Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Karya Tari Bedaya Ambadya Tirta Ciptaan Anugrah Natalin Nilawati Harumkan Nama Tulungagung di Jawa Timur

Sandy Sri Yuwana • Jumat, 6 Februari 2026 | 10:21 WIB

 

Anugrah Natalin Nilawati menampilkan karya Bedaya Ambadya Tirta di Tulungagung, yang mengantarkannya masuk 7 Penyaji Terbaik Lomba Tari Tradisional Mataraman Jawa Timur 2025.
Anugrah Natalin Nilawati menampilkan karya Bedaya Ambadya Tirta di Tulungagung, yang mengantarkannya masuk 7 Penyaji Terbaik Lomba Tari Tradisional Mataraman Jawa Timur 2025.

RADAR TULUNGAGUNG - Dari sebuah sanggar tari di gang kecil Jalan KH Agus Salim, Kelurahan Kenayan, Tulungagung, Anugrah Natalin Nilawati menapaki panggung kebudayaan Jawa Timur lewat karya ciptaannya, Tari Bedaya Ambadya Tirta.

Karya itu mengantarkannya masuk 7 Penyaji Terbaik Lomba Tari Tradisional Mataraman Jawa Timur 2025 sekaligus dipercaya membuka ajang Rawat Budaya Mataraman.

Agustus 2025 menjadi momentum yang tak pernah dibayangkan Natalin. Dari sekitar 78 peserta se-Jawa Timur, karya asal Tulungagung itu terpilih sebagai 7 Penyaji Terbaik (non-ranking) dalam lomba yang digelar Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI Jawa Timur.

“Awalnya cuma ingin mempublikasikan bahwa di Tulungagung ada karya Bedaya Ambadya Tirta, ciptaan anak daerah,” ujarnya.

Informasi lomba ia temukan dari pamflet di Instagram Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI. Karena sudah memiliki karya orisinal, Natalin memberanikan diri mendaftar.

Lomba digelar secara virtual dan dikurasi tiga kurator senior tari Jawa Timur.

“Kuratornya praktisi semua. Saya sempat gugup,” katanya.

Bedaya Ambadya Tirta bukan tarian panggung semata. Tujuh penari dipilih ketat, mempertimbangkan tubuh, teknik, hingga watak.

“Geraknya berakar dari Surakarta, napasnya Bedaya. Harus mengalir, semeleh, dan tenang,” jelas Natalin.

Tarian ini dimaknai sebagai tujuh bidadari yang menari bagai air. Tenang, tertata, dan terkendali.

Tujuh penari melambangkan tujuh sendi kehidupan manusia yakni rupa, jiwa, ruh, sifat kehewanan, kemanusiaan, akal, dan hati nurani. Filosofi Jawa yang menempatkan manusia dalam hubungan dengan Tuhan dan alam.

“Tirta adalah sumber kehidupan. Ini laku permohonan sekaligus meditasi,” ujarnya.

Proses kreatifnya dijalani dengan tirakat. Para penari diminta menahan diri dari hal-hal yang memengaruhi olah rasa, termasuk gibah.

Latihan dilakukan sekitar sepuluh kali pertemuan dengan tantangan klasik. Jarang lengkap tujuh penari. Natalin kerap turun langsung mengisi posisi kosong.

Tantangan lain datang dari juklak dan juknis lomba. Durasi 12–15 menit harus dipadatkan menjadi 10 menit. Bagian pembuka dipangkas, tarian dimulai langsung dari buka celuk tanpa gending pengantar.

“Untung iringan sudah rekaman,” katanya.

Pengumuman hasil lomba dirilis 17 Agustus 2025. Saat itu Natalin justru sibuk kegiatan upacara. Kabar bahagia baru ia ketahui dari ucapan selamat seorang teman.

“Saya langsung nangis. Nggak nyangka,” ucapnya.

Penghargaan itu membuka jalan lain. Bedaya Ambadya Tirta dipercaya menjadi tari pembuka Rawat Budaya Mataraman di Nganjuk sekaligus mengantar Natalin sebagai perwakilan penerima penghargaan.

“Bangga, bersyukur, dan masih nggak percaya,” katanya.

Bagi Natalin, capaian itu bukan puncak, melainkan pemantik. Dia semakin terdorong menjadikan budaya sebagai laku hidup.

Karyanya juga mengantarkan Natalin meraih Sertifikasi Koreografer Pemula Kompeten dari LSP P-2 Kebudayaan Kementerian Kebudayaan pada Desember 2025.

“Bukan hanya karyanya yang diapresiasi, tapi penciptanya juga,” tandasnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#bedaya ambadya tirta #budaya Mataraman #tari #kesenian