Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Dari Hobi Rekam Pakai HP Jadul, Bagus Setya Kini Tekuni Jasa Wedding dan Konten Kreatif di Tulungagung

Rahiiq Al Bachri • Kamis, 5 Maret 2026 | 09:45 WIB

Bagus Setya Puji Saputra secara konsisten menekuni dunia visual sebagai kariernya.
Bagus Setya Puji Saputra secara konsisten menekuni dunia visual sebagai kariernya.

 

RADAR TULUNGAGUNG - Ekonomi kreatif sekarang berkembang pesat.

Hal inilah yang dilakoni Bagus Setya Puji Saputra. Dari sekadar hobi merekam video, dia kini secara total menekuni meskipun banyak tantangan yang dihadapinya.

Bagi banyak orang, tahun 2020 adalah masa penuh kecemasan.

Pandemi Covid-19 memaksa aktivitas berhenti, ruang gerak menyempit, dan mimpi terasa tertunda.

Namun, bagi Bagus Setya Puji Saputra, masa sunyi itu justru menjadi titik tolak perjalanan hidupnya.

Pemuda asal Perumahan Sobontoro Permai, Desa Sobontoro, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, ini tak pernah menyangka waktu luang akibat kuliah daring di UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung akan mengubah hobinya menjadi profesi yang menjanjikan.

Sejak duduk di bangku SMP, Bagus sudah akrab dengan dunia visual.

Bukan dengan kamera mahal, melainkan kamera ponsel jadul yang kualitasnya jauh dari kata sempurna.

Bersama teman-temannya, dia merekam momen sederhana seperti video aksi, candaan, hingga potret keseharian.

“Dulu itu cuma hobi. Ngefoto, ngevideo pakai HP. Editnya numpang laptop teman pakai Filmora,” kenangnya, sambil tersenyum mengingat masa-masa sebagai siswa SMA Negeri 1 Kedungwaru.

Semua berubah di awal 2020. Ketika perkuliahan beralih daring, Bagus merasa memiliki ruang untuk mencoba sesuatu yang lebih serius. Kesempatan itu datang tanpa banyak rencana.

Seorang teman menawarinya pekerjaan sebagai kreator konten di sebuah klinik kecantikan di Tulungagung dan langsung diterimanya.

Dari situlah, jalan profesionalnya terbuka. Dunia yang dulu hanya ia tekuni untuk bersenang-senang, kini menjadi sumber penghidupan.

Tak berhenti sebagai karyawan, Bagus bersama beberapa rekannya merintis vendor dokumentasi sendiri.

Mereka menerima jasa wedding, pre-wedding, wisuda, hingga tradisi pitonan dan tedak siten yang masih kental di Tulungagung.

Di balik layar, Bagus tumbuh bersama perkembangan teknologi.

Dari sekadar aplikasi sederhana, kini ia mahir mengolah gambar menggunakan Adobe Premiere hingga DaVinci Resolve.

Namun, lebih dari sekadar teknis, dia belajar membaca selera zaman.

“Sekarang orang suka yang dinamis. Dulu, wedding identik slow motion kalem, sekarang lebih banyak cut-to-cut cepat, ada freeze frame, slow shutter. Tapi warna tetap saya jaga clean look biar bersih dan enak dilihat,” jelasnya.

Baginya, warna adalah identitas. Visual yang bersih, jernih, dan natural menjadi ciri khas yang ia pertahankan.

Menariknya, tantangan terberat bukan saat menghadapi klien atau memotret ratusan tamu undangan.

Justru benda mati yang sering membuatnya berpikir lebih keras.

“Produk kecantikan itu susah. Harus kelihatan hidup. Lighting dan properti harus presisi,” ungkapnya.

Belum lagi ketika mendokumentasikan balita dalam prosesi adat seperti tedak siten. Kesabaran benar-benar diuji.

Anak kecil tak bisa diarahkan sesuka hati, momen datang hanya dalam hitungan detik.

Di sela kesibukan komersial, jiwa seninya tetap mencari ruang. Bagus aktif di tim Tiba-Tiba Cinema (TTC), komunitas kreatif yang melahirkan karya film pendek.

Salah satunya berjudul Merah Muda, yang sempat meramaikan ajang kompetisi film pendek di Radar Tulungagung.

Baginya, kepuasan bukan semata soal honor. Ada kebahagiaan sederhana ketika melihat klien mengunggah hasil karyanya sebagai foto profil atau video kenangan di media sosial.

“Itu rasanya senang sekali. Berarti karya kita dihargai,” tuturnya pelan.

Di usianya yang masih 25 tahun, Bagus memahami satu hal penting: perjalanan membangun nama tak bisa instan.

Dia pun berpesan kepada anak-anak muda yang ingin terjun ke dunia kreatif agar tak terlalu memikirkan keterbatasan alat.

“Mulai saja dulu. Pakai HP pun sekarang sudah bagus. Yang paling susah itu bukan beli alat, tapi konsistensi. Bangun nama itu butuh jam terbang bertahun-tahun,” tegasnya. (*/c1/rka)

 

 

 

 

Editor : Vidya Sajar Fitri
#bisnis #kreator konten #mahasiswa #hobi