RADAR TULUNGAGUNG - Bukan sekadar kudapan. Jenang telah menjelma menjadi bagian dari tradisi. Salah satu yang paling legendaris adalah Jenang Jelita atau yang lebih akrab di telinga masyarakat sebagai jenang “syabun”.
Di balik kelezatan jenang syabun, tersimpan cerita panjang lintas generasi. Kini, tongkat estafet itu berada di tangan Sri Wanudyo Winarni.
Generasi ketiga yang meneruskan warisan keluarga dengan penuh dedikasi di Kelurahan Sembung, Kecamatan Tulungagung.
“Pendiri pertama itu kakek saya. Tapi yang paling hobi membuat jenang justru nenek,” kenang Sri.
Dari tangan sang kakek yang kreatif, jenang yang awalnya identik dengan gula merah mulai berevolusi. Dia bereksperimen menggunakan gula putih, susu, hingga cokelat.
Sesuatu yang tak lazim pada masanya. Hasilnya? Cita rasa baru yang langsung mencuri perhatian.
Awalnya hanya dibagikan ke tetangga dan kerabat, namun respons positif membuat jenang ini perlahan dikenal luas.
Setiap Lebaran, pesanan datang bertubi-tubi. Dari sekadar camilan rumahan, jenang itu menjelma menjadi komoditas yang dicari.
Perjalanan usaha ini tidak selalu mulus. Pada era 1970–1980-an, usaha keluarga sempat terpuruk. Namun, ayahnya mengambil langkah berani untuk meninggalkan usaha lama dan fokus penuh pada jenang.
Yakni dengan cara sederhana, dipikul dan dijajakan ke kawasan sekolah hingga kampus. Namun ternyata jenang ini justru semakin dikenal.
“Mahasiswa dari berbagai daerah itu yang membuat jenang ini cepat terkenal,” ujar Sri.
Nama “Jenang Jelita” sendiri bukan tanpa makna. Itu adalah akronim: Je dari jenang, Li dari licin (teksturnya), dan Ta dari Tulungagung. Sementara sebutan “jenang syabun” muncul dari salah kaprah pelafalan nama penjualnya dulu, Mbah Saibun, yang oleh anak-anak disebut “syabun”.
Lebih dari setengah abad berlalu sejak pertama kali dijual pada 1953, jenang ini tetap bertahan. Bahkan, di tangan Sri, inovasi terus berkembang.
Jika generasi sebelumnya hanya menghadirkan varian klasik, kini hadir aneka rasa buah. Mulai dari nangka, sirsak, nanas hingga duwet. Menariknya, semua dibuat dari bahan alami tanpa perasa tambahan.
“Saya ingin orang makan jenang yang sehat,” tegasnya.
Baca Juga: Reuni Alumni SMPN 1 Tulungagung Angkatan 1984, Bukti Persahabatan Tetap Terjaga 40 Tahun
Tak hanya rasa, inovasi juga menyentuh teknik produksi dan pengemasan. Dari adonan yang dulu diaduk manual, kini telah menggunakan mesin. Namun, satu hal yang tak berubah: komitmen menjaga kualitas.
“Bahan tidak pernah saya kurangi meskipun harga naik. Ukuran dan rasa tetap,” katanya.
Tantangan terbesar justru datang dari daya tahan produk. Tanpa bahan pengawet, jenang hanya mampu bertahan sekitar satu minggu. Namun, Sri menemukan solusi dari kearifan lokal: daun pisang.
“Kalau dibungkus daun pisang, bisa tahan hampir satu bulan. Aromanya juga lebih enak,” jelasnya.
Inovasi ini membuka peluang pasar lebih luas. Jenang Jelita kini tak hanya dinikmati di dalam negeri, tetapi juga menembus pasar internasional. Mulai dari Amerika Serikat, Swiss, hingga Yunani.
Meski demikian, badai belum sepenuhnya reda. Pandemi Covid-19 hingga ketidakstabilan ekonomi global membuat omzet turun drastis, bahkan hingga 50 persen.
“Sekarang buat makan saja sudah alhamdulillah,” ungkap Sri jujur.
Momentum Lebaran yang dulu selalu ramai pun kini terasa berbeda. Produksi harus disesuaikan untuk menghindari kerugian akibat barang retur.
“Kami harus menyesuaikan diri dengan keadaan,” tandasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri