RADAR TULUNGAGUNG - Bagi sebagian orang, mudik mungkin hanya rutinitas tahunansebagai perjalanan panjang melintasi kota demi kembali ke kampung halaman. Namun tidak demikian bagi Luluk Yuliani.
Lebaran tahun ini menjadi lebih dari sekadar pulang, tetapi perjalanan batin untuk memahami kembali jati diri.
Perempuan asal Desa Banjarejo, Kecamatan Rejotangan, Tulungagung, itu telah merantau ke Malang sejak 2024 untuk melanjutkan studi magister.
Keputusan meninggalkan Tulungagung sesaat setelah lulus sarjana menjadi titik awal perubahan besar dalam hidupnya.
Di kota yang dikenal sebagai kota pendidikan itu, Luluk Yuliani tidak hanya menimba ilmu, tetapi juga belajar tentang kehidupan. Jauh dari keluarga memaksanya tumbuh lebih mandiri.
Dia harus mengatur waktu sendiri, menghadapi berbagai tantangan, hingga beradaptasi dengan lingkungan baru yang serbacepat.
“Selama merantau, saya merasakan banyak perubahan dalam diri. Lebih mandiri, lebih bisa mengatur waktu, dan juga lebih terbuka terhadap pengalaman baru,” ujarnya.
Namun, di tengah ritme kehidupan kota yang dinamis, ada ruang rindu yang tak pernah benar-benar terisi.
Tulungagung, bagi Luluk, selalu memiliki tempat yang berbeda di hati. Setiap kali pulang, dia merasakan suasana yang kontras dengan kehidupan di perantauan.
“Di sana semuanya terasa cepat dan penuh aktivitas. Kalau di kampung halaman, suasananya lebih tenang, hangat, dan hubungan antarwarga terasa lebih dekat,” tuturnya.
Perubahan yang dialami Luluk pun tak luput dari perhatian keluarga. Mereka melihat sosoknya kini lebih dewasa dibandingkan saat masih menempuh pendidikan sarjana.
Cara berpikir yang lebih matang hingga keberanian mengambil keputusan menjadi hal yang paling dirasakan.
Meski demikian, keluarga tetap menjadi pengingat agar ia tidak kehilangan akar. Nilai-nilai yang ditanamkan sejak kecil diharapkan tetap menjadi pegangan, meski ia telah banyak berubah selama di perantauan.
Harapan sederhana pun disematkan setiap kali Luluk pulang: meluangkan waktu bersama keluarga besar, menjaga silaturahmi, dan menunjukkan perkembangan diri yang telah ia capai.
Menyadari hal itu, Luluk berusaha menyesuaikan diri kembali dengan lingkungan lamanya.
Dia kembali menyapa tetangga, mengikuti kebiasaan keluarga, hingga larut dalam obrolan hangat yang dulu terasa biasa.
“Awalnya memang canggung, tapi lama-lama kembali nyaman. Seperti menemukan lagi bagian diri yang sempat tertinggal,” katanya.
Lebaran 2026 pun menjadi momen yang terasa lebih dalam maknanya. Tidak sekadar berkumpul, tetapi juga menjadi ruang refleksi setelah menjalani kerasnya kehidupan di tanah rantau.
Bagi Luluk, pulang kini memiliki arti yang jauh lebih luas. Bukan hanya kembali ke tempat asal, melainkan juga kembali pada nilai, keluarga, dan identitas diri.
“Pulang itu bukan sekadar kembali ke rumah. Melainkan juga kembali mengingat siapa diri kita sebenarnya, di tengah semua perubahan yang kita alami,” pungkasnya.(*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri