RADAR TULUNGAGUNG - Merintis bisnis tidak melulu dengan modal besar. Niat kuat dan strategi tepat bisa menghasilkan keuntungan yang hebat.
Hal ini yang dialami Lulu Kusuma Wati saat merintis rumah produksi kue di rumahnya.
Sebuah rumah produksi kue di kawasan Kedungwaru membuktikan bahwa strategi menabung keuntungan jauh lebih menghasilkan daripada mengejar aset lewat jalur kredit.
Memulai perjalanan dari dapur sederhana dengan modal awal yang hanya cukup untuk membeli bahan baku sekali jalan, kini bisnis tersebut telah bertransformasi menjadi salah satu penyokong ekonomi warga sekitar.
Lulu Kusuma Wati, 42, memilih jalan yang berbeda. Pemilik Griya Belfan Cake di Desa Gendingan, Kecamatan Kedungwaru, Tulungagung, ini membuktikan bahwa bisnis kuliner bisa tumbuh besar tanpa harus terlilit cicilan.
Dimulai dari waktu luang pada akhir 2017, kini produk bolennya telah merambah berbagai outlet hingga ke kota tetangga.
Kisah sukses Lulu sangat berbeda di tengah banyaknya usaha berbasis pinjaman.
Sarjana ekonomi bidang pemasaran ini memegang teguh prinsip "ada uang beli, tidak ada uang tunggu" yang diajarkan orang tuanya.
"Prinsip saya tidak ada sistem kredit. Dulu dari hasil baking, saya kumpulkan untuk beli hand mixer. Ada untung lagi, saya belikan oven listrik kecil. Begitu terus sampai di tahun ketiga bisa beli mixer kapasitas besar. Kalau ada tawaran KUR atau bank, saya selalu menolak karena prinsip hidup saya memang menghindari itu," tegas Lulu.
Perjalanan Lulu bermula saat ia pindah domisili dari Kediri ke Tulungagung.
Untuk mengisi waktu sembari mengasuh anak pertamanya yang kala itu berusia satu tahun, dia mulai mencoba resep secara otodidak melalui internet.
Modal pertamanya pun tergolong sangat sedikit, yakni hanya Rp 120 ribu yang didapat dari keuntungan pesanan perdana yang dibayar lunas di depan.
Tantangan terberat yang dihadapi ibu dua anak ini bukanlah persaingan pasar, melainkan manajemen waktu.
Sebagai sosok yang mengutamakan keluarga, dia harus memutar otak agar usaha berkembang tanpa menelantarkan tugas utamanya sebagai ibu muda.
"Dulu awalnya suami belum mendukung penuh karena anak masih balita. Tapi saya tidak patah semangat. Saya belajar otodidak, praktik, gagal, coba lagi. Bagusnya baking itu bikin happy, apalagi kalau produk kita diterima baik oleh masyarakat," tambahnya.
Kini, Griya Belfan Cake tidak hanya menjadi pilar ekonomi bagi keluarga Lulu, tetapi juga menjadi ladang rezeki bagi warga sekitar.
Jika dulu ia dibantu oleh keponakan-keponakannya, kini Lulu memberdayakan para tetangga di Gendingan untuk memenuhi permintaan pasar yang kian melonjak, terutama saat musim kue kering menjelang Lebaran seperti sekarang.
Bagi Lulu, persaingan bisnis bolen pisang yang menjamur di Tulungagung bukanlah ancaman. Dia percaya bahwa setiap tangan memiliki ciri khas tersendiri pada produknya.
"Mau ada saingan harga atau kualitas, saya tidak takut. Karena ciri khas tidak bisa ditiru orang lain, begitupun saya tidak bisa meniru punya orang. Kreativitas itulah yang menjaga pelanggan tetap setia," pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri