RADAR TULUNGAGUNG - Pagi hingga malam, hari-hari Risma Sofiya Lailatul Afifah nyaris tanpa jeda.
Mahasiswi 21 tahun asal Desa Betak, Kecamatan Kalidawir, Tulungagung, ini terbiasa membagi waktunya antara bangku kuliah, organisasi kampus, hingga kegiatan di pondok pesantren.
Bagi Risma, kesibukan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Kuliah tetap menjadi prioritas utama.
Setelah urusan akademik tuntas, barulah ia menyelesaikan tugas organisasi dan kepanitiaan, termasuk saat mengikuti ajang pemilihan duta Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan.
“Harus tahu skala prioritas. Kuliah dulu, baru yang lain,” ujarnya singkat.
Sore hingga malam, aktivitasnya berlanjut di pondok pesantren. Di sela padatnya agenda, ia masih menyempatkan diri mengerjakan tugas kuliah.
Tidak mudah, apalagi saat jadwal bertabrakan. Namun, ia belajar menentukan mana yang paling mendesak dan paling berdampak.
“Kalau banyak agenda bersamaan, harus bisa memilih yang paling urgent,” katanya.
Semangat Risma tak lahir begitu saja. Ia mengaku terinspirasi saat menjadi volunteer disabilitas dan bertemu seorang anak tunanetra yang tetap berprestasi meski memiliki keterbatasan.
“Dari situ aku merasa, kalau aku diberi fisik yang lengkap, seharusnya bisa lebih maksimal,” tuturnya.
Pengalaman itu menjadi titik balik. Ia memilih melawan rasa takut dan mulai melangkah lebih berani.
Kini, baginya, langkah kecil yang konsisten jauh lebih berarti daripada rencana besar tanpa aksi.
Risma berharap bisa terus mengembangkan potensi dan memberi manfaat bagi sesama. Ia pun berpesan kepada generasi muda agar tidak takut memulai.
“Mulai saja dulu. Kadang dari langkah kecil, kita dibawa ke hal yang luar biasa,” pesannya.
Di tengah ritme kehidupan mahasiswa yang serba cepat, Risma menunjukkan satu hal sederhana namun penting, disiplin, niat kuat, dan keberanian memulai bisa membawa anak muda Tulungagung melampaui batas dirinya sendiri. (mg2/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri