RADAR TULUNGAGUNG - Menjadi tenaga kesehatan (nakes), khususnya perawat, membawa konsekuensi besar.
Hal tersebut disadari sepenuhnya Fiona Airel Destianita yang saat ini berjibaku sebagai perawat di rumah sakit pelat merah.
Bagi sebagian orang, profesi perawat mungkin hanya dipandang sebagai pelaksana medis.
Namun, bagi Fiona Airel Destianita, perawat muda asal Kecamatan Karangrejo, Tulungagung, profesi ini adalah panggilan jiwa untuk menjadi jembatan harapan bagi mereka yang berada di titik terendah.
Di usianya yang menginjak 24 tahun, Fiona kini mengemban tanggung jawab di Instalasi Pelayanan Jantung dan Vaskular Terpadu RSUD dr Saiful Anwar (RSSA) Malang.
Bekerja di rumah sakit rujukan tipe A membuatnya harus selalu berpacu dengan waktu.
"Jantung adalah pusat kehidupan. Di sini, tantangan terbesarnya adalah kecepatan. Rasanya campur aduk antara harus tetap tenang secara profesional, namun tetap sigap karena setiap detik sangat berarti bagi nyawa pasien," ungkap fiona.
Ketangguhan Fiona di lapangan bukan datang tiba-tiba. Saat masa kuliah, dia adalah aktivis BEM dan KSR PMI yang tekun mengasah public speaking serta manajemen waktu.
Kerja kerasnya membagi waktu antara akademik dan organisasi membuahkan sederet prestasi membanggakan.
Tak main-main, Fiona berhasil meraih Medali Perak Assessment Trauma Nasional, Juara 3 Lomba Pertolongan Pertama KSR PMI Nasional, hingga Juara 1 Lomba Cerdas Cermat Askep di Kota Kediri.
Bagi Fiona, deretan medali itu hanyalah sarana untuk menguji mental.
Kebanggaan sejatinya adalah saat ilmu dari lomba-lomba tersebut berhasil ia praktikkan untuk menyelamatkan nyawa di lapangan.
"Momen paling berkesan adalah saat merawat pasien yang hampir putus asa. Saat mereka pulang dan berbisik 'Terima kasih, Sus, sudah sabar menemani saya,' itu adalah 'gaji' emosional yang jauh lebih berharga dari apa pun," kenang Fiona dengan tulus.
Menghadapi tekanan tinggi di rumah sakit rujukan, Fiona selalu menanamkan prinsip bahwa pasien adalah keluarga bagi seseorang.
Empati itulah yang membuatnya tetap humanis meski dikelilingi kecanggihan alat medis.
Baginya, integritas dan komunikasi adalah nyawa dari profesi perawat.
Meski kini berkarier di luar kota, Fiona tetap menaruh harapan besar bagi tanah kelahirannya, Tulungagung.
Dia bermimpi layanan kesehatan di Tulungagung terus bertransformasi menuju digitalisasi tanpa kehilangan sentuhan kemanusiaan.
"Kesehatan adalah investasi terbaik. Jangan tunggu sakit untuk menghargainya. Untuk rekan sejawat, mari bekerja dengan hati. Apresiasi dan kepercayaan masyarakat adalah energi terbesar kami," pungkas gadis yang hobi mengikuti lomba nasional sejak mahasiswa ini.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri