Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Lana Faizatussulaimah Jelajahi Peninggalan Sejarah di Tulungagung, Kagumi Arsitektur hingga Munculkan Pengalaman Baru

Tim Redaksi • Selasa, 24 Februari 2026 | 11:36 WIB

Lana Faizatussulaimah menyalurkan kegemarannya menjelajah situs candi di sela kesibukannya bekerja.
Lana Faizatussulaimah menyalurkan kegemarannya menjelajah situs candi di sela kesibukannya bekerja.

RADAR TULUNGAGUNG - Di sela kesibukannya bekerja di bidang kesehatan, Lana Faizatussulaimah justru menemukan ruang pelarian di candi-candi kuno yang sarat sejarah.

Bahkan, staf humas RS Era Medika Ngunut Tulungagung ini begitu menggandrunginya.

‎Ketertarikan Lana Faizatussulaimah pada dunia arkeologi berawal dari bangku kuliah. Dia pernah mengikuti mata kuliah arkeologi di salah satu perguruan tinggi di Tulungagung.

Dari situlah, rasa ingin tahunya tumbuh, lalu berkembang menjadi kegemaran menjelajah situs-situs bersejarah dari satu daerah ke daerah lain.

Meski pekerjaannya kini tak berkaitan langsung dengan latar akademiknya, kecintaannya pada wisata sejarah tetap terjaga. ‎

“Karena unik dari segi arsitektur, ragam hias utamanya relief yang naratif seperti Arjunawiwaha, Kresnayana, dan lain sebagainya,” ujar Lana, menggambarkan alasan mengapa ia jatuh hati pada candi-candi kuno.

‎Bagi Lana, daya tarik candi bukan hanya pada bangunan fisiknya. Arsitektur, relief naratif, ragam hias, hingga kisah sejarah di balik pendiriannya menjadi satu kesatuan yang memunculkan rasa senang, bangga, sekaligus penasaran.

Setiap kunjungan ke candi selalu menghadirkan pengalaman baru yang membuatnya ingin belajar lebih dalam tentang masa lalu.

‎Kegemaran itu bahkan membawanya hingga ke kawasan Dieng pada Desember 2024. Di dataran tinggi tersebut, Lana mengagumi kompleks candi yang berdiri di tengah lanskap alam pegunungan.

“Candi Bima dan candi-candi di Dieng bagus karena arsitekturnya masih mirip kuil di India,” tuturnya, mengaitkan bentuk bangunan dengan pengaruh budaya luar pada masa lampau.

‎Pengalaman berkesan lainnya ia dapatkan saat berkunjung ke Candi Jawi, Kabupaten Pasuruan.

Menurutnya, candi tersebut memiliki nilai historis yang kuat karena merepresentasikan peleburan dua ajaran besar.

“Candi Jawi itu memiliki muatan peleburan dua agama dan relief pernikahan Sutasoma,” katanya.

‎Namun, dari sekian banyak situs yang ia kunjungi, satu tempat memiliki ruang khusus di hatinya yakni Candi Penataran.

Candi terbesar di Jawa Timur itu membuatnya jatuh cinta karena kelengkapan struktur dan reliefnya.

“Candi Penataran jadi candi terluas di Jatim, lengkap dengan patirtan dan banyak relief naratif, ada lebih dari lima cerita,” ungkapnya penuh antusias.

‎Bagi Lana, wisata candi bukan sekadar liburan. Dia menyebutnya sebagai “tempat healing yang edukatif dan bernilai sejarah.”

Mimpi besarnya pun tak lepas dari dunia tersebut. Dia berharap suatu hari bisa menjadi arkeolog atau setidaknya kreator konten yang fokus mengangkat wisata sejarah.

‎Di akhir kisahnya, Lana menyimpan harapan sederhana namun bermakna, yakni agar generasi muda mau peduli terhadap cagar budaya.

“Agar tetap lestari dan menghilangkan stigma kalau candi cuma batu yang ditumpuk,” tutupnya.(*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#liburan #healing #arkeologi #candi