Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Harlah Ke-100 NU Jadi Momentum Prestasi, Mahasiswi UBhi Tulungagung Raih Peringkat Empat Duta Pelajar Putri NU Jawa Timur

Sandy Sri Yuwana • Sabtu, 31 Januari 2026 | 14:48 WIB
Eka Fibri Yuliani saat berlaga di ajang Duta Pelajar Putri Nahdlatul Ulama tingkat Jawa Timur dan meraih juara 4.
Eka Fibri Yuliani saat berlaga di ajang Duta Pelajar Putri Nahdlatul Ulama tingkat Jawa Timur dan meraih juara 4.

RADAR TULUNGAGUNG - Di tengah gegap gempita peringatan Harlah Ke-100 Nahdlatul Ulama (NU), muncul sosok muda Nahdliyin dari Kelurahan Botoran, Kecamatan Tulungagung, yang menorehkan prestasi membanggakan di tingkat Jawa Timur.

Dialah Eka Fibri Yuliani, 20, mahasiswi Universitas Bhinneka PGRI (UBhi) Tulungagung yang berhasil finis peringkat keempat pada kompetisi Duta Pelajar Putri Nahdlatul Ulama se-Jawa Timur pada awal 2026 ini.

Bagi Eka, capaian itu bukan sekadar angka atau gelar.

Perjalanan panjang sejak seleksi hingga grand final justru menjadi ruang pembelajaran tentang keberanian, proses, dan makna berorganisasi di NU.

“Alhamdulillah, saya bisa masuk top 5 dan berada di peringkat empat. Pesertanya banyak dari kampus-kampus besar dan favorit di Jawa Timur. Saya sendiri membawa nama UBhi Tulungagung,” tutur Eka mengenang momen tersebut.

Kompetisi Duta Pelajar Putri NU Jawa Timur diawali dengan seleksi ketat yang menyaring puluhan peserta.

Dari sekitar 50-an pelajar dan mahasiswa NU se-Jawa Timur, terpilih 20 finalis terbaik yang kemudian mengikuti karantina selama tiga hari di Kantor PWNU Jawa Timur.

Selama masa karantina, para finalis tidak hanya dinilai kemampuan akademik atau penampilan semata.

Mereka digembleng melalui berbagai materi, mulai dari public speaking, kepemimpinan, penguatan ideologi Ahlussunnah wal Jamaah, hingga pembentukan sikap dan etika.

“Kita dapat banyak bekal. Bukan cuma soal bicara di depan umum, tapi juga bagaimana jadi duta yang punya attitude, table manners, dan mampu membawa diri di tengah masyarakat,” jelasnya.

Menariknya, Eka mengaku tidak datang dengan rasa percaya diri yang berlebihan.

Justru sebaliknya, dia mengaku sempat muncul rasa minder saat harus bersaing dengan peserta dari kampus-kampus ternama di Jawa Timur.

“Jujur, sempat minder. Banyak yang tanya ‘kuliahnya di mana?’, pas jawab Universitas Bhinneka PGRI Tulungagung, banyak yang belum tahu. Tapi itu justru jadi pemicu buat membuktikan kalau kampus daerah juga bisa,” katanya sambil tersenyum.

Meski demikian, Eka memilih menjalani proses dengan santai dan menikmati setiap tahapan.

Dukungan dari kampus dan organisasi menjadi penyemangat, meski di sisi lain juga memunculkan tekanan batin.

“Pasti overthinking ‘bisa juara nggak ya?’, tapi Eka memilih enjoy dan fokus proses,” imbuhnya.

Dari pengalaman mengikuti ajang tersebut, Eka menyimpulkan bahwa tantangan terbesar pelajar NU hari ini bukan hanya soal prestasi akademik, melainkan literasi digital dan ketahanan mental.

“Banyak pelajar NU yang literasi digitalnya masih rendah. Mental health juga jadi persoalan serius. Banyak yang kehilangan arah karena media sosial dan pergaulan,” ujarnya lugas.

Sementara dalam konteks menjadi duta pelajar NU, Eka menyebut ada tiga kunci utama yang harus dimiliki generasi muda Nahdliyin yaitu kemauan, konsistensi, dan komitmen.

“Kalau tidak mau bergerak, tidak konsisten, dan tidak berkomitmen penuh pada organisasi, semuanya akan hancur,” tegasnya.

Lebih dari sekadar kompetisi, Eka memaknai pencapaiannya sebagai perjalanan menemukan jati diri.

Bertemu dengan pelajar NU dari berbagai daerah di Jawa Timur menjadi pengalaman berharga yang membuka cakrawala berpikir.

“Ini bukan cuma soal peringkat. Ini tentang keberanian melangkah, proses belajar, dan kebersamaan dengan orang-orang hebat dari berbagai daerah,” katanya.

Di momentum Harlah Ke-100 NU, Eka menaruh harapan besar pada generasi muda NU.

Baginya, satu abad NU adalah panggilan untuk menjaga tradisi, merawat nilai, dan menebar kemaslahatan bagi umat dan bangsa.

“Kita harus menjaga tradisi NU, berpegang pada Ahlussunnah wal Jamaah, serta mengamalkan nilai tawasuth, tasamuh, tawazun, dan i’tidal,” ucapnya.

Sebagai pemudi NU, Eka berjanji akan terus berkhidmah dan berusaha menjadi teladan yang memberi manfaat bagi sesama pelajar.

“Eka ingin bisa bermanfaat dan menebar kebaikan untuk pelajar NU di Jawa Timur, khususnya di Kabupaten Tulungagung,” pungkasnya.(sri/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#botoran #nahdlatul ulama #duta pelajar #nu #UBhi