barongan, mahkota khas yang menjadi penanda wibawa salah satu piranti pertunjukan jaranan ini.
Kepada Koran ini, Bagus, sapaan akrabnya, mengaku mulai menekuni kerajinan jamang barongan pada 2018 silam atau saat masih duduk di bangku SMP.
Dia memilih fokus menggarap jamang, bukan keseluruhan kepala barongan dari kayu utuh.
Menurut dia, mengukir barongan membutuhkan teknik tinggi, tenaga besar, serta peralatan lengkap yang hingga kini belum sepenuhnya ia miliki.
Meski demikian, kata mudah sama sekali tak identik dengan instan.
“Kalau jamang, prosesnya lebih memungkinkan dikerjakan sendiri,” ujar Bagus.
Keputusan itu justru menjadi pintu masuk bagi Bagus untuk menekuni satu detail penting dalam seni barongan.
Dia belajar secara otodidak, meraba bentuk, menakar proporsi, hingga memahami karakter jamang dari berbagai daerah.
Untuk memperkaya wawasan, Bagus kerap berkunjung ke rekan-rekan sesama perajin, menyerap pengalaman, sekaligus bertukar cerita.
Satu karya jamang barongan membutuhkan waktu pengerjaan sekitar dua hingga tiga minggu.
Setiap detail dikerjakan dengan telaten dari bentuk dasar hingga sentuhan akhir.
Harga satu jamang pun bervariasi mulai Rp 750 ribu hingga Rp 1,5 juta, tergantung tingkat kerumitan dan detail yang diminta pemesan.
Meski dikerjakan seorang diri tanpa mempekerjakan orang lain, hasil karya Bagus telah menembus pasar luar daerah.
Pesanan datang tidak hanya dari luar Pulau Jawa, tetapi juga hingga ke Taiwan.
Sebuah capaian yang bagi Bagus bukan sekadar soal angka, melainkan pengakuan terhadap kerja tangan dan kesabaran.
“Semua masih saya kerjakan sendiri,” tambahnya lantas tertawa.
Ke depan, Bagus berharap bisa terus mengembangkan jamang barongan dengan beragam model.
Dia ingin karyanya tetap relevan, disukai lintas generasi, mulai dari anak muda hingga orang tua tanpa kehilangan ruh tradisi yang menjadi akarnya.
Di tengah arus zaman yang bergerak cepat, ketekunan Bagus di Desa Beji menjadi pengingat bahwa tradisi tak selalu bertahan lewat panggung besar.
Kadang, dia hidup dari ruang kecil, dari tangan yang setia, dan dari keyakinan bahwa budaya layak dirawat dengan sepenuh hati.
"Saya ingin menjaga kesenian tradisional di Tulungagung," tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri