Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Lempeng Tektonik: Penyebab Gempa Bumi dan Terbentuknya Palung Mariana, Ini Penjelasan Lengkap Gerakan Divergen, Konvergen, dan Transform

Ayu Dhea Cheryl • Kamis, 12 Februari 2026 | 09:34 WIB

gerakan lempeng tektonik yang menjadi penyebab gempa bumi, terbentuknya pegunungan Himalaya, hingga Palung Mariana akibat proses konvergen, divergen, dan transform.
gerakan lempeng tektonik yang menjadi penyebab gempa bumi, terbentuknya pegunungan Himalaya, hingga Palung Mariana akibat proses konvergen, divergen, dan transform.

Lempeng tektonik menjadi salah satu konsep penting dalam ilmu geografi dan geologi yang menjelaskan bagaimana permukaan bumi terus berubah. Fenomena seperti gempa bumi, gunung berapi, hingga terbentuknya Palung Mariana ternyata tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh pergerakan lempeng tektonik yang berlangsung selama jutaan tahun.

Dalam kajian kebumian, lempeng tektonik adalah potongan besar kerak bumi yang kaku dan bergerak di atas lapisan mantel yang panas dan plastis. Pergerakan lempeng tektonik inilah yang menjadi penyebab utama terbentuknya berbagai bentang alam ekstrem, termasuk jurang laut terdalam di dunia seperti Palung Mariana.

Para ahli menyebut bahwa permukaan bumi tersusun atas sekitar 10 lempeng tektonik besar yang saling berinteraksi. Lempeng-lempeng tersebut ibarat puzzle raksasa yang menyusun benua dan dasar samudra.

Baca juga:Dari Pangea hingga Terpecahnya Benua

Secara historis, bumi diyakini pernah memiliki satu daratan besar yang disebut Pangea. Jutaan tahun lalu, Pangea terpecah menjadi dua daratan utama, yakni Gondwana dan Laurasia.

Gondwana terdiri atas wilayah yang kini menjadi Australia, Antartika, Amerika Selatan, Afrika, dan India. Sementara Laurasia mencakup Amerika Utara, Eropa, serta sebagian besar Asia. Seiring waktu, kedua daratan besar itu kembali terpecah menjadi lempeng-lempeng tektonik yang terus bergerak hingga sekarang.

Pergerakan lempeng tektonik inilah yang menyebabkan posisi benua terus berubah dari masa ke masa.

Baca juga:Tiga Jenis Gerakan Lempeng Tektonik

Pergerakan lempeng tektonik terbagi menjadi tiga jenis utama, yakni divergen, konvergen, dan transform. Ketiganya memiliki dampak berbeda terhadap permukaan bumi.

1. Gerakan Divergen (Saling Menjauh)

Gerakan divergen terjadi ketika dua lempeng bergerak saling menjauh. Celah yang terbentuk kemudian diisi oleh material panas dari bawah permukaan bumi.

Akibatnya, terbentuk tanggul dasar samudra dan aktivitas vulkanik bawah laut. Contoh gerakan divergen adalah pergerakan antara lempeng Afrika dan Amerika Selatan yang menyebabkan terbentuknya pemekaran dasar Samudra Atlantik.

2. Gerakan Konvergen (Saling Bertumbukan)

Gerakan konvergen terjadi saat dua lempeng saling mendekat dan bertabrakan. Tumbukan ini dapat membentuk pegunungan tinggi, gunung berapi, hingga palung laut yang dalam.

Pegunungan Himalaya merupakan contoh nyata hasil tumbukan antara Lempeng India dan Lempeng Eurasia. Sementara Palung Mariana terbentuk akibat proses subduksi, yakni ketika satu lempeng menunjam ke bawah lempeng lainnya.

3. Gerakan Transform (Saling Bergeser)

Gerakan transform terjadi ketika dua lempeng bergerak saling berpapasan secara horizontal. Gesekan antar lempeng ini menyebabkan akumulasi energi yang sewaktu-waktu dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.

Salah satu contoh paling terkenal adalah Sesar San Andreas di California, Amerika Serikat, yang memiliki panjang sekitar 1.300 kilometer.

Baca juga:Mengapa Lempeng Tektonik Bisa Bergerak?

Pertanyaan mendasar yang sering muncul adalah mengapa lempeng tektonik dapat bergerak?

Jawabannya terletak pada arus konveksi yang terjadi di lapisan astenosfer. Panas dari inti bumi membuat material magma naik ke atas. Setelah mendingin, material tersebut kembali turun. Proses naik-turun ini disebut arus konveksi.

Arus konveksi inilah yang mendorong lempeng tektonik untuk terus bergerak. Ketika lempeng bergerak, energi yang tersimpan dapat dilepaskan dalam bentuk gelombang seismik atau gempa bumi.

Lapisan astenosfer sendiri merupakan bagian mantel bumi yang bersifat plastis dan mengandung lelehan batuan panas. Karena sifatnya yang tidak sepenuhnya padat, lempeng tektonik dapat “mengapung” dan bergerak di atasnya.

Baca juga:Dampak Besar bagi Kehidupan di Bumi

Pergerakan lempeng tektonik memiliki dampak besar terhadap kehidupan manusia. Selain membentuk bentang alam seperti pegunungan dan samudra, aktivitas ini juga menjadi penyebab gempa bumi dan letusan gunung api.

Indonesia sendiri termasuk wilayah yang aktif secara tektonik karena berada di pertemuan beberapa lempeng besar dunia. Kondisi ini membuat Indonesia rawan gempa dan aktivitas vulkanik.

Memahami konsep lempeng tektonik dan jenis-jenis pergerakannya menjadi penting, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Dengan pemahaman tersebut, risiko dampak bencana bisa diantisipasi lebih baik melalui mitigasi dan kesiapsiagaan.

Pada akhirnya, dinamika bumi yang terus bergerak menunjukkan bahwa planet ini bukanlah sistem yang statis. Lempeng tektonik terus bekerja membentuk wajah bumi, dari dasar samudra terdalam hingga puncak pegunungan tertinggi.

Editor : Ayu Dhea Cheryl
#Arus konveksi #gerakan lempeng tektonik #Gerakan Lempeng #Palung Mariana #lempeng tektonik #gempa bumi