Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kiat Kades Balesono Tulungagung Menjaga Kesehatan Gurame saat Musim Hujan, Jaga Kualitas Air dan Minimalisasi Serangan Penyakit

Rinto Wahyu Hidayat • Kamis, 19 Februari 2026 | 10:42 WIB

 

Kades Balesono Basiran menunjukkan kolam gurame yang dibudidayakannya.(RINTO WAHYU/RADAR TULUNGAGUNG)
Kades Balesono Basiran menunjukkan kolam gurame yang dibudidayakannya.(RINTO WAHYU/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Kepala desa memang sebuah jabatan publik. Namun, sosok yang duduk di kursi tersebut tetap manusia biasa yang memiliki aktivitas lain.

Contohnya Basiran, Kades Balesono, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, yang juga jadi peternak gurame.

Pagi itu, embun masih menggantung di atas permukaan kolam di sudut Desa Balesono, Kecamatan Ngunut.

Di sela kesibukannya sebagai kepala desa, Basiran tampak berdiri memperhatikan riak air yang bergerak pelan. Sesekali ia menebar pakan, memastikan ribuan ikan gurame di kolamnya tumbuh sehat.

Tak banyak yang tahu, di balik tanggung jawab memimpin desa, Basiran menekuni usaha sampingan ternak gurame dengan kapasitas sekitar 2 ribu ekor.

Usaha itu ia jalani bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan sebagai upaya menjaga kestabilan ekonomi keluarga.

“Kalau musim hujan begini, perawatannya harus lebih teliti,” ujarnya, sembari memeriksa saluran air kolam.

Musim penghujan memang menjadi tantangan tersendiri bagi para pembudi daya ikan. Curah hujan tinggi membuat kualitas air mudah berubah. Risiko serangan hama dan penyakit pun meningkat.

Karena itu, setiap kali panen usai, Basiran tak pernah melewatkan kolam dikuras, dibersihkan, lalu diisi air penuh dan didiamkan sekitar 10 hari sebelum benih ditebar kembali.

Menurutnya, langkah itu sederhana namun krusial.

“Kalau tidak didiamkan dulu, penyakit gampang muncul,” katanya.

Setiap hari, sebelum atau sesudah menjalankan tugas pemerintahan desa, dia menyempatkan diri memantau kondisi kolam. Jika menemukan ikan mati, dia segera mengambil tindakan.

Obat ikan diberikan agar penyakit tak menyebar ke yang lain. Baginya, ketelatenan adalah separuh dari keberhasilan.

Di tengah dinamika cuaca, kabar baik datang dari sisi pasar. Dalam dua bulan terakhir, harga gurame merangkak naik dari Rp 31 ribu menjadi sekitar Rp 32.500 per kilogram.

Kenaikan itu dipicu berkurangnya pasokan, menyusul sebagian peternak yang beralih ke komoditas lain.

Meski selisihnya tak terlalu besar, bagi Basiran, kenaikan tersebut cukup berarti. Apalagi, gurame dikenal sebagai ikan konsumsi favorit untuk hajatan maupun menu rumah makan.

“Lumayan untuk tambahan. Yang penting stabil,” ucapnya.

Bagi Basiran, beternak gurame bukan sekadar soal untung rugi. Ada kepuasan tersendiri melihat benih kecil tumbuh hingga siap panen.

Di antara rapat desa dan urusan administrasi, kolam gurame menjadi ruang jeda, tempat ia belajar sabar dan konsisten.

Dia pun meyakini usaha apa pun akan membuahkan hasil jika ditekuni dengan ketelitian. Terlebih di musim penghujan seperti sekarang ketika alam tak selalu bisa ditebak.

Di sudut Desa Balesono, riak air kolam itu seakan menjadi saksi bahwa ketekunan sederhana bisa menjadi penopang kehidupan.

Bagi Basiran, memimpin desa dan merawat gurame sama-sama membutuhkan perhatian, kesabaran, dan komitmen yang tak boleh surut oleh derasnya hujan. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#gurame #kepala desa #ngunut #musim penghujan #peternak