Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Nuril Ahsan, Guru Kreatif Tulungagung: Dari Coretan Masa Kecil hingga Juara Seni Desain Jawa Timur

Mega Mustika Sari • Senin, 2 Februari 2026 | 11:51 WIB
Photo
Photo

RADAR TULUNGAGUNG - Bagi Nuril Ahsan, kreativitas bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba.

Ia tumbuh pelan-pelan, dirawat sejak kecil, diuji oleh keadaan, lalu menemukan ruang hidupnya sendiri di kelas, di layar komputer, dan di tengah dinamika dunia pendidikan.

Sejak kecil, Nuril akrab dengan gambar. Imajinasi baginya bukan teori, melainkan kebiasaan.

“Dari kecil saya memang suka gambar. Kertas saya coret-coret, dikasih warna, ditempel di dinding. Kadang gambar pakai kapur di lantai atau tembok,” ujarnya.

Rumah menjadi studio pertama, tempat kreativitas tumbuh tanpa aturan kaku. Kepekaan visual itu juga dibentuk lingkungan keluarga.

Sang ibu adalah perajin bordir yang mengelola usaha mukena. Dari situ, Nuril belajar bahwa kreativitas tidak berhenti pada keindahan semata.

“Waktu SMK saya sering diminta bikini motif bordir. Jadi gambar itu bukan cuma bagus, tapi harus bisa diproduksi,” katanya.

Pilihan menempuh jalur Desain Komunikasi Visual (DKV) di SMK Negeri 1 Boyolangu hingga Universitas Negeri Malang semakin memantapkan jalannya.

Namun kreativitasnya justru diuji ketika ia masuk dunia pendidikan. Awalnya, ia tak pernah membayangkan menjadi guru.

“Saya sebenarnya tidak punya gambaran jadi guru. Fokus saya waktu itu kerja dan usaha,” tuturnya.

Ketika mulai mengajar di SMK NU Tulungagung pada 2018, tantangan datang dari arah yang tak terduga.

Dari kegemarannya pada gambar manual, ia harus berhadapan dengan dunia multimedia yang sarat teknologi.

“Dari desain manual, tiba-tiba harus berhadapan dengan komputer, jaringan, dan hal-hal teknis,” katanya.

Alih-alih menolak, Nuril memilih beradaptasi. Baginya, kreativitas justru lahir dari keterbatasan.

“Saya bukan ahli IT. Tapi karena kondisi, saya belajar. Dari situ malah dapat ilmu baru,” ujarnya.

Di ruang kelas, ia memandang kreativitas sebagai proses yang harus dilatih dengan disiplin. Metode mengajarnya sederhana: praktik, tugas, dan konsistensi.

“Kalau belajar desain tanpa praktik, ya tidak akan jadi apa-apa. Di industri itu ada target. Kalau tidak selesai, pekerjaan menumpuk,” katanya.

Cara itu ia gunakan untuk membiasakan siswa menghadapi realitas dunia kerja.

Puncak pengakuan datang pada 2022 ketika Nuril meraih juara dua Guru Kreatif Bidang Seni dan Desain Grafis tingkat Provinsi Jawa Timur.

“Saya ingin produk tradisional tampil lebih relevan tanpa kehilangan identitasnya,” tuturnya.

Namun kreativitas juga pernah berada di titik paling rapuh saat pandemi. Pendapatan turun drastis, sampai pernah minus.

Pada fase itu, kreativitas bukan lagi soal menghasilkan karya, melainkan bertahan dan bangkit perlahan.

"Saat pandemi merupakan masa yang berat,” katanya.

Bagi Nuril, kreativitas bukan sekadar kemampuan menggambar atau menguasai teknologi. Ia adalah sikap: mau belajar, mau beradaptasi, dan berani bertahan.

Kepada generasi muda yang masih mencari arah, ia berpesan singkat namun tegas, “Fighting until win. Jangan berhenti sebelum benar-benar menang," tegasnya.

Di tangan Nuril Hasan, kreativitas tidak hanya diajarkan, tetapi dijalani dirawat sejak coretan sederhana, hingga menjadi bekal menghadapi dunia yang terus berubah. (meg/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#desain grafis #kreatif #desain #SMK NU #guru