RADAR TULUNGAGUNG - Guru identik dengan profesi mengajar di sekolah. Namun di balik itu semua pasti memiliki aktivitas lain di rumah.
Contohnya Rival Johananta, guru di SDN 1 Bungur yang memiliki ribuan kaset di rumahnya.
Di sebuah rumah sederhana di Desa Samar, Kecamatan Pagerwojo, Tulungagung, ribuan kaset pita, VCD, dan piringan hitam tersusun rapi.
Bagi sebagian orang, benda-benda itu mungkin dianggap usang. Namun bagi Rival Johananta, koleksi tersebut justru menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.
Pria berusia 40 tahun itu sehari-hari dikenal sebagai guru bahasa Inggris di SDN 1 Bungur, Kecamatan Karangrejo.
Di hadapan murid-muridnya, Rival adalah sosok pendidik yang sabar dan bersahaja.
Namun di balik profesinya sebagai guru, dia menyimpan kegemaran yang tak biasa, mengoleksi media musik lawas.
Kecintaan Rival terhadap kaset bermula sejak ia duduk di bangku SMA. Saat itu, kaset pita masih menjadi primadona.
Dari sekadar mendengarkan lagu, kebiasaan itu perlahan berubah menjadi hobi mengoleksi.
“Dulu hanya suka musiknya, lama-lama ingin punya fisiknya,” tuturnya sambil tersenyum.
Kegemarannya kian menjadi-jadi ketika ia melanjutkan kuliah di Malang. Kota pelajar itu membuka banyak kesempatan baginya untuk berburu kaset bekas.
Rival tak segan mendatangi pedagang barang loak, pasar barang bekas, hingga lapak-lapak kecil di sudut kota.
Harga yang ditawarkan pun relatif murah, bahkan dulu maksimal hanya Rp 10 ribu per keping.
Seiring waktu, nilai kaset-kaset itu justru melonjak. Rival pernah melepas satu keping kaset dengan harga hingga Rp 500 ribu.
“Padahal dulu belinya murah sekali,” katanya.
Namun bagi Rival, kepuasan utama bukan pada nilai jual, melainkan cerita dan sejarah di balik setiap kaset.
Apalagi sebagian besar merupakan band legendaris yang mewarnai belantika musik dunia.
Mayoritas koleksinya beraliran pop dan rock, terutama band-band luar negeri.
Dari nama-nama legendaris hingga rilisan yang kini sulit ditemukan, semuanya tersimpan di rumahnya.
Saat ini, jumlah koleksi Rival diperkirakan mencapai sekitar 7 ribu keping, terdiri dari kaset pita, VCD, dan vinil.
Khusus untuk kaset vinil, Rival mengakui perawatannya jauh lebih njlimet. Debu, suhu, hingga cara penyimpanan harus benar-benar diperhatikan.
Namun justru di situlah letak kenikmatannya.
“Ada rasa puas tersendiri saat memutar kaset ini, mendengar suara yang khas,” ungkapnya.
Menurut Rival, mendengarkan lagu dari kaset memberikan sensasi berbeda dibandingkan format digital.
Sembari menikmati alunan musik, dia bisa membaca label kaset, mengenali profil musisi, produser, hingga unsur pendukung lain yang terlibat dalam sebuah karya.
“Rasanya lebih dekat dengan musiknya,” ujarnya.
Menariknya, tren kaset pita yang sempat redup kini mulai kembali mencuat. Banyak anak muda datang ke rumah Rival, sekadar melihat-lihat koleksi, berdiskusi soal musik, bahkan ada yang tertarik membeli.
Fenomena ini membuat Rival melihat peluang yang cukup menjanjikan di masa depan.
Di balik kegemarannya itu, dukungan keluarga menjadi kunci. Istrinya selalu memberi ruang dan semangat meski rumah mereka dipenuhi koleksi kaset.
Bahkan, studio musik sederhana milik Rival kini menjadi arena bermain bagi kedua putranya.
“Anak-anak jadi terbiasa dengan musik sejak kecil,” tandasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri