RADAR TULUNGAGUNG - Suara remaja sering kali tenggelam di balik rutinitas sekolah.
Frilian Tri Ardhiantara mencoba mengangkatnya lewat cara berbeda, melalui komposisi musik.
Dia menggagas Swaraja, pertunjukan yang menghadirkan cerita kehidupan pelajar Tulungagung di atas panggung seni.
Di tengah rutinitas sekolah yang padat, tak banyak pelajar yang punya ruang untuk menyampaikan keluh kesah atau gagasannya.
Kegelisahan itulah yang dirasakan Frilian Tri Ardhiantara. Remaja 18 tahun asal Dusun Sanggrahan Kidul, Desa Sanggrahan, Kecamatan Boyolangu, Tulungagung, ini menggagasnya dalam sebuah karya seni pertunjukan.
Bagi Frilian, ide itu lahir dari pertanyaan sederhana yang terus mengusiknya. Apakah suara para pelajar sudah benar-benar didengar?
Bahkan awalnya dia berpikir, selama ini apakah aspirasi atau keluh kesah pelajar sudah tersampaikan dengan baik.
"Setelah saya mencoba mewawancarai beberapa perwakilan siswa dari berbagai SMP dan SMA di Tulungagung, ternyata masih banyak yang belum tersalurkan,” ujarnya.
Keluhan yang ia dengar beragam. Mulai dari kegiatan ekstrakurikuler. Menurutnya, para pelajar merasa kurang mendapat dukungan dalam kegiatan tersebut.
Terlebih persoalan pertemanan di sekolah yang terkadang membuat sebagian siswa merasa tersisih.
Dari situlah muncul gagasan menghadirkan ruang ekspresi lewat seni. Frilian kemudian merancang sebuah pertunjukan komposisi musik yang tidak hanya menghadirkan bunyi, tetapi juga cerita kehidupan remaja.
Dia menamai karya itu Swaraja, singkatan dari Swara Remaja. Nama tersebut dipilih karena pertunjukan ini ingin menjadi wadah bagi generasi muda untuk menyuarakan gagasan, perasaan, hingga pengalaman hidup mereka melalui karya musik.
“Remaja sering punya banyak cerita dan potensi, tetapi tidak selalu punya ruang untuk mengekspresikannya. SWARAJA, saya bayangkan sebagai ruang bagi suara-suara muda agar bisa didengar dan dihargai,” jelasnya.
Dalam proses kreatifnya, Frilian terlebih dahulu menentukan tema besar tentang dinamika kehidupan remaja.
Setelah itu, dia menyusun alur cerita layaknya sebuah drama, kemudian merancang struktur musik yang mengalir dari pembukaan, konflik, hingga penutup.
Komposisi yang disusun pun tidak hanya menghadirkan nuansa musikal modern. Dia juga menggabungkannya dengan unsur musik tradisional gamelan agar menghasilkan warna bunyi yang lebih dinamis.
Menariknya, beberapa adegan dalam komposisi ini diangkat dari kehidupan sehari-hari pelajar.
Misalnya, suasana pagi saat bangun tidur, perjalanan menuju sekolah, hingga kegaduhan di dalam kelas.
Bahkan, kebiasaan siswa menabuh meja atau bangku kelas yang akrab disebut klothekan ikut dimasukkan sebagai bagian dari ritme pertunjukan.
“Saya mencoba menghadirkan emosi kehidupan sekolah secara utuh. Jadi bukan hanya musik, tetapi juga suasana yang bisa dirasakan penonton,” ungkapnya.
Tak hanya itu, Frilian juga menyelipkan unsur kesenian khas Tulungagung dalam karya tersebut.
Di antaranya, Reog Kendhang, Jaranan Sentherewe, hingga Kentrungan yang mulai jarang dikenal generasi muda.
Dia berharap perpaduan tersebut membuat pertunjukan terasa modern tanpa meninggalkan akar budaya lokal.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri