Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Terkuak! Geologi Pacitan dari Laut Purba hingga Jejak Manusia Purba, Ini Rahasia Goa, Karst, dan Ombak Samudera Hindia

Ayu Dhea Cheryl • Rabu, 11 Februari 2026 | 12:29 WIB

Bentang karst dan goa di Pacitan terbentuk dari proses geologi jutaan tahun, hasil pengangkatan dasar laut purba akibat subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Ombak Samudera Hindia
Bentang karst dan goa di Pacitan terbentuk dari proses geologi jutaan tahun, hasil pengangkatan dasar laut purba akibat subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Ombak Samudera Hindia

PACITAN – Geologi Pacitan menyimpan kisah panjang yang tak banyak diketahui publik. Wilayah di selatan Jawa Timur ini bukan sekadar kota pantai dengan ombak besar, melainkan laboratorium alam terbuka yang merekam jejak laut purba, tekanan lempeng bumi, hingga peradaban manusia purba.

Secara geografi, Pacitan berada tepat menghadap Samudera Hindia. Posisi ini membuat kawasan tersebut akrab dengan ombak tinggi dan angin laut yang kencang. Namun di balik bentang pantainya, geologi Pacitan didominasi perbukitan kapur atau kawasan karst yang terbentuk jutaan tahun lalu.

Baca juga:Dari Dasar Laut Purba Menjadi Perbukitan Karst

Para ahli menjelaskan, wilayah Pacitan dulunya merupakan dasar laut dangkal. Endapan karang dan organisme laut kecil yang menumpuk selama jutaan tahun mengalami proses sedimentasi hingga mengeras menjadi batu gamping atau batu kapur.

Perubahan besar terjadi ketika lempeng Indo-Australia bergerak menunjam ke bawah lempeng Eurasia. Proses subduksi ini mendorong dasar laut terangkat menjadi daratan berbukit. Inilah awal mula terbentuknya bentang alam karst Pacitan yang kini terkenal.

Batu kapur yang relatif mudah larut oleh air hujan kemudian mengalami proses karstifikasi. Air yang sedikit asam meresap ke dalam retakan batu, melarutkannya perlahan dan membentuk lorong-lorong bawah tanah. Proses kimia alami inilah yang melahirkan sistem goa spektakuler seperti Goa Gong dan Goa Tabuhan.

Di dalam goa, stalaktit dan stalagmit tumbuh sangat lambat dari tetesan air yang membawa mineral kalsium. Pertumbuhannya bisa hanya satu sentimeter dalam puluhan hingga ratusan tahun. Warna-warni dinding goa berasal dari campuran mineral seperti besi dan mangan yang mengendap selama waktu geologi yang panjang.

Baca juga:Sungai Bawah Tanah dan Ancaman Kekeringan

Kawasan karst Pacitan memiliki karakter unik. Lapisan tanahnya tipis dan air permukaan mudah menghilang ke bawah tanah. Hal ini menyebabkan beberapa wilayah rentan kekeringan saat musim kemarau.

Namun di balik itu, tersimpan cadangan air bawah tanah yang besar. Air mengalir melalui sistem sungai bawah tanah yang terbentuk dari proses pelarutan batu kapur. Fenomena sungai yang tiba-tiba menghilang lalu muncul kembali, atau dikenal sebagai sinking stream, menjadi ciri khas daerah karst.

Di permukaan, bukit-bukit karst tampak berlubang dengan cekungan yang disebut dolina. Lubang ini terbentuk akibat pelarutan dan runtuhan atap lorong bawah tanah. Beberapa dolina bahkan berkembang menjadi lahan subur karena terisi tanah hasil pelapukan.

Baca juga:Ombak Samudera dan Risiko Bencana

Letak Pacitan yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia menjadikan pantainya memiliki ombak berenergi tinggi. Energi ombak terbentuk dari transfer energi angin ke permukaan laut dalam jarak ribuan kilometer.

Struktur batuan memengaruhi bentuk pantai. Batuan keras membentuk tebing, sementara batuan yang lebih rapuh tererosi menjadi teluk melengkung. Proses longshore drift atau pergerakan pasir sepanjang pantai membuat garis pantai terus berubah secara perlahan.

Di sisi lain, geologi Pacitan juga berkaitan dengan potensi bencana. Wilayah ini dekat dengan zona subduksi aktif. Ketika tekanan tektonik dilepaskan, gempa bumi dapat terjadi dan berpotensi memicu tsunami. Karena itu, pemantauan wilayah selatan Jawa menjadi sangat penting dalam sistem mitigasi bencana nasional.

Baca juga:Jejak Manusia Purba dan Kebudayaan Pacitan

Tak hanya soal geologi, Pacitan juga menyimpan catatan penting sejarah manusia purba. Para arkeolog menemukan berbagai alat batu prasejarah yang kemudian dikenal sebagai Kebudayaan Pacitan.

Alat-alat tersebut berupa kapak genggam dari batu andesit atau kalsedon yang memiliki ketajaman dan daya tahan tinggi. Temuan ini menunjukkan manusia purba di Pacitan telah memahami sifat material batu dan mampu mengolahnya secara sistematis.

Goa-goa karst menjadi hunian alami yang stabil secara suhu. Beberapa situs menunjukkan jejak aktivitas manusia berupa sisa makanan, alat batu, dan lapisan tanah bekas pembakaran. Bukti ini menempatkan Pacitan sebagai salah satu kawasan penting dalam peta arkeologi Indonesia.

Baca juga:Arsip Alam yang Harus Dijaga

Karst Pacitan merupakan bagian dari bentang Karst Selatan Jawa yang luas dan saling terhubung. Setiap goa dan bukit kapur adalah arsip alam yang menyimpan rekaman perubahan iklim, aktivitas geologi, hingga jejak kehidupan purba.

Proses pembentukannya memakan waktu jutaan tahun. Kerusakan pada kawasan karst sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Karena itu, upaya pelestarian menjadi kunci menjaga warisan geologi dan sejarah ini.

Geologi Pacitan membuktikan bahwa wilayah ini terbentuk dari kombinasi laut purba, tekanan lempeng, reaksi kimia air, serta pahatan waktu yang panjang. Hasilnya adalah lanskap unik dengan goa megah, karst luas, pantai berombak kuat, dan jejak manusia purba yang mendunia.

Pacitan bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah perpustakaan batu yang merekam perjalanan bumi dan manusia dalam satu bentang alam yang sama.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#Geologi Pacitan #goa gong #Manusia Purba Pacitan #Zona Subduksi Jawa Selatan #Karst Pacitan