RADAR TULUNGAGUNG - Kesungguhan bisa menghasilkan sesuatu yang menggembirakan.
Hal ini dialami Muhammad Ikhwan Aflahul Umam yang sukses membudidayakan burung puyuh.
Kesuksesan tidak datang secara instan, namun lahir dari konsistensi dan manajemen yang kuat.
Itulah prinsip yang dipegang teguh Muhammad Ikhwan Aflahul Umam, pemuda asal Dusun Gambar, Desa Mirigambar, Kecamatan Sumbergempol, Tulungagung.
Di usianya yang masih muda, dia telah sukses mengelola peternakan burung puyuh bernama Umam Farm dengan populasi mencapai 8.000 ekor.
Kepada koran ini, Ikhwan -sapaan akrabnya- mengaku aktivitasnya itu dimulai pada awal 2021.
Saat itu, dia masih berstatus mahasiswa semester 2. Memilih puyuh bukan tanpa alasan, efisiensi tempat dan waktu perawatan menjadi pertimbangan utama agar ia tetap bisa fokus menyelesaikan studinya.
“Saya memulai usaha ini dengan 1.000 ekor burung puyuh,” katanya.
Ikhwan mengaku sangat memperhatikan kandungan protein dalam pakan guna menghasilkan telur dengan cangkang yang kuat dan gizi tinggi.
"Kuncinya adalah ketepatan waktu. Pakan harus diberikan secara konsisten, misalnya pukul 07.00 dan 16.00. Selain itu, kebersihan kandang maksimal tiga hari sekali harus dibersihkan dan disemprot desinfektan agar terhindar dari virus," jelasnya.
Baca Juga: PKS Wisata Kedaluwarsa, Pemkab Tulungagung Turunkan Target PAD Pariwisata 2026
Tak hanya mengandalkan obat kimia pabrikan, Ikhwan juga meracik obat herbal seperti mengkudu, kunir, sirih, dan jahe untuk menjaga imunitas unggasnya, terutama saat menghadapi cuaca ekstrem atau musim pancaroba yang rawan penyakit flu dan ngorok.
Strategi tersebut terbukti ampuh. Saat ini, Umam Farm mampu memproduksi rata-rata 70 kg telur per hari atau sekitar 500 kg dalam seminggu.
Hasil produksinya pun merambah berbagai pasar, mulai dari pengepul, pasar lokal, hingga distribusi kebutuhan dapur salah satu brand ternama.
"Omzet rata-rata per bulan bisa mencapai Rp 50 juta. Jika harga pasar sedang bagus di atas Rp 30 ribu per kilogram, hasilnya bisa lebih dari itu," ungkap pemuda kreatif ini.
Bahkan, limbah kotoran puyuhnya pun tidak terbuang sia-sia. Ikhwan mengolahnya menjadi pemasukan tambahan dengan menjualnya ke pabrik pupuk kompos, selain juga dibagikan kepada tetangga sekitar untuk keperluan pupuk sawah mereka.
Menatap masa depan, Ikhwan bermimpi menjadikan Umam Farm sebagai peternakan puyuh terbesar di Tulungagung.
Dia pun berpesan kepada kaum muda di Tulungagung agar tidak takut memulai bisnis dengan modal terbatas tanpa harus bergantung pada utang bank.
"Tidak ada kesuksesan usaha yang instan. Pertama harus baca target pasar, lalu konsisten, sabar, dan punya manajemen operasional yang baik. Pengusaha sukses pasti memiliki manajemen usaha yang baik," pungkasnya. (*/c1/rka)
Editor : Vidya Sajar Fitri