Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Gempa Bumi Skala 10–20 Bisa Terjadi? Fakta Mengejutkan soal Batas Kekuatan Gempa Bumi di Indonesia

Ayu Dhea Cheryl • Kamis, 12 Februari 2026 | 09:34 WIB

Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik dengan ribuan gempa bumi setiap tahun. Secara ilmiah, kekuatan gempa diperkirakan mentok di skala 10 karena keterbatasan panjang patahan lempeng bumi.
Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik dengan ribuan gempa bumi setiap tahun. Secara ilmiah, kekuatan gempa diperkirakan mentok di skala 10 karena keterbatasan panjang patahan lempeng bumi.

Gempa bumi di Indonesia bukan peristiwa langka. Setiap tahun, negeri ini diguncang sekitar 10.000 kali gempa atau rata-rata 27 gempa per hari. Angka tersebut menegaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu wilayah paling aktif secara seismik di dunia. Lalu muncul pertanyaan besar: jika gempa skala 9,1 saja sudah menimbulkan tsunami dahsyat, mungkinkah terjadi gempa bumi dengan skala 10, 15, bahkan 20?

Pertanyaan tentang batas kekuatan gempa bumi kerap memicu rasa penasaran sekaligus kekhawatiran. Terlebih, Indonesia pernah mengalami gempa besar yang berdampak luas dan menelan korban jiwa. Namun, secara ilmiah, adakah batas maksimal kekuatan gempa?

Baca juga:Rekor Gempa Terkuat di Dunia

Dalam sejarah pencatatan modern, gempa bumi terkuat yang pernah terjadi berkekuatan 9,5 skala magnitudo. Peristiwa tersebut memicu gelombang tsunami besar yang dampaknya terasa hingga melintasi samudra dan menyebabkan kerusakan di berbagai negara yang berjarak ribuan kilometer.

Sebagai gambaran, dampaknya bahkan dirasakan hingga sejauh ribuan kilometer—setara belasan kali panjang Pulau Jawa jika disejajarkan. Artinya, energi yang dilepaskan benar-benar luar biasa besar.

Namun, apakah 9,5 merupakan batas akhir?

Baca juga:Mengapa Gempa Bumi Paling Mentok Skala 10?

Secara teori, kekuatan gempa bumi memang tidak memiliki batas matematis. Tetapi dalam praktik geologi, gempa diperkirakan “mentok” di sekitar skala 10. Penyebabnya berkaitan langsung dengan mekanisme terjadinya gempa itu sendiri.

Gempa terjadi akibat aktivitas patahan lempeng tektonik. Kerak bumi dapat diibaratkan seperti kulit apel yang terpecah menjadi beberapa bagian. Potongan-potongan lempeng tersebut terus bergerak. Ketika dua lempeng saling menekan, bergeser, atau bertabrakan, energi yang terakumulasi akan dilepaskan dalam bentuk getaran—itulah gempa bumi.

Untuk menghasilkan gempa yang sangat besar, dibutuhkan bidang patahan yang sangat panjang dan luas. Semakin besar patahan, semakin besar energi yang dilepaskan. Masalahnya, jika membayangkan gempa skala 12 misalnya, ukuran patahan yang dibutuhkan bahkan lebih besar dari ukuran lempeng yang tersedia di Bumi. Dengan kata lain, secara fisik hal itu mustahil terjadi.

Itulah sebabnya para ilmuwan meyakini gempa bumi tidak akan melampaui sekitar skala 10 dalam kondisi alami planet kita.

Baca juga:Skala Logaritmik: Kenaikan 1 Angka Bukan Sekadar Tambah Sedikit

Banyak orang mengira perbedaan skala gempa hanya selisih angka biasa. Padahal, skala magnitudo bersifat logaritmik. Artinya, setiap kenaikan satu angka menunjukkan peningkatan energi sekitar 10 kali lipat.

Sebagai contoh, gempa skala 8 bukan hanya sedikit lebih kuat dari skala 7, tetapi sekitar 10 kali lebih kuat. Bahkan jika dibandingkan dengan skala 6, gempa skala 8 bisa 100 kali lebih kuat dalam amplitudo getaran.

Karena itulah gempa berkekuatan 7,9 saja sudah tergolong sangat besar dan berpotensi merusak secara luas.

Baca juga:Bisakah Gempa Bumi Dipicu Manusia?

Menariknya, tidak semua gempa murni terjadi secara alami. Aktivitas manusia seperti peledakan besar, uji coba nuklir, hingga kegiatan pertambangan dapat memicu getaran yang terdeteksi sebagai gempa.

Dalam sejarah, pernah terjadi proyek rekayasa berskala besar yang berujung bencana dan dikaitkan dengan gempa hebat, menyebabkan puluhan ribu orang meninggal atau hilang. Meski demikian, gempa akibat aktivitas manusia umumnya jauh lebih kecil dibanding gempa tektonik besar yang dipicu pergerakan lempeng.

Baca juga:Mengapa Gempa Bumi Sulit Diprediksi?

Di era ketika teknologi mampu memprediksi badai, cuaca ekstrem, bahkan pergerakan asteroid, pertanyaan klasik tetap muncul: mengapa gempa bumi belum bisa diprediksi secara akurat?

Jawabannya terletak pada sifat gempa yang kompleks dan sulit dipantau secara langsung. Tanda-tanda sebelum gempa sering kali sangat halus, tidak konsisten, dan bisa muncul jauh di bawah permukaan bumi. Tidak ada pola pasti yang bisa dijadikan patokan waktu dan lokasi secara presisi.

Karena itu, pendekatan terbaik saat ini bukan memprediksi secara tepat, melainkan memperkuat mitigasi bencana. Mulai dari pembangunan gedung tahan gempa, edukasi masyarakat, hingga sistem peringatan dini tsunami.

Baca juga:Mengapa Gempa Bumi Sulit Diprediksi?

Sebagai negara yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, Indonesia memang harus hidup berdampingan dengan risiko gempa bumi. Aktivitas lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik membuat wilayah ini sangat dinamis secara geologi.

Kesadaran bahwa manusia hanyalah bagian kecil dari sistem bumi yang besar menjadi pengingat penting. Gempa bumi mungkin tidak bisa dihentikan atau diprediksi secara pasti, tetapi dampaknya bisa diminimalkan melalui kesiapsiagaan dan pengetahuan.

Pada akhirnya, memahami batas kekuatan gempa bumi bukan untuk menakut-nakuti, melainkan agar masyarakat lebih siap menghadapi kenyataan geografis Indonesia yang rawan bencana.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#skala richter #cincin api pasifik #mitigasi bencana #lempeng tektonik #gempa bumi