Berita Daerah Ekonomi Entertainment Features Gaya Hidup Headline Hobi Hukum & Kriminal Internasional Jeprat-jepret Kesehatan Kolom Kuliner Kultur Mataraman Raya Nasional Otomotif Pendidikan Politik Ratu Event Seni Budaya Serba-serbi Sportainment Tech Tempo Doeloe Travelling Tulungagungan Viral Wisata

Kisah Guru SD di Tulungagung Raup Cuan dari Sketsa Hitam Putih, Omzet Tembus Ratusan Ribu Per Bulan

Rahiiq Al Bachri • Selasa, 24 Maret 2026 | 11:16 WIB
Di sela kesibukannya sebagai guru, Anggelina Widiarsi menjadi seniman sketsa.
Di sela kesibukannya sebagai guru, Anggelina Widiarsi menjadi seniman sketsa.

RADAR TULUNGAGUNG - Di tangan Anggelina Widiarsi, sebatang pensil dan selembar kertas bukan sekadar alat tulis biasa. Guru muda asal Kelurahan Tamanan, Kecamatan Tulungagung, ini berhasil membuktikan bahwa garis-garis hitam di atas kertas mampu menjadi media yang menangkap karakter seseorang.

Di sela kesibukannya mengajar, Anggelina Widirasi sukses mentransformasi hobinya menjadi karya seni bernilai jual yang diapresiasi banyak kalangan. Meskipun begitu, membagi waktu antara kewajiban mengajar dan hobi menggambar diakuinya sebagai proses yang mengalir. Baginya, profesionalisme sebagai pendidik tetap menjadi prioritas utama di pagi hingga siang hari.

"Mengajar adalah kewajiban dan profesi utama saya. Jadi, dari pagi hingga siang, fokus saya 100 persen untuk murid dan sekolah. Selebihnya baru saya gunakan untuk kegiatan lain, salah satunya menggambar sketsa," ungkap Anggelina.

Pilihan pada teknik sketsa hitam putih pun bukan tanpa alasan. Menurut Anggelina, tanpa distraksi warna, fokus utama akan langsung tertuju pada kedalaman karakter, sorot mata, dan garis wajah.

Baca Juga: Kisah Jenang Jelita Tulungagung: Bertahan 3 Generasi Sejak 1953, Inovasi Rasa Buah hingga Tembus Pasar Amerika dan Eropa

Di tengah gempuran teknologi AI yang serbainstan, dia tetap meyakini bahwa sentuhan tangan (handmade) memiliki nilai personal dan jiwa yang tak tergantikan.

Perjalanan dimulai dari momen tak terlupakan saat ia menjalani prakerin di Jakarta. Berawal dari hobi menggambar untuk refreshing setelah bekerja, karyanya dilirik oleh sang manajer tempatnya praktik yang kemudian meminta dibuatkan kado pernikahan.

"Awalnya niat saya memberikan secara cuma-cuma karena merasa ini hanya hobi. Tapi beliau memaksa untuk membayar karena menurutnya keterampilan seni itu mahal harganya. Momen itu menyadarkan saya bahwa apa yang saya anggap sekadar 'corat-coret' ternyata memiliki arti besar bagi orang lain," jelasnya.

Kini, kreativitas Anggelina mendapatkan dukungan penuh dari lingkungan sekolahnya. Rekan sejawatnya banyak yang memberikan pujian, bahkan keahliannya ini turut disalurkan untuk membimbing siswa-siswi yang mengikuti lomba menggambar di sekolah. Meski tantangan sering muncul saat pelanggan meminta revisi fisik tertentu, dia tetap berusaha menjaga estetika dari setiap karyanya.

Baca Juga: Open House Lebaran 2026 Bupati Gatut Sunu Wibowo di Tulungagung Dibuka untuk Umum, Warga Bisa Silaturahmi Gratis dari Pagi hingga Sore

Soal pendapatan, Anggelina mengaku mematok harga yang sangat terjangkau agar karyanya bisa dinikmati banyak orang. Dalam sebulan, dia rata-rata mengantongi omzet tambahan berkisar Rp 300 ribu hingga Rp 500 ribu dari 6 hingga 10 karya. Namun, saat musim wisuda tiba, pesanan bisa melonjak tajam hingga 30 sketsa dalam sebulan.

Menutup perbincangan, Anggelina menitipkan pesan inspiratif bagi rekan guru maupun siapa pun yang memiliki bakat seni agar berani melangkah.

"Dunia tidak kekurangan orang berbakat, tapi kekurangan orang yang cukup berani untuk menunjukkan bakatnya dan berkata. Karya saya layak dihargai. Mulailah hari ini, karena kreativitas yang dipendam hanya akan menjadi angan, tapi kreativitas yang dibagikan akan menjadi warisan dan penghidupan," pungkasnya. (*/c1/rka)

Editor : Vidya Sajar Fitri
#sketsa #guru sd tulungagung #karya seni #guru muda