Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Siswa Tunarungu Tulungagung Tampil Memukau di Pentas Seni, Empat Tari Dikuasai Lewat Latihan Intens dan Getaran Irama

Sandy Sri Yuwana • Rabu, 11 Februari 2026 | 10:02 WIB

 

Siswi tunarungu di Tulungagung mampu memukau penonton saat menampilkan sebuah tarian tradisional.
Siswi tunarungu di Tulungagung mampu memukau penonton saat menampilkan sebuah tarian tradisional.

RADAR TULUNGAGUNG - Para siswa penyandang disabilitas tunarungu dari SLB B Tulungagung juga piawai menari.

Bahkan, mereka bisa membawakan empat karya tari dalam sebuah pentas seni meskipun punya kekurangan.

Di balik pertunjukan sekolah yang berlokasi di wilayah Kelurahan Tamanan, Kecamatan Tulungagung, pada Selasa (10/2), ada proses panjang yang sarat ketekunan, kesabaran, dan solidaritas antar sesama siswa.

Pelatih tari SLB B Tulungagung, Aulia Renata, menuturkan bahwa penciptaan karya tari khusus bagi siswa tunarungu membutuhkan pendekatan berbeda.

Proses persiapan pentas berlangsung sekitar satu bulan dengan intensitas latihan yang terbilang padat.

“Untuk proses penciptaan karya baru ini sekitar satu bulan. Yang benar-benar intens itu sekitar tujuh kali pertemuan,” kata Aulia.

Meski berperan sebagai pelatih, Aulia menegaskan bahwa kekuatan utama latihan justru terletak pada kebersamaan para siswa.

Mereka saling mengingatkan, saling membantu, dan membangun komunikasi dengan bahasa isyarat yang sudah mereka kuasai sehari-hari.

“Ketika saya memberi instruksi, teman-teman yang lain itu saling beri, saling kopak. Mengingatkan kalau ada gerakan yang kurang. Jalinan komunikasi mereka itu kuat, meskipun saya sendiri tidak begitu paham bahasa isyarat,” ujarnya.

Empat tarian ditampilkan dengan pembagian berdasarkan usia dan kemampuan. Tari Gugur Gunung dibawakan oleh siswi kelas 1 dan 3 SD.

Tari Gambyong diperagakan oleh siswa kelas 5 dan 6 SD hingga SMP. Karya ketiga adalah tari Reog Kendang, tarian khas Kabupaten Tulungagung, yang dibawakan oleh siswa SD dan SMP.

Sementara tarian terakhir bertajuk Turangga Karna Seta. Nama itu bukan tanpa makna. Aulia menjelaskan, Seta melambangkan kesucian, sementara Karna dimaknai sebagai pendengaran.

“Saya berharap, meskipun secara fisik mereka tidak bisa mendengar, tapi mereka tetap bisa menghayati karya tari,” tuturnya.

Dalam menciptakan karya bagi penari tunarungu, Aulia harus menyesuaikan banyak hal, mulai dari durasi hingga struktur gerak.

Durasi tarian dibuat singkat, hanya sekitar empat setengah menit.

“Tingkat konsentrasi anak-anak tunarungu tidak bisa disamakan dengan rekan-rekan dengar. Jadi durasinya sengaja pendek supaya mereka lebih efektif, lebih fokus, dan lebih powerful,” jelasnya.

Selain itu, gerakan tari disusun dengan segmentasi yang jelas. Gerak tidak dieksplorasi secara bebas, tetapi dibagi dalam pola-pola terstruktur agar mudah diingat.

“Segmentasi gerak membantu mereka mengingat materi. Perpindahan tempo dan level gerak dilakukan bertahap. Saya selalu mempertimbangkan kekuatan tubuh, daya tangkap, dan kemampuan mereka menyerap materi,” katanya.

Menariknya, dalam karya ini para siswa untuk pertama kalinya memegang properti tari seperti jaran kepang hingga pecut.

Tantangan tersendiri muncul saat mereka harus menyesuaikan diri dengan properti yang menghasilkan suara.

“Mereka tidak bisa mendengar, tapi bisa merasakan getaran. Jadi, saya ajarkan bagaimana mencari suara pecut yang tepat lewat getaran itu,” ujar Aulia.(*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#siswa #tari #Pentas seni #tunarungu