Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Cerita Keluarga Yono Prawito: Maestro Kendang Tayub Tulungagung yang Dikenal Sabar, Humoris, dan Dermawan Ilmu

Sandy Sri Yuwana • Senin, 9 Maret 2026 | 09:54 WIB

Purna Istriati (anak keempat Yono Prawito) bersama putrinya ketika menunjukkan foto-foto kenangan dari sang ayah.(SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)
Purna Istriati (anak keempat Yono Prawito) bersama putrinya ketika menunjukkan foto-foto kenangan dari sang ayah.(SANDY YUWANA/RADAR TULUNGAGUNG)

RADAR TULUNGAGUNG - Di balik reputasinya sebagai maestro kendangan tayub Tulungagungan, Yono Prawito tetap dikenal sebagai family man.

Bagi anak-anaknya, dia sosok ayah yang sederhana, sabar, dan penuh humor.

Putrinya, Purna Istriati, masih mengingat jelas bagaimana perjalanan seni ayahnya dimulai dari kondisi yang serba terbatas.

Saat remaja, Yono Prawito muda belajar menabuh kendang dengan alat seadanya. Bahkan, media latihan yang digunakan hanyalah kumplung atau kaleng bekas.

“Kalengnya digendong lalu dipukul-pukul. Bapak juga sering mengintip latihan di sanggar karena waktu itu kondisi ekonomi keluarga masih sulit,” kenang Purna sambil tersenyum.

Meski hanya mengenyam pendidikan hingga sekolah dasar, kecintaan pada seni membuat bakat musiknya berkembang pesat.

Dia belajar secara otodidak hingga akhirnya dikenal sebagai pengendang tayub.

Bagi Yono Prawito, inspirasi lagu bisa muncul kapan saja. Bahkan saat perjalanan pulang dari pentas pun menjadi ide.

“Pernah bapak pulang jalan kaki dari tanggapan di alun-alun. Waktu itu gerimis. Sampai rumah sudah jadi satu lagu,” cerita Purna.

Di rumah, Yono dikenal sebagai ayah yang jarang marah. Meski disiplin saat melatih murid, kepada anak-anaknya ia lebih sering melontarkan candaan.

“Bapak itu humoris. Hampir tidak pernah memarahi kami,” katanya.

Selain berkarya, Yono juga dikenal sebagai guru bagi banyak pengendang muda. Siapa pun yang ingin belajar selalu diterima tanpa dipungut biaya.

“Tujuan bapak memang melestarikan budaya. Kalau ada yang datang minta diajari, pasti dilayani,” ujarnya.

Tak heran jika murid-muridnya kemudian tersebar di berbagai daerah mulai Tulungagung, Trenggalek, hingga Ponorogo.

Bahkan, popularitas Yono Prawito pernah menarik perhatian peneliti luar negeri. Pada 1987, seorang mahasiswa asal Inggris datang langsung ke Batangsaren untuk meneliti musik tayub dan belajar darinya.

Di mata keluarga, warisan terbesar yang ditinggalkan bukanlah benda, melainkan ratusan karya lagu yang masih dimainkan hingga sekarang.

“Yang paling berharga tentu lagu-lagu bapak. Itu warisan yang harus dijaga,” tegas Purna.

Yono Prawito meninggalkan lima anak yakni Rudi Margono, Arik Siswati, Adi Riaman, Purna Istriati, dan Kuntari Pujiastuti.

Bagi keluarga, satu harapan yang selalu dijaga adalah agar karya-karya sang maestro tetap dihargai oleh para seniman.

“Kalau ada yang membawakan atau mengaransemen ulang boleh saja. Tapi seharusnya tetap mencantumkan nama penciptanya,” pungkas Purna. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#family man #yono prawito #Maestro Kendang #Tayub #keluarga