Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dari Pengalaman Pribadi ke Ruang Konsultasi, Bayu Dwi Septiawan Dampingi Calon Pengantin lewat Edunikah

Dharaka R. Perdana • Selasa, 10 Februari 2026 | 10:09 WIB
Bayu sering jadi jujukan bagi seseorang yang ingin mempersiapkan pernikahnnya.
Bayu sering jadi jujukan bagi seseorang yang ingin mempersiapkan pernikahnnya.

RADAR TULUNGAGUNG - Menikah tidak hanya menjadi jalan untuk melanjutkan keturunan, tetapi lebih dari itu.

Harus ada persiapan matang agar hubungan tetap langgeng untuk selamanya.

Berikut kisah Bayu Dwi Septiawan menjadi pegiat edunikah dalam upaya meminimalisasi angka perceraian.

Dalam budaya Jawa, garwa adalah sigaraning nyawa. Karena itu, pasangan suami istri harus saling menjaga dan mengasihi satu sama lain.

Bahkan, setiap cobaan harus dikembalikan pada niat semula dalam membina bahtera rumah tangga.

Dengan begitu, kondisi mereka yang hendak melangsungkan pernikahan harus ditata sedemikian rupa agar pernikahannya tetap langgeng.

Hal tersebut yang menjadi aktivitas Bayu Dwi Septiawan atau Bayu Vedha sebagai pegiat edunikah di Klinik Nikah Indonesia.

Pria yang berdomisili di Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, ini ternyata menjalani aktivitas tersebut berawal dari kegagalan rencana pernikahan yang pernah ia alami dan menjadi titik balik hidupnya.

"Semua dari pengalaman pribadi yang pernah gagal menikah. Ternyata sekarang sering dimintai konsultasi mengenai persiapan menikah," katanya kepada Koran ini, kemarin (9/2).

Bayu, sapaan akrabnya, mengaku menapaki peran sebagai konsultan edunikah sejak 2013 silam. Berawal dari luka personal, dia menemukan fakta bahwa tak sendiri.

"Banyak orang datang dengan kisah serupa rencana menikah yang ambyar, rumah tangga yang goyah, hingga perceraian yang menyisakan trauma panjang," tambahnya.

Dari ruang konsultasi sederhana, pria kelahiran Trenggalek ini mendengar beragam persoalan.

Mulai dari konflik ekonomi, komunikasi yang buntu, jarak yang memisahkan pasangan, hingga ketakutan menikah yang menghantui generasi muda. Semua itu menguatkan satu keyakinannya: menikah bukan perkara sepele.

“Menikah itu bukan sekadar menyatukan dua orang. Ada tanggung jawab besar, bahkan sampai nanti berpindah alam,” tambahnya.

Baginya, kesiapan menikah tak bisa dipersempit hanya soal materi. Ekonomi memang penting, tetapi kematangan mental, pemahaman peran, dan kesadaran spiritual jauh lebih menentukan.

Menikah bukan hanya urusan biologis, melainkan ibadah yang panjang dan menuntut konsistensi.

Realitas sosial di Tulungagung membuat kegelisahan Bayu kian kompleks. Daerah ini dikenal sebagai salah satu kantong tenaga kerja Indonesia (TKI).

Fenomena long distance marriage (LDM) pun menjadi keniscayaan. Meski tak bisa digeneralisasi, Bayu melihat jarak kerap menjadi pemantik konflik bahkan perceraian.

“Tidak mutlak, tapi jarak sering kali memperbesar masalah yang sebenarnya kecil,” ujarnya.

Kini, tantangan terbesarnya justru datang dari alam pikir generasi Z. Banyak anak muda datang dengan satu sindrom yang sama: takut menikah.

Takut gagal, takut kehilangan kebebasan, takut mengulang kisah pahit orang lain. Di sisi lain, mereka juga hidup di era serbacepat, serbavisual, dan penuh perbandingan.

Di tengah situasi itu, Bayu memilih bertahan. Dia ingin menjadi bagian kecil dari upaya menekan angka perceraian seminimal mungkin dimulai dari kesadaran sebelum akad terucap.

"Di sini kita sama-sama belajar bahwa cinta saja tidak cukup. Sekaligus mempersiapkan separo agama," tandasnya.(*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#edunikah #pernikahan #menikah #edukasi #pranikah